Padepokan Tinggal Puing

Di antara berbagai-bagai kesedihan yang sering dirasakan, salah satunya adalah ketika menyaksikan “padepokan” tempat kita pernah ditempa untuk menjadi manusia, tinggal puing dan rongsokan belaka.

Rasa sedih akan berlipat tatkala diketahui bahwa aset itu dulunya adalah wakaf umat yang dibangun di atas kuatnya harapan bersama, bahwa bagi pembentukan manusia kiranya memberi manfaat yang sebesar-besarnya…

Belum lama terasa, tapi sdh lebih 30 tahun agaknya, ketika kami para bocah Tsanawiyah lalu lalang di pintu itu, belajar dan bergelut nakal ala bocah kampung di ruangan di balik pintu…

Tapi apa mau dikata…
Banyak aset yang telah tersia-sia
Karena tak ada lagi tangan yg mau memelihara
Atau karena ada keberatan dari keturunan yang datang belakangan. Maka menggugatlah mereka, “… kalau memang ini tanah wakaf, apa yang dpt dipegang sebagai buktinya, kalau bukti tak ada maka ia kembali menjadi aset kami berkeluarga…”

Bangunan itu mungkin akan segera hancur
Tapi kenangan yang telah terpahatkan di sana tak mungkin pula kan terkubur…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s