Warisan Ulama

Salah satu kebahagian tertinggi yang sering saya rasakan adalah tatkala melihat tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU duduk bersama dan melontarkan senyum bersama.

Sungguh, ketika melihat senyum mereka saya seperti melihat senyum dan masa depan Indonesia

Beberapa hari lalu saya kembali merasakan kebahagian itu, tanpa sengaja bertemu foto ini di sebuah portal berita yang tak pernah terjebak dalam arus “hoax” ataupun menyebarkan kebohongan. Oleh karena itu saya sampai pada tingkat Haqqul yaqin bahwa momen dalam foto ini bukanlah hasil rekayasa dari kecanggihan tekhnologi digital.

Di tengah adalah KH. Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI Pusat), sebelah kanannya Dr.H.Haidar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah) dan di kirinya Prof.KH.Said Aqil Siradj (Ketua Umum Tanfidzhiyah PB NU)

Sejatinya, Muhammadiyah dan NU itu adalah “two side of one coin” (dua sisi dari satu mata uang), keduanya tidak mungkin saling menegasikan. Hal itu karena keduanya tidaklah mungkin untuk berkompetisi demi merebut kemenangan dan mengalahkan yang lainnya.

Keduanya seperti legenda kawan seperguruan, yang bertarung sehabis tenaga, tapi tak pernah bisa saling mengalahkan. Kini harapan dan kesadaran baru terbit kembali, keduanya bersiap menata shaf yang lurus dan rapi, bergerak menuntaskan tugas kesejarahan bersama, membuat Indonesia Jaya.

Demikianlah, seorang santri muda menghadap kepada gurunya di Pesantren Tebu Ireng Jombang. Sang santri agak resah karena di kampungnya Kauman Yogyakarta muncul seorang Ulama Muda yang baru pulang belajar dari Mekkah bernama Ahmad Dahlan.

“Romo Kiyai, izinkan saya menyampaikan sesuatu, di Kauman telah muncul seorang muda yang mengajarkan Islam dengan cara yang berbeda dari cara yang selama ini kita kenal…” Ta’dzhim sang santri kepada Romo Kiyainya.

“… siapa orang itu nak, jelaskanlah “. Jawab Romo Kiyai lembut.

“….namanya Muhammad Darwis romo, tapi sekarang di Kauman orang memanggilnya Kiyai, Kiyai Ahmad Dahlan….”

“…Ooo, Kiyai Dahlan, beliau saudara saya, sama-sama belajar dulu kepada Syaikh Achmad Khatib, Imam besar madzhab Syafi’i di mesjidil haram, dia itu jujur, amanah dan mendalam ilmunya. Sudah, ndak apa-apa….” Sahut Romo Kiyai menenangkan santrinya itu.

“…nggih romo, izinkan kulo balik ke Kauman” Ujar santri penuh hormat.

Romo Kiyai adalah Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Sedangkan santri tersebut adalah Kiyai Basyir, yang kemudian juga menjadi salah seorang murid KH. Ahmad Dahlan.

Di kemudian hari, Kiyai Basyir dikaruniai seorang putra yang juga dianugerahi kecerdasan dan ilmu yang dalam, bernama KH. Ahmad Azhar Basyir. Dia adalah seorang Fuqaha yang pernah diamanahi untuk menjadi Ketua PP Muhammadiyah, suksesornya adalah Prof. HM. Amin Rais.

Jadi, mari kita berbaris kokoh dan rapi
Untuk membangun tanah warisan para Ulama ini….

#parapengadudomba_adalah_kutubusuk

………

Sumber foto: Sang Pencerah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s