Menapak tilas jejak Hatta

Menapak tilas jejak Hatta
Seolah merasakan masa bocah si Bung
Menatap tajam barisan bukit dari jendela belakang rumahnya. Terbetik bisik dalam hati yang bening jernih.

“… Ada apa dibalik bukit2 itu ?”
Beberapa tahun kemudian dia tidak saja tahu apa yang ada di balik bukit yang berjejar di belakang rumahnya, tapi dia juga tahu apa yang terdapat di balik hati bangsa2 terjajah, terutama bangsanya sendiri. Dia kemudian menjadi otak dan hati bagi bangsanya, untuk menjadi bangsa merdeka, berdaulat dan bermartabat…

Anak2ku dengan penuh tanya mengikuti napak tilas ini, mereka pun tahu di mana Hatta mengaji, menjalani masa bocah yang indah yang merupakan bagian awal dari rajutan kehidupannya yang panjang dan tidak ada duanya….

Allaahummaghfirlahuu warhamhuu…

ADA “KEJERNIHAN” Di manapun

“…Selamat datang para pengunjung Toko Buku …………… berhubung waktu Dzhuhur sudah masuk, kami mempersilahkan anda untuk melaksanakan shalat di mushalla yang telah kami sediakan… Terima kasih…”

Demikian bunyi seruan yang terdengar dari speaker yang terdapat di setiap sudut Toko Buku besar tersebut, suaranya lembut, bening, renyah dan bersahabat.

Di pojok lantai 2 Toko Buku itu memang terdapat sebuah mushalla yang berukuran kecil, tapi bersih, sebersih setiap jengkal ruang toko buku tersebut, dengan pendingin ruangan yang sangat suejuk dan tempat berwudhuk yang cukup bersih.

Menurut sebahagian kawan-kawan saya, toko buku ini adalah milik kelompok “minhum” (kalangan mereka), bukan milik kelompok ,”kita”, jadi tak usah dikunjungi apalagi sampai bertransaksi jual beli.

Saya tidak menjadi bagian dari pandangan tersebut, karena sangat menyederhanakan masalah, meletakkan relasi antar manusia pada “oposisi biner” , tanpa sedikitpun membuka ruang untuk opsi lain….

Saya hanya ingin mengatakan bahwa semua orang harus mempelajari sejarah dengan pikiran jernih dan hati yang terbuka, agar tidak menentang takdir Tuhan yang telah menciptakan manusia dengan segala perbedaan dan kaya warna.

Saya rasakan air yang keluar dari kran mushalla kecil Toko Buku itu sejuk dan bening, seperti air yang keluar dari “pancuran bambu” di belakang surau di kampungku.

Usai berwudhuk
Terasa kesegaran menjalar ke setiap pelosok nadi, mungkin karena kesejukan AC yang begitu terasa, atau mungkin juga karena rasa batin yang tidak mempersoalkan siapa atau kelompok mana yang telah menyebabkan Toko Buku itu ada…

Sudahlah,
Saya ingin “fana” dalam dekapan-NYA…
dengan Takbir, ku mengemis Kasih-NYA….
Allaahu Akbar !

“FITNAH” Akhir Tahun

Sungguh teramat mengagetkan
Ketika pagi ini seorang kawan mengirimkan sebuah info, yang sebenarnya tak perlu diungkap ke publik

Kalau dicermati, informasi tersebut tidak akan memberikan dampak positif, bahkan malah dapat menimbulkan kegaduhan, kepanikan, ketakutan massal, bahkan dapat memantik terjadinya Revolusi Sosial. Yang pasti, ia dapat menggoncang stabilitas rezim yang tengah berkuasa.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, diharapkan kepada aparat keamanan untuk dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, apalagi pergantian tahun sudah sangat dekat.

Lakukanlah pendekatan kekeluargaan, persuasif dan bersahabat kepada pihak-pihak yang terus menerus menyebar luaskan berita tersebut, jika ini terus dibiarkan, maka saya khawatir akan terjadi huru-hara dan Fitnah Besar.

Intinya, informasi itu menegaskan bahwa apabila dalam pergantian tahun 2016 ke 2017, para “Pria Dewasa” masih saja “Menjomblo”, maka mereka akan “Disunat Ulang” …

Berita ini
Sungguh menakutkan