Selamat Jalan Buya Kami ABUYA SYAIKH ALI IMRAN HASAN (Syaikh Ringan-Ringan)

 

Salah satu tanda kebesaran seorang ‘Alim (Ulama) adalah keberhasilannya mendidik para santrinya, baik dari sisi karakter dan kepribadian maupun dalam hal ketuntasan ilmu.

Abuya Syaikh Ali Imran Hasan, pendiri Pondok Pesantren Ringan-Ringan, adalah sosok Ulama dalam kategori tersebut.

Syarat ‘Alim saja tidaklah cukup utk menjadi pendidik yang baik. Keikhlasan, rasa cinta dan kasih sayang kepada para murid, kemandirian, tawadhu’ serta tawakkal adalah “kompetensi batin” yang harus dimiliki oleh seorang Alim yang pendidik.

Semua persyaratan itu dimiliki oleh Abuya Syaikh Ali Imran Hasan. Dengan penuh kesabaran dan kesungguhan, beliau membangun PP. Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Panjang perjuangan yang beliau tempuh untuk bisa membuat PP NY menjadi seperti sekarang.

Setelah meletakkan dasar-dasar yang menjadi kekuatan utama sebuah pesantren, mencetak santri2 hebat yg tersebar di berbagai wilayah Sumbar bahkan di luar propinsi, sebagian alumni pesantren sdh banyak pula yg menjadi Ulama maupun berkiprah secara kompetitif dalam bidang2 kehidupan yang lain. Datanglah saatnya Abuya “Istirahat”

Pagi ini menjelang Subuh, Rabu 12/04/17, Buya telah dipanggil ke Hadhirat-NYA dengan jiwa yang tenang, setelah beberapa lama dalam perawatan

Beliau diberikan usia yang panjang dan berkah. Berusia lebih 90 tahun tapi tetap dapat membaca Al-Qur’an tanpa menggunakan kacamata, sesuatu yg selalu beliau lakukan hingga menjelang akhir hayatnya

INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI’UUN !
Selamat Jalan Buya Kami

ABADINYA PERSAHABATAN: HAMKA & HASMI

Gagasan besar maupun misi strategis yang dimiliki seseorang tidak akan dapat diwujudkan jikalau tidak ada sahabat yang senafas sepikiran, seide sehati, tak goyah dikala susah, tak jumawa tatkala jaya.

Persahabatan seperti itu tidak akan dapat muncul di atas basis kesementaraan, sasaran jangka pendek, berorientasi pada capaian2 materi, pada kontestasi raihan kuasa dan wibawa.

Ketika Nabi membentuk lingkaran persahabatan, yang terdiri dari orang-orang dengan strata sosial paling rendah di tanah Mekah hingga kelas sosial tertinggi, tak pernah dijanjikan kepada mereka akan meraih posisi apa, dan akan mendapatkan apa. Nabi “hanya” mengatakan bahwa mereka telah mendapatkan legitimasi tertinggi dari yang Maha Memiliki. Tuhan telah “mengakui” mereka melalui Kalam-Nya:

“….Radlhiyallaahu ‘anhum wa radlhuu ‘anhu…”
(Allah meredhai mereka dan mereka redha dengan (segala Janji dan Keputusan) Tuhan-nya).

Dikemudian hari, para sahabat itu mendapatkan sebutan yang teramat mulia, dan tak kan terhapuskan, yaitu “Radhiyallaahu ‘anhu”, dalam abjad latin sering disingkat menjadi “R.A”, yang dipahatkan di ujung namanya.

JLN HAMKA

Memang begitu, hanya simpul ideologi, dataran spiritual dan pahit derita perjuangan yang dapat menciptakan persahabatan yang tak kan teruraikan oleh kekuatan apapun, bahkan “tirani” waktu pun tak dapat menghapusnya.

Begitulah Nabi dengan para sahabatnya, demikian juga orang-orang besar lainnya, hal yang sama pun dipraktekkan oleh sosok termasyhur, HAMKA.

Hamka mempunyai begitu banyak sahabat dalam berjuang, di mana-mana medan perjuangan ia gumuli, di sana muncul sahabat ideologis yang selalu mendampingi.

Demikianlah sejatinya, sejak dikampung halamannya, hingga merantau ke Deli, merambah ke Sulawesi, meretas ke Kalimantan, mengharu biru di tanah Jawa hingga “meneruka” benteng perjuangan di Jakarta, Al-Azhar namanya di Kebayoran Baru tempatnya, Hamka dikelilingi para sahabat yang selalu setia bersamanya. Bukan mengharap benda, kuasa dan wibawa, tapi karena diikat seutas tali yang sama, Ideologi, misi dan strategi.

Tidak banyak yang tahu bahwa salah seorang Sahabat Hamka itu adalah seorang anak muda yang berasal dari Kuraitaji, sebuah nagari yang terletak dalam gugus kawasan pantai barat pada titik Rantau Pariaman, nama anak muda itu Haji Sidi Muhammad Ilyas (Hasmi).

Terpaut usia dua tahun, (Hamka lahir 1908, Hasmi 1910), keduanya menjalani masa penting dan genting dalam perjuangan. Hamka seolah menjadikan rumah Hasmi (terletak dekat simpang Basoka Kuraitaji, kini kantor BPR La Mangau) seperti rumahnya sendiri, demikian juga anak2 Hasmi dia perlakukan seperti anaknya sendiri, dia bertetiduran, bercanda dan bergurau di rumah itu, dengan Hasmi dan anak-anaknya.

Banyak hal yang membuat persahabatan indah itu tercipta, ada aspek ikatan ideologis yang disebutkan di atas tentunya, aspek perjuangan Hasmi sendiri yang telah menjadikan Kuraitaji sebagai mitra sejajar Padang Panjang dalam meluaskan paham modernisme Muhammadiyah di ranah Minang. Tapi mungkin ada hal yang tidak kalah pentingnya, yaitu Hamka ingin merasakan bagaimana hembusan angin, tawarnya air yang diminum, pecah di lidahnya nasi yang dimakan, sungai-sungai yang mengalir jernih, deburan ombak yang tak pernah henti bergerak yang menjadi inspirasi bagi anak-anak yang tumbuh di sepanjang ombak yang berdebur itu. Hamka ingin berketerusan mencecahkan kakinya di wilayah hebat dan penuh cerita itu.

JLN

Setiap berada di Kuraitaji, dia merasa seperti pulang ke rumah sendiri, bukan hanya karena merasa telah menyatunya hati dengan Hasmi, tapi juga tentang imajinasinya yang tak pernah mati, tentang kakeknya yang berasal dari Pauh Pariaman (Sebagai yang ia ceriterakan dalam “Ayahku” itu), tentang dinamika dan gejolak keagamaan yang menjadi salah satu faktor moyangnya pergi “larat” ke wilayah Luhak dan menepat di salah satu titiknya, Maninjau ia bernama.

Begitulah, Hamka telah menjadikan Kuraitaji menjadi rumah keduanya, keluarga Hasmi tepatnya. Sama dengan posisi Kuraitaji sendiri, yang telah menjadi episentrum kedua bagi berkecambahnya Muhammadiyah di titik Rantau pantai Barat Pariaman dan sekitarnya.

Lalu, tentang persahabatan itu ?
Dia telah meningkat maqamnya menjadi bagian dari keluarga, tak lagi pada ranah persahabatan belaka. Hamka menjadi saksi bagi perkawinan anak Hasmi di rumah Kuraitaji itu, bahkan memberi nama pada cucu Hasmi yang lahir berkepiritan.

Anak-anak Hasmi juga menjadi orang-orang pandai dan cerdas, berperan dalam berbagai ranah kehidupan. Salah seorang putri kinasih Hasmi, kelak menjadi istri satu-satunya Tarmidzi Taher, salah satu mata rantai Menteri Agama RI.

Persahabatan monumental itu, memang tak kan tersirnakan oleh waktu. Kini kedua nama itu (Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Hamka. Haji Sidi Muhammad Ilyas, Hasmi) diabadikan menjadi nama Jalan.

Jalan Prof.Dr. Hamka, adalah salah satu jalan protokol di kota Padang, ada kebanggaan bagi individu dan lembaga yang berdomisili di jalan ini. Salah satunya adalah Universitas Negeri Padang (UNP), setiap menyebut nama itu ada inspirasi yang muncul dan spirit yang hidup, ada semangat untuk menjaga nama itu agar digunakan utk hal2 yang tepat dan pantas, semangat itu muncul begitu saja.

Suatu waktu seorang tua, usianya sudah 70-an, menyampaikan protes, keluh dan kesalnya pada saya. Pasalnya, ada sebuah “kedai kopi” yang terletak di kawasan Jalan itu bernama “Kedai Kopi Hamka”. Begitu cara orang tua itu menghormati nama “Hamka”, sehingga menurut pendapatnya nama itu tak layak untuk sekedar dijadikan sebagai nama kedai kopi. Lain pula mentaginya bapak itu.

Tapi orang tua itu mungkin ada benarnya juga, bagaimana kalau seandainya nanti, dengan perkembangan kota yang begitu pesat, kemunculan berbagai bangunan di Jalan utama ini tentu tak terelakkan. Mungkin nanti akan ada “Hamka Supermall”, atau “Hamka Showroom” atau mungkin “Hamka Fitnesscenter””. Nama2 seperti itu tentu tidak akan menimbulkan masalah. Namun tidak mustahil nanti investor membuat tempat hiburan terpadu, lalu diberi nama “Hamka Discotique”. Baru mantap !

Berbeda dengan Jalan Haji Sidi Muhammad Ilyas (Hasmi). Jalan ini begitu damai permai dan alami, seolah menyiratkan karakter Hasmi yang Lurus, hanif namun cenderung pendiam. Jalan ini terletak di lingkar pinggir kota kecil Pariaman, di sebuah desa bernama Padang Cakua. Tidak ramai, tapi memang terkesan permai. Suasananya bersih, sepanjang jalan sawah luas terbentang kiri dan kanan. Jalan ini menjadi penting karena di salah satu sisinya berdiri pabrik pupuk yang memproduksi 100 ton per hari pupuk berbagai jenis. Pabrik pupuk ini bernama “Suwarni Agro Utama”. Suwarni adalah salah seorang Putri Hasmi, dia berinvestasi dalam ranah Agro Industri. Beliau juga sudah Almarhumah, kini pabrik ini terus berkembang digerakkan oleh anak cucu Hasmi.

Maka abadilah persahabatan itu, keduanya telah kembali menghadap Tuhannya. Tapi namanya telah dipahatkan dengan penuh kehormatan. Sesungguhnya kita tak pernah benar-benar merasa kehilangan. Pada jejak yang mereka tinggalkan ada semangat yang tak kan terhapuskan, mereka seperti menatap penuh suka, karena peninggalan mereka tak terhapuskan Sang Kala.

Saya sandingkan nama kedua jalan ini, seolah di sisi tiang nama itu keduanya tegak berdiri. Tersenyum, tersenyum lagi, wibawanya menyinari, memantik inspirasi yang tak kan pernah mati…..

Wallaahu A’lam.

Telah juga diterbitkan oleh Website Jejak Islam untuk Bangsa

Dr. H.A.K: Amrullah Ulama Penakut

Di bawah pengawasan para sedadu, dengan sangkur di ujung senjatanya, dan bayonet panjang menggantung di pinggangnya, semua yang hadir di ruangan itu sdh berdiri tegak, menghadap ke Timur.

Bersiap menunggu aba-aba untuk membungkukkan badan, sebuah ritual rutin dan sudah menjadi Protap (Protokoler Tetap) yang diciptakan tentara pendudukan Jepang di Indonesia. Ritual tersebut bersifat wajib dalam setiap kegiatan resmi. Membungkukkan badan ke arah matahari terbit sebagai persembahan kepada Kaisar Tenno Haika, Sang Titisan Dewa Matahari, “Seikeirei”.

Bahkan, Soekarno pun adalah sosok yang tak pernah ragu untuk melakukan “ibadah” tersebut, sebagai bentuk penghormatan dan keta’atan terhadap pemerintahan Jepang.

Tetapi di deretan kursi terdepan, ada seseorang yang tetap duduk di tempatnya, dia tidak mau berdiri seperti yang lainnya, tak sedikitpun terlihat rasa takut di wajahnya. Kekhawatiran malah muncul dari orang-orang yang ada di ruangan tersebut, khawatir karena sesuatu yang buruk dapat saja terjadi pada Orang Tua itu.

Ritual sudah usai, acara berjalan terus, sementara Orang Tua tadi dengan penuh percaya diri dan keyakinan yang tak tergoyahkan, tetap duduk dengan tenang.

Setelah pertemuan selesai, seorang petinggi militer Jepang terlihat menghampiri Sang Orang Tua, terjadi pembicaraan yang serius antara keduanya. Tidak ada yang tahu persis apa yang dibicarakan, namun dikemudian hari banyak yang menyaksikan bahwa Orang Tua tersebut mendapat penghormatan yang tinggi dari pemerintah pendudukan Jepang….

Ya, dialah Syaikh Abdul Karim Amrullah, atau HAKA, atau Inyiak De-Er, atau Haji Rasul, salah seorang Alim Besar (‘Allamah) tanah Minang awal abad ke-20, murid kinasih Syaikh Ahmad Khatib Al-Syafi’i Al-Minangkabawy di tanah Makah.

Peristiwa yang terjadi di Bandung sekitar tahun 1943 itu, hanya ingin menegaskan sebuah pesan bahwa Ulama adalah sosok yang “penakut”. Merekalah yang dapat mengekspresikan bagaimana dan kepada siapa rasa takut itu “digadaikan” secara utuh.

Kepada Allah !
Akibat kelakuan Ulama yang seperti itu, rasa takutnya kepada yang lain sudah tidak ada. Baginya sdh tidak ada bayonet yang tajam dan peluru yang mematikan, karena ketakutannya sudah tergadai habis kepada Yang Paling Berhak Untuk Ditakuti

Hamka kemudian menulis,
Keberanian dan keistiqamahan para Ulama itulah yang telah menjadi unsur teramat penting didalam membangkitkan “Nasionalisme Indonesia”…