Dr. H.A.K: Amrullah Ulama Penakut

Di bawah pengawasan para sedadu, dengan sangkur di ujung senjatanya, dan bayonet panjang menggantung di pinggangnya, semua yang hadir di ruangan itu sdh berdiri tegak, menghadap ke Timur.

Bersiap menunggu aba-aba untuk membungkukkan badan, sebuah ritual rutin dan sudah menjadi Protap (Protokoler Tetap) yang diciptakan tentara pendudukan Jepang di Indonesia. Ritual tersebut bersifat wajib dalam setiap kegiatan resmi. Membungkukkan badan ke arah matahari terbit sebagai persembahan kepada Kaisar Tenno Haika, Sang Titisan Dewa Matahari, “Seikeirei”.

Bahkan, Soekarno pun adalah sosok yang tak pernah ragu untuk melakukan “ibadah” tersebut, sebagai bentuk penghormatan dan keta’atan terhadap pemerintahan Jepang.

Tetapi di deretan kursi terdepan, ada seseorang yang tetap duduk di tempatnya, dia tidak mau berdiri seperti yang lainnya, tak sedikitpun terlihat rasa takut di wajahnya. Kekhawatiran malah muncul dari orang-orang yang ada di ruangan tersebut, khawatir karena sesuatu yang buruk dapat saja terjadi pada Orang Tua itu.

Ritual sudah usai, acara berjalan terus, sementara Orang Tua tadi dengan penuh percaya diri dan keyakinan yang tak tergoyahkan, tetap duduk dengan tenang.

Setelah pertemuan selesai, seorang petinggi militer Jepang terlihat menghampiri Sang Orang Tua, terjadi pembicaraan yang serius antara keduanya. Tidak ada yang tahu persis apa yang dibicarakan, namun dikemudian hari banyak yang menyaksikan bahwa Orang Tua tersebut mendapat penghormatan yang tinggi dari pemerintah pendudukan Jepang….

Ya, dialah Syaikh Abdul Karim Amrullah, atau HAKA, atau Inyiak De-Er, atau Haji Rasul, salah seorang Alim Besar (‘Allamah) tanah Minang awal abad ke-20, murid kinasih Syaikh Ahmad Khatib Al-Syafi’i Al-Minangkabawy di tanah Makah.

Peristiwa yang terjadi di Bandung sekitar tahun 1943 itu, hanya ingin menegaskan sebuah pesan bahwa Ulama adalah sosok yang “penakut”. Merekalah yang dapat mengekspresikan bagaimana dan kepada siapa rasa takut itu “digadaikan” secara utuh.

Kepada Allah !
Akibat kelakuan Ulama yang seperti itu, rasa takutnya kepada yang lain sudah tidak ada. Baginya sdh tidak ada bayonet yang tajam dan peluru yang mematikan, karena ketakutannya sudah tergadai habis kepada Yang Paling Berhak Untuk Ditakuti

Hamka kemudian menulis,
Keberanian dan keistiqamahan para Ulama itulah yang telah menjadi unsur teramat penting didalam membangkitkan “Nasionalisme Indonesia”…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s