RIHLAH_DA’AWIYYAH – TABLIGHPRENEURSHIP

RIHLAH_DA’AWIYYAH – TABLIGHPRENEURSHIP
#MajelisTabligh_PWMSumbar_
Sabtu 250317

*****

Etape I
Zona Timur

PDM Kabupaten Dharmasraya
PDM Kabupaten Sijunjung
PDM Kota Sawahlunto

Sebuah upaya kecil MT-PWM SB, mengintrodusir, mengusung dan mengasong “Tablighpreneurship”, sejak dari wacana konseptual, pendekatan pengalaman empirik hingga praktek riel dunia kewirausahaan, terutama yang berbasis Agro-Industri.

Ide ini muncul sebagai bentuk upaya memecah kebuntuan “financial” yang sering terjadi dalam menjalankan agenda Keummatan, yaitu mewujudkan Masyarakat Yang Berkemajuan…

Alhamdulillah mendapat sambutan luar biasa dari Zona Timur. Ucapan terima kasih disampaikan khususnya kepada PDM Dharmasraya di bawah kepemimpinan Drs.H.Syafrizal Yasin, MM. Lebih khusus lagi kepada Pak Sulhan Harahap, Unsur Pimpinan PDM Dharmasraya, yang telah menyediakan fasilitas yang sangat representatif, Aula FKUB Kemenag Dharmasraya.

Terimakasih mendalam juga disampaikan kepada PDM Swl. dan PDM Sjj. yang telah mengirimkan “armada Muballighpreneur” nya dalam rangkaian pencerahan tersebut.

Etape berikutnya pada zona yang lain akan terus berlanjut, semoga lebih meriah, mencerahkan, mengokohkan dan lebih produktif….

Nashrun minallaah wa fathun Qoriib !

Advertisements

Padepokan Tinggal Puing

Di antara berbagai-bagai kesedihan yang sering dirasakan, salah satunya adalah ketika menyaksikan “padepokan” tempat kita pernah ditempa untuk menjadi manusia, tinggal puing dan rongsokan belaka.

Rasa sedih akan berlipat tatkala diketahui bahwa aset itu dulunya adalah wakaf umat yang dibangun di atas kuatnya harapan bersama, bahwa bagi pembentukan manusia kiranya memberi manfaat yang sebesar-besarnya…

Belum lama terasa, tapi sdh lebih 30 tahun agaknya, ketika kami para bocah Tsanawiyah lalu lalang di pintu itu, belajar dan bergelut nakal ala bocah kampung di ruangan di balik pintu…

Tapi apa mau dikata…
Banyak aset yang telah tersia-sia
Karena tak ada lagi tangan yg mau memelihara
Atau karena ada keberatan dari keturunan yang datang belakangan. Maka menggugatlah mereka, “… kalau memang ini tanah wakaf, apa yang dpt dipegang sebagai buktinya, kalau bukti tak ada maka ia kembali menjadi aset kami berkeluarga…”

Bangunan itu mungkin akan segera hancur
Tapi kenangan yang telah terpahatkan di sana tak mungkin pula kan terkubur…..

Asal Omong Omong Asal

 

Ketika memperkenalkan jargon ” Islam Yes, Partai Islam No” pada awal 1970-an, Nurcholish Madjid bukan ingin menegaskan bahwa ia anti Partai Islam, tapi ia i ingin memberikan “jalan tengah” terhadap dua kubu.

Kubu pertama adalah para tokoh Islam yang berkeinginan kuat untuk merehabilitasi Masyumi yang dibekukan Soekarno. Sementara kubu kedua adalah rezim Orde Baru di bawah kuasa Soeharto yang tidak mengizinkan Masyumi dihidupkan, gelora politik mesti diakhiri

“Sekarang saatnya membangun, stabilitas harus diciptakan, hiruk pikuk politik harus diredam…!” Kata Soeharto.

Maka Cak Nur tampil dengan solusinya,
“Ya silahkan bungkam Partai berideologi Islam, tapi tidak akan ada yg akan membungkam jika kita ingin menerapkan etika Islam dalam berpolitik. Kita masuk ke ranah yang melintasi dimensi simbolik, yaitu dimensi substansi makna dan sistem etis. Singkat kata, berpolitik adi luhung berbasis etika Islam…” Demikianlah kira2 kata Almarhum Cak Nur….

Saya tiba2 teringat hal ini, ketika orang “paling hebat” di negeri ini telah berfatwa bahwa tidak pada tempatnya mencampur adukkan urusan politik dengan urusan agama.

Tidak ada manfaatnya lagi membicarakan tentang siapa yang ngomong kemaren itu, apa maksudnya, apakah dia punya kompetensi keilmuan atau tidak, apakah dia paham atau tidak dengan apa yang dia omongkan. Karena kalau itu dibahas merentang panjang maka perdebatan tak akan berakhir, biasanya akan berujung pada situasi bully mem-bully…

Bermaksud mendapatkan pencerahan dari buku “A Nation in Waiting” ini, akhirnya bertemulah saya dengan apa yang dicari. Pernyataan KH. Wahab Hasbullah, salah seorang otak pendiri NU. Jangan tanya lagi soal kompetensi, kedalaman ilmu, wibawa keulamaan, Kiyai Wahab itu ada pada “maqam” yang sama dengan dengan Mbah Hasyim Asy’ari….

Itulah yang beliau katakan, seperti dikutip Adam Schwarz:

“Apabila seseorang bisa memisahkan gula dengan manisnya, maka ia akan bisa memisahkan antara agama dengan politik…”

Sekarang,
Mau memegang perkataan KH. Wahab Hasbullah, atau meributkan perkataan Si Nganu itu….?

Demikian
Selamat Pagi, Merdeka !

AYO, BERKOMENTARLAH ! JANGAN DIAM SAJA !

Demikian seorang kawan di ibukota (Jakarta) sana mendesak saya utk berperan aktif di sosial media, menyatakan dukungan terhadap salah satu Paslon Gub dalam putaran II yang tinggal beberapa hari lagi.

“Saya inikan bukan warga DKI Jakarta, jadi untuk apa saya ikut “hangky pangky” mempertengkarkan soal dukung mendukung dengan para “buzzer” yang rata2 berperilaku seperti “pitbull” itu. Diam rasanya adalah pilihan terbaik saya, karena lebih membebaskan dan menenangkan” Alasan pada kawan itu.

“Lha ! Ndak harus begitu juga kalee…! Para perantau Minang di Jakarta kan harus pula mendapat dukungan moril dari sanak keluarga di kampung perihal kepada siapa pilihan akan dijatuhkan, dukungan itu tentu akan semakin memperkuat keyakinan mereka terhadap pilihan yg telah mereka gunakan pada putaran I, Ayo pren, jangan diam saja!” Timpalnya kocak.

“Ooo, begitu…! Tapi saya tak ingin membicarakan soal kalah menang lho ya…! Saya hanya ingin berpendapat bahwa dari 1, 09 juta perantau Minang yg sdh punya hak suara yg ada di Jakarta, jika semua mereka sdh punya KTP, maka 98, 9 persen akan memberikan suaranya pada salah satu Paslon. Sekitar 0, 8 Persen akan memberikan suara pada Paslon lainnya. Sementara sisanya, karena berbagai alasan tak dapat menggunakan hak pilihnya. Jadi, dari perantau Minang saja, salah satu Paslon itu sdh punya modal suara sekitar 900 ribuan. Soal perantau Bugis/Makassar, Maluku sebelah Utara, Sunda dan sekitarnya dan sebagian besar puak Melayu Sumatra, saya tidak cukup paham siapa pilihan mereka. Tapi biasanya tidak akan berbeda dengan pilihan perantau Minang. Jadi, bagi saya sederhana saja, jika putaran ke-2 ini berjalan bersih dan Jurdil maka pilihan mayoritas Perantau Minang, dapat dipastikan akan memenangkan pertarungan…!” Jelas saya

“Jadi begitu ya, penjelasanmu itu kurang “tegas” pren, tapi lumayanlah. Masih ada tambahannya nggak…?” Tanya kawan itu kurang puas.

“Emangnya beli cabe di pasar, pake tambah2 segala… Sudah! Ini terakhir ya… saya tak sudi lagi ngomong soal ini. Bosen !

HARI-MU: Berderak Di Gandoriah !

Orang Pariaman kini, banyak yang tak menyadari betapa penting dan strategisnya daerah yang mereka diami. Inilah salah satu bandar niaga paling ramai di kawasan Pantai Barat Sumatera sejak berbilang abad, yang disebut beberapa kali oleh Tome Pires (*), seorang penjelajah Portugis, dalam Jurnal penjelajahannya “Suma Oriental” ( a Summa of the East ).

Segera setelah Kerajaan Malaka ditaklukkan Portugis (1511), penguasa Lisabon mengirim Tome Pires ke kawasan tersebut (1512 – 1515) dalam kapasitasnya sebagai seorang “ahli rempah”.

Kontestasi kekuatan di selat Malaka yang dimenangkan oleh Portugis tidaklah serta merta membuat negeri dari semenanjung Iberia itu merasa puas, maka di sinilah peran Tome Pires menjadi penting, dia diutus untuk melintasi dan memetakan kantong-kantong rempah di kawasan Pantai Barat. Karena kepentingan itulah kemudian dia tidak dapat mengabaikan peran strategis Kota Pelabuhan Niaga Pariaman.

Dia merapat di dermaga itu dan mencatatkan kesaksiannya tentang ramainya Bandar Pariaman. Dia melihat manusia dari berbagai negara berinteraksi dan bertransaksi, terutama dalam jual beli komoditas rempah-rempah seperti, lada, pala, getah kemenyam, gaharu, dlsb. Namun, nampaknya keramaian bandar itu didominasi oleh orang-orang dari wilayah Asia Barat (Arab) dan Asia Selatan (India).

Menurut cerita sebagian orang-orang tua di Pariaman, Dermaga niaga itu masih terlihat sisanya hingga akhir tahun 1930-an, sampai akhirnya hilang, seiring dengan dibuatnya pelabuhan “Emmahaven” (Teluk Bayur) oleh pemerintahan Hindia Belanda. Sejak itu,

“Pariaman Tadanga Langang”
“Batabuik Makonyo Rami”

Tetapi sudah berbeda kini,
Pariaman tak lah lengang lagi
Banyak agenda yang membuatnya selalu ramai
Banyak tempat yang menyuguhkan rasa damai.

Apalagi besok, Ahad 09/04/17, ribuan orang akan tumpah ruah di pantai Gandoriah. dalam rangka Hari ber-Muhammadiyyah (HariMu). Umat Berkemajuan dari berbagai pelosok Sumatera Barat akan berkumpul dalam suasana penuh kegembiraan.

Maka biarkanlah, satu hari besok panggung utama pantai Gandoriah akan didominasi oleh kegiatan Muhammadiyah/Aisyiyah….

Kepada semua yang datang, sempatkanlah berdiri lurus menghadap ke laut, persis di lokasi panggung utama itu. Karena memang di lurusan itulah Bandar Niaga Pariaman pernah Jaya. Bayangkanlah seolah-olah kita dilemparkan ke masa lalu, maka akan terlihatlah kesibukan sebuah dermaga, aktifitas bongkar muat dari dan ke kapal. Kapal-kapal yang sudah penuh muatan rempah-rempah segera meninggalkan pelabuhan, melanjutkan pelayaran menjelajah samudera ke Timur maupun ke Barat.

Bayangkan juga, seolah-olah kita melihat seseorang, dengan wajah khas penjelajah, topi lebar ala pelaut, dengan penuh perhatian mencatat semua aktivitas yang terjadi di bandar, sambil sesekali ia berbicara seadanya dengan orang-orang yang berasal dari berbagai bangsa. Tiba-tiba orang itu berjalan pelan ke arah kita, ia tersenyum berat, serta merta ia menyapa, “… Ya, saya Tome Pires…!”
Uppps…! 🙂

Selamat Hari Ber-Muhammadiyyah
Di Pantai Gandoriah

…………
Catatan

(*). Secara keliru Pemko Pariaman menulis “Tomic Pires” pada prasasti di tugu Angkatan Laut Pantai Gandoriah itu. Tapi biasanya, “kekeliruan” seperti itu dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Segmen “Tome Pires” ini sesungguhnya dapat menjadi peluang yang sangat baik dalam pengembangan wisata bahari bagi Kota Pariaman. Misalnya Pemko bisa bekerja sama dengan kalangan sejarawan utk membuat diorama penjelajahan Pires, yang petilasannya di Bandar Pariaman dianggap cukup penting, untuk keperluan ini dibutuhkan sebuah museum bahari yang sesungguhnya sangat layak dimiliki oleh sebuah kota kecil dengan cerita yang sangat panjang seperti Pariaman.

Bahkan masih dalam kaitan itu, Pemko Pariaman perlu memikirkan gagasan tentang “Twin City” antara Pariaman dengan Lisabon. Gagasan ini tidak mustahil bukan ?