J.A.Y.A.K.A.R.T.A Telah kembali

 

Selamat datang para Pejuang

Jayakarta telah kembali dalam genggaman

SPIRIT FATAHILLAH Kuat bergema
Demi merebut kembali “Sunda Kelapa”

Semua barisan pemenang, bercerminlah pada perilaku “Al-Fatih” tatkala merebut Konstantinopel….

Dengan penuh damai dan sukacita
Al-Fatih berparade ke tengah kota
Langkahnya terhenti di halaman Aya Sophia
Rumah ibadah terbesar kaum Nashara

Di tengah bangunan megah dan sakral itu
Dia menyerukan sesuatu yang pernah diucapkan Nabi dahulu dalam peristiwa “Fathu Makkah”…..

“……Hari ini tidak ada dendam atas kalian. Kami menjamin kebebasan kalian dalam berkeyakinan. Kehormatan dan darah kalian ada dalam perlindungan kami. Gereja Aya Sophia yang agung ini, tetaplah kalian miliki..”

Al-Fatih menyerukan itu sambil menggendong seorang bocah Nasrani, yang tersenyum nyaman dalam pangkuannya (Feth 1453).

Jayakarta adalah miniatur Indonesia
Peradaban dan ketangguhan negeri harus dibangun di sini, dengan hati, menjunjung tinggi nilai-nilai manusiawi, dan dengan merangkul semua unsur anak negeri…..

Selamat !
Mari membangun peradaban…..

Alhamdulillah
Wallaahu Akbar
19042017….

Bersama Para Guru Pada Suatu Malam

 

Tidak semua realitas yang kita saksikan memang demikian adanya. Adakalanya sebuah peristiwa terjadi “by design”, dan realitas yang terlihat sesungguhnya adalah semu. Inilah yang diistilahkan oleh Ajengan Dr. Haidar Nasir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, sebagai realitas “Simulacra”.

Ada sementara kalangan yang dengan mudah sekali menyimpulkan sebuah peristiwa yang dilihat dari tempatnya “berdiri” saja, padahal yang sesungguhnya terjadi jauh lebih rumit dan “complicated” dari yang dilihat.

Perbincangan malam itu di sebuah lobby hotel dengan para Tuan Guru, Prof.Dr.KH. Yunahar Ilyas (Ketua PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Saksi Ahli kasus penistaan agama), Dr.KH. Agung Danarto (Sekjen PP Muhammadiyah), KH, Fathurrahman Kamal, Lc. M.Si. (Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah), telah memberikan “lanskap baru” dalam menganalisis berbagai kejadian di negeri ini. Seringkali berbagai kejadian itu dimainkan oleh aktor2 yang tidak bersedia muncul kepermukaan, namun peran yang dia mainkan melebihi peran siapapun yang muncul di ruang terbuka.

Sayangnya pembicaraan2 dengan para Guru ini, terutama dengan KH. Fathurrahman Kamal, bersifat “off the record”, terutama menyangkut berbagai peristiwa yang terjadi akhir2 ini, lebih utama lagi menyangkut kontestasi politik Pilgub di Ibu kota….

Nashrun minallaah wa fathun qoriib…. !
Wallaahu A’lam bissawaab

Kibaran Bendera Ha-Te

Pagi ini secara kebetulan melihat iring2an mobil dan motor dengan kibaran benderanya, sama2 bergerak menuju pusat kota Padang, namun dengan tujuan yang berbeda.

Kelihatannya mereka adalah rombongan “Hizbuttahrir”. Kehadiran kelompok ini dalam jagad keislaman Indonesia bagaimanapun telah melahirkan respon pro kontra. Yang kontra bahkan memperlihatkan respon resisten secara demonstratif dengan berlaku “tidak elok” terhadap bendera yg menjadi simbol khas kelompok ini.

Sikap reaktif yg berlebihan terhadap kemunculan kelompok2 seperti HT ini tidak akan menghasilkan apa-apa selain berkecambahnya radikalitas yang memperkosa simbol-simbol agama.

Langkah terbaik sesungguhnya pernah digagas oleh rektor Universitas Al-Azhar Kairo tahun 1950-an Syaikh Mahmud Syaltut. Syaltut tampil dengan satu pandangan bahwa adalah tidak mungkin umat Islam memperoleh keuntungan dari sikap saling menafikan di antara sesama kelompok yang muncul itu. Yang paling tepat adalah, semua kelompok2 itu harus punya agenda untuk saling memahami dan saling mendekat. Hal itu sgt mungkin dicapai karena berbagai kelompok itu sesungguhnya punya tujuan yg sama, namun dengan strategi yang berbeda.

Demi mewujudkan gagasan ini, Syaltut kemudian mendirikan sebuah lembaga bernama

“Dar al-Taqrib bain al-Madzahib al-Islamiyya”
(Institut Saling Mendekatkan Antar Madzhab Dalam Islam)

Gagasan Syaltut tersebut hingga kini dipelihara di Al-Azhar Kairo. Memang tidak mudah mewujudkannya. Tapi tidak pula mustahil untuk merealisasikannya…

Bisakah kita di republik ini
Mempraktekkan gagasan itu…

Parade kendaraan berbendera itu terlihat melintasi gerbang kota. Kendaraan yang kami tumpangi pun demikian pula.

Bendera mereka terlihat berkibar gagah
Mereka juga punya cita-cita Agung terhadap Islam dan umatnya

Ibu Djusma Ilyas IN MEMORIAM

“…Bapak yang langsung mendatangi dan meminta kepada Prof.Dr. Abdul Aziz Dahlan agar bersedia menjadi Rektor IAIN Imam Bonjol Padang. Ketika itu Pak Aziz tidak bersedia memenuhi permintaan itu. Maka Pak Tarmidzi kemudian dengan tegas mengancam,

” Kalau ndak amuah Pak Aziz jadi rektor, bialah Tarmidzi ko baranti jadi Mantari…!”

(Kalau Pak Aziz tak bersedia jadi rektor, biarlah Tarmidzi ini berhenti jadi menteri)

Setelah mendapat ancaman “serius” itu barulah Pak Aziz bersedia memenuhi permintaan Pak Tarmidzi untuk menjadi rektor IAIN Imam Bonjol Padang….”

Begitu sekelumit perbincangan kami dengan Ibu Djusma ketika bersilaturrahim ke rumah kediamannya di Komplek Puri Cinere Depok pada bulan Januari 2017 lalu. Saat itu Ibu terlihat sehat dan segar, tapi memang agak susah dan berat ketika berjalan, ia terlihat kelebihan bobot.

Tapi beberapa hari lalu salah seorang anggota keluarga besarnya menyampaikan bahwa Ibu Djusma telah “Berpulang” (01/04/17) di RS Puri Cinere dalam usia 76 tahun, persis sama dengan usia suaminya, Tarmidzi Taher, saat meninggal tahun 2013 lalu.

INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI’UUN

Selamat jalan Ibu
Semoga Husnul Khatimah
Dan berkumpul kembali dengan suami tercinta di Surga….

………
Catatan

Pilihan Menteri Agama RI Tarmidzi Taher ketika itu (1993-1998), untuk meminta Prof. Abdul Aziz Dahlan menjadi rektor IAIN IB, adalah pilihan yang tepat.

Kami sebagai mahasiswa ketika itu merasa bangga dengan kepemimpinan Prof. Aziz, karena beliau sebelumnya adalah salah seorang Guru Besar asal Minang yang sangat disegani di lingkungan IAIN Syahid Ciputat. Bersifat kebapakan, berbicara lembut, sangat mendalam pada bidang keilmuannya, tapi disegani dan dipandang berhasil dalam menakhodai IAIN IB Padang.

Pasca Kepemimpinan Prof. Abdul Aziz Dahlan, IAIN IB Padang banyak mengalami kegaduhan dan prahara….

Padepokan Tinggal Puing

Di antara berbagai-bagai kesedihan yang sering dirasakan, salah satunya adalah ketika menyaksikan “padepokan” tempat kita pernah ditempa untuk menjadi manusia, tinggal puing dan rongsokan belaka.

Rasa sedih akan berlipat tatkala diketahui bahwa aset itu dulunya adalah wakaf umat yang dibangun di atas kuatnya harapan bersama, bahwa bagi pembentukan manusia kiranya memberi manfaat yang sebesar-besarnya…

Belum lama terasa, tapi sdh lebih 30 tahun agaknya, ketika kami para bocah Tsanawiyah lalu lalang di pintu itu, belajar dan bergelut nakal ala bocah kampung di ruangan di balik pintu…

Tapi apa mau dikata…
Banyak aset yang telah tersia-sia
Karena tak ada lagi tangan yg mau memelihara
Atau karena ada keberatan dari keturunan yang datang belakangan. Maka menggugatlah mereka, “… kalau memang ini tanah wakaf, apa yang dpt dipegang sebagai buktinya, kalau bukti tak ada maka ia kembali menjadi aset kami berkeluarga…”

Bangunan itu mungkin akan segera hancur
Tapi kenangan yang telah terpahatkan di sana tak mungkin pula kan terkubur…..