Sang Raja TELAH TIBA

Raja tlah tiba, Raja tlah tiba

Horre, Horre, Horre….!

Rapatkanlah barisanmu…
Kuatkanlah Ukhuwwahmu…!

Raja tlah tiba, Raja tlah tiba
Hatiiku gembira…..!
….

Demikian seorang kawan me-rearansir secara kreatif lirik lagu anak2 populer berjudul “Libur Tlah Tiba” yang dipopulerkan Tasya Kamila, yang sekarang tidak anak2 lagi.

Sambil makan siang, kawan tadi terus saja berdendang “Raja Tlah Tiba” dengan wajah riang dan lucu, tak mau kalah menggemeskan dari Tasya…

Tak jelas benar, apa yang membuat kawan ini begitu gembira, padahal bertemu Raja Salman tak lah mungkin, bersalaman dan bertatap muka lebih tidak mungkin lagi, itu sama saja halnya dengan “Pungguk merindukan Pluto”.

Ketika sebuah pertanyaan diajukan kepadanya, tentang kegembiraannya yang hebat itu, dia menjawab tanpa ragu,

“Tentu kita harus gembira kawan, karena yang datang itu adalah “Khaadimul Haramain” (Pelayan dua tanah suci), dialah Juru Kunci Ka’bah yang menjadi kiblat kita semua, dialah pemilik pusat poros bumi, dialah yang ditakdirkan menjadi penerus Nabi dalam merawat dan melindungi keagungan tanah suci……!”

Dengan menggebu2 kawan kita ini terus menjelaskan kehebatan dan kebesaran Sang Raja, dia sampaikan semua itu dengan tanpa ragu.

Dengan berterus terang saya menyatakan setuju dengan penjelasan kawan itu, walaupun pada bagian tertentu saya menyatakan ragu.

“….tapi, berkaitan dengan kunjungan Sang Raja ini, saya ingin menyatakan satu hal padamu kawan, yaitu bahwa bagi Sang Raja, Indonesia negeri kita ini, tidaklah lebih penting dan lebih strategis dibanding negara Israel, sebuah negara Rasialis-Kolonialis-Zionis yang siang malam kita kutuk dan kita laknati dalam untaian doa-doa kita yang selalu berurai air mata, karena perih pedih dan remuk redamnya hati kita merasakan luka derita yang dialami bangsa Palestina, terutama Jalur Gaza…..! Kawan, maafkan saya jika engkau tidak berkenan…”

Kawan tadi terdiam, mendengar apa yg saya kemukakan, mulutnya yg sedang lahap2nya mengunyah makan siang, tiba-tiba berhenti. Matanya menatap lekat ke wajah saya, cukup lama. Kami sama2 terdiam beberapa saat.

Sejenak kemudian, kami melanjutkan makan siang yang masih menyisakan beberapa biji pete dan sekitar tiga keping jengkol…

Setelah semua yang tersisa itu tandas tak berbekas, kami lalu memberikan ” laporan akhir” kepada sang kasir. Kamipun kemudian kembali ke tempat kerja untuk menuntaskan bengkalai yang belum usai.

Anehnya, kawan ini masih terus bernyanyi sepanjang jalan kembali,

Raja tlah tiba
Raja tlah tiba
Hatiiku gembira…..!

Bersamaan dengan itu
Azan zhuhur berkumandang syahdu
Dari mesjid “Empat Menara”.

……
Wallaahu A’lam !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s