PILAR INDONESIA: Muhammadiyah – NU

Sungguh sebuah keberuntungan besar tatkala Allah memberikan kesempatan pada saya untuk dapat hadir dalam sebuah “halaqah” kebangsaan di halaman kantor PP. Muhammadiyah Jl. Menteng Raya 62 Jkt.

Peristiwa itu terjadi di tengah gelora “Poros Tengah” yang dinahkodai Amin Rais sedang gencar-gencarnya “mengusung dan mempromosikan” KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) untuk didaulat menjadi Presiden RI.

Malam itu terasa sangat membanggakan dan mengharukan. Betapa tidak, semua tokoh-tokoh utama kedua “Jam’iyyah” tersebut hadir. Dari kalangan NU hadir di antaranya KH. Nur Muhammad Iskandar, Saifullah Yusuf (saat itu Ketua GP Anshor), KH. Said Aqil Siradj, KH. Mashdar Farid Mas’udi, dan tentu saja Gusdur.

Sebagai Shohibul bait, sebahagian besar figur utama Muhammadiyah hadir. Kader-kader muda umat berjubel di halaman yang tidak begitu luas, hingga meluber ke badan Jalan Menteng Raya.

Dari kalangan NU, yang tampil memberikan pidato adalah Kiyai Said Aqil, Kiyai Nur Iskandar, Gus Ipul, dan tentu puncaknya adalah Gusdur. Sementara dari Muhammadiyah tampil Din Syamsuddin, Imam Addaruquthni (Ketua PP.Pemuda Muhammadiyah), dan tentu saja Amin Rais.

Seperti biasa, para Kiyai NU tampil segar dan kocak. Masih segar dalam ingatan saya Kiyai Said Aqil menyebut Amin Rais dengan gelar “Syaikh Mbah Amin Rais”. Kiyai Nur Iskandar juga tampil dengan gaya khasnya, dia bertanya kepada hadirin tentang perbedaan Kiyai NU dengan Kiyai Muhammadiyah, lalu dia jawab sendiri bahwa perbedaannya adalah Kiyai NU rata-rata berani berpoligami sedangkan Kiyai Muhammadiyah tidak. “Tolong carikan saya satu lagi dari kalangan ‘Aisyiyah…” Selorohnya disambut gerr semua yang hadir.

Setelah semua tampil, maka kini giliran Gusdur. Usai mengucapkan salam dia langsung bergurau. “… Kalau Muhammadiyah dan NU sudah ngumpul, satu saja yang saya takutkan, semua pada lomba pidato !” Mimiknya tak berubah, tapi semua yang hadir tertawa terpingkal-pingkal sampai mata berair.

Gusdur kemudian melanjutkan, “Malam ini Muhammadiyah dan NU telah membuktikan diri sebagai Payung Indonesia dan Perekat Kebangsaan kita…” Hadirin kemudian gemuruh bertepuk tangan.

“…Kenapa dari awal saya selalu menyebut urutan Muhammadiyah dan NU, karena secara abjad M kan lebih dahulu dari N, dan kehadiran Muhammadiyah jauh mendahului kelahiran NU…!” Semua kembali gemuruh bertepuk tangan.

Pidato Gusdur itu tak panjang, tapi menggairahkan. Gairah terhadap Indonesia yang akan segera tumbuh besar di bawah dua pilar utama Muhammadiyah-NU…

Ketika mengakhiri pidatonya, Gusdur tidak mengucapkan “Wallahu al-Muwaafiq ila aqwaam al-Thariq”, sebagaimana kebiasaan kalangan Kiyai dan anak-anak muda Nahdliyyin. Tapi dia menutupnya dengan ucapan:

Wabillaahittaufiq wal hidayah
Warridha wal inaayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
……..

Selamat Milad NU Yang ke-91 (1926 – 2017)
Semoga tetap menjadi pilar bangsa
Bersama kita payungi Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s