Terpikat Cak Nur (4)

“Tidak bisa dipahami bahwa “subul” itu adalah bermakna jalan-jalan keselamatan, karena jalan keselamatan itu hanya satu, itupun ditegaskan dalam al-Qur’an,

Wa anna haadzaa shiraathii mustaqiiman fa ttabi’uuhu wa laa tattabi’u al-subula fa tafarraqa bikum ‘an sabiilihi….” (6: 153)
[Ustadz Daud awalnya membaca “…’an diinihi”, kemudian diingatkan Cak Nur bahwa yang betul adalah “…’an sabiilihi]

Continue reading “Terpikat Cak Nur (4)”

Terpikat Cak Nur (3)

Ada dua kekuatan terpenting yang dimiliki Cak Nur, tidak banyak kalangan intelektual lain memiliki hal serupa. Pertama, dia mempunyai kekuatan argumentasi (rasikh fi al-hujjah) pada setiap persoalan yang dia lontarkan, tidak ada ucapan dan ungkapannya yang tidak berbasis pada literatur, semua dapat ditelusuri pada sumber-sumber klasik yang “berat”, baik dari Timur maupun yang berasal dari Barat. Tetapi hal ini juga dijadikan sebagai sasaran tembak oleh para penyerangnya, bahwa ternyata Nurcholish itu hanya ahli dalam mengutip-ngutip saja. Dari atas mimbar Cak Nur sempat mengeluhkan itu,

“Terkadang saya sering merasa serba salah, ketika saya mengemukakan kutipan-kutipan saya, dikatakan kok bisanya ngutip-ngutip saja. Ketika tidak ada kutipan juga dipertanyakan sumbernya dari mana, kan repot jadinya…” keluh Cak Nur.

Continue reading “Terpikat Cak Nur (3)”

Terpikat Cak Nur (2)

Rupanya Ridwan Saidi sedang berbicara tentang Palestina, dia menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan kompleks al-Aqsha al-Syarif, tentang Dome of Rock, tentang upaya pemerintahan Zionis Israel untuk mengaburkan posisi yang sebenarnya dari situs-situs peninggalan Islam di tanah suci Yerussalem itu. Tapi ada penjelasan yang disampaikan itu tidak tepat menurut Cak Nur, lalu dia menginterupsi. Sedikitpun interupsi itu tidak mempengaruhi Ridwan Saidi, dia terus saja berpidato berapi-api, sambil sesekali massa meningkahinya dengan pekik takbir, Allaahu Akbar !

Continue reading “Terpikat Cak Nur (2)”

Terpikat Cak Nur

Sekali waktu, dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta, transit di Soetta International Airport, menuju Padang. Ada jeda sekitar satu setengah jam untuk menunggu boarding. Saya kemudian memanfaatkannya untuk menikmati suasana bandara, sambil sesekali bertemu kawan-kawan yang juga tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba, di salah satu lorong menuju ruang tunggu, saya melihat ada poster-poster berukuran besar yang dipajang di kiri kanan koridor, poster tokoh-tokoh inspiratif dari berbagai bidang, di antara mereka ada yang sudah meninggal dan ada pula yang masih menjadi “living legend”. Tampaknya sebuah majalah ternama sedang melakukan pameran promosi dengan menampilkan poster tokoh-tokoh hebat yang pernah menjadi ilustrasi dan laporan utamanya.

Continue reading “Terpikat Cak Nur”