PAPUA Dalam Imajinasi

 

Cerita seorang kawan…

Foto ini menunjukkan kemajuan pembangunan infrastruktur yang luar biasa di tanah Papua.

Jalan layang dengan struktur menakjubkan membelah sebuah sungai yang cukup lebar, menyisir tetabingan kawasan perbukitan. Keindahan panoramanya sungguh membuat decak kagum turis mancanegara yang semakin banyak berdatangan ke bumi Papua.

Menurut cerita kawan itu, telah terjadi peningkatan kunjungan turis luar negeri ke Papua sebesar 400 persen dalam tahun ini, hanya untuk mendapatkan momen berselfie ria dari atas jembatan ini. Setelah itu, biasanya para turis itu akan langsung melompat dari atas jembatan tersebut dan tenggelam.

Para turis itu, kabarnya, sengaja menenggelamkan diri karena di dasar sungai, persis di bawah jembatan itu, ada istana yang terbuat dari emas yang dipercaya sebagai tempat munculnya nenek moyang orang Papua.

Kawan, terima kasih atas kabar yang telah engkau sampaikan…

Selamat Sore Indonesiaku

Advertisements

JURNALIS: Jujur Benar Dalam Menulis

Pesan “meme” ini dapat dipastikan mengada-ada, terang-benderang bohongnya dan bahkan “hiperbolik” level Jin Ifrit.

Bagaimana mungkin wajah seorang wartawati sebuah stasiun televisi berubah 1800 derajat setelah mengalami “katanya” pemukulan dalam aksi 112 di mesjid Istiqlal.

Seolah-olah wajah itu seperti adonan kue, yang pada mulanya dicetak simetris dan indah lalu seenaknya dapat diubah menjadi tak jelas bentuknya dan menyiratkan aura penuh duka.

Tapi begitulah strategi “perang opini”. Kebiasaan mem-blow up berita secara tendensius atau “unfairness”, dengan tujuan memojokkan individu atau komunitas tertentu, akan dilawan dengan cara yang tidak jauh berbeda, yaitu mengolok-olok bahkan terkadang “ad hominem”.

Menghormati profesi wartawan dan melindungi mereka saat menjalankan tugas adalah sebuah keniscayaan. Tapi berwarta secara obyektif, adil dan seimbang adalah suatu keniscayaan juga, yang mesti ditunaikan oleh semua “lembaga pemberitaan” dan setiap unsur yang terlibat di dalamnya…

Kalau prinsip-prinsip demikian tidak dijalankan, maka inilah akibatnya “kebeningan” bisa berubah menjadi “keprihatinan”. Sebagaimana berita yang “terang benderang” dapat ditampilkan seperti remang-remang, bahkan penuh kegelapan

#obyektiflah_dalamberwarta

Warisan Ulama

Salah satu kebahagian tertinggi yang sering saya rasakan adalah tatkala melihat tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU duduk bersama dan melontarkan senyum bersama.

Sungguh, ketika melihat senyum mereka saya seperti melihat senyum dan masa depan Indonesia

Beberapa hari lalu saya kembali merasakan kebahagian itu, tanpa sengaja bertemu foto ini di sebuah portal berita yang tak pernah terjebak dalam arus “hoax” ataupun menyebarkan kebohongan. Oleh karena itu saya sampai pada tingkat Haqqul yaqin bahwa momen dalam foto ini bukanlah hasil rekayasa dari kecanggihan tekhnologi digital.

Di tengah adalah KH. Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI Pusat), sebelah kanannya Dr.H.Haidar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah) dan di kirinya Prof.KH.Said Aqil Siradj (Ketua Umum Tanfidzhiyah PB NU)

Sejatinya, Muhammadiyah dan NU itu adalah “two side of one coin” (dua sisi dari satu mata uang), keduanya tidak mungkin saling menegasikan. Hal itu karena keduanya tidaklah mungkin untuk berkompetisi demi merebut kemenangan dan mengalahkan yang lainnya.

Keduanya seperti legenda kawan seperguruan, yang bertarung sehabis tenaga, tapi tak pernah bisa saling mengalahkan. Kini harapan dan kesadaran baru terbit kembali, keduanya bersiap menata shaf yang lurus dan rapi, bergerak menuntaskan tugas kesejarahan bersama, membuat Indonesia Jaya.

Demikianlah, seorang santri muda menghadap kepada gurunya di Pesantren Tebu Ireng Jombang. Sang santri agak resah karena di kampungnya Kauman Yogyakarta muncul seorang Ulama Muda yang baru pulang belajar dari Mekkah bernama Ahmad Dahlan.

“Romo Kiyai, izinkan saya menyampaikan sesuatu, di Kauman telah muncul seorang muda yang mengajarkan Islam dengan cara yang berbeda dari cara yang selama ini kita kenal…” Ta’dzhim sang santri kepada Romo Kiyainya.

“… siapa orang itu nak, jelaskanlah “. Jawab Romo Kiyai lembut.

“….namanya Muhammad Darwis romo, tapi sekarang di Kauman orang memanggilnya Kiyai, Kiyai Ahmad Dahlan….”

“…Ooo, Kiyai Dahlan, beliau saudara saya, sama-sama belajar dulu kepada Syaikh Achmad Khatib, Imam besar madzhab Syafi’i di mesjidil haram, dia itu jujur, amanah dan mendalam ilmunya. Sudah, ndak apa-apa….” Sahut Romo Kiyai menenangkan santrinya itu.

“…nggih romo, izinkan kulo balik ke Kauman” Ujar santri penuh hormat.

Romo Kiyai adalah Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Sedangkan santri tersebut adalah Kiyai Basyir, yang kemudian juga menjadi salah seorang murid KH. Ahmad Dahlan.

Di kemudian hari, Kiyai Basyir dikaruniai seorang putra yang juga dianugerahi kecerdasan dan ilmu yang dalam, bernama KH. Ahmad Azhar Basyir. Dia adalah seorang Fuqaha yang pernah diamanahi untuk menjadi Ketua PP Muhammadiyah, suksesornya adalah Prof. HM. Amin Rais.

Jadi, mari kita berbaris kokoh dan rapi
Untuk membangun tanah warisan para Ulama ini….

#parapengadudomba_adalah_kutubusuk

………

Sumber foto: Sang Pencerah

Continue reading “Warisan Ulama”

PILAR INDONESIA: Muhammadiyah – NU

Sungguh sebuah keberuntungan besar tatkala Allah memberikan kesempatan pada saya untuk dapat hadir dalam sebuah “halaqah” kebangsaan di halaman kantor PP. Muhammadiyah Jl. Menteng Raya 62 Jkt.

Peristiwa itu terjadi di tengah gelora “Poros Tengah” yang dinahkodai Amin Rais sedang gencar-gencarnya “mengusung dan mempromosikan” KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) untuk didaulat menjadi Presiden RI.

Malam itu terasa sangat membanggakan dan mengharukan. Betapa tidak, semua tokoh-tokoh utama kedua “Jam’iyyah” tersebut hadir. Dari kalangan NU hadir di antaranya KH. Nur Muhammad Iskandar, Saifullah Yusuf (saat itu Ketua GP Anshor), KH. Said Aqil Siradj, KH. Mashdar Farid Mas’udi, dan tentu saja Gusdur.

Sebagai Shohibul bait, sebahagian besar figur utama Muhammadiyah hadir. Kader-kader muda umat berjubel di halaman yang tidak begitu luas, hingga meluber ke badan Jalan Menteng Raya.

Dari kalangan NU, yang tampil memberikan pidato adalah Kiyai Said Aqil, Kiyai Nur Iskandar, Gus Ipul, dan tentu puncaknya adalah Gusdur. Sementara dari Muhammadiyah tampil Din Syamsuddin, Imam Addaruquthni (Ketua PP.Pemuda Muhammadiyah), dan tentu saja Amin Rais.

Seperti biasa, para Kiyai NU tampil segar dan kocak. Masih segar dalam ingatan saya Kiyai Said Aqil menyebut Amin Rais dengan gelar “Syaikh Mbah Amin Rais”. Kiyai Nur Iskandar juga tampil dengan gaya khasnya, dia bertanya kepada hadirin tentang perbedaan Kiyai NU dengan Kiyai Muhammadiyah, lalu dia jawab sendiri bahwa perbedaannya adalah Kiyai NU rata-rata berani berpoligami sedangkan Kiyai Muhammadiyah tidak. “Tolong carikan saya satu lagi dari kalangan ‘Aisyiyah…” Selorohnya disambut gerr semua yang hadir.

Setelah semua tampil, maka kini giliran Gusdur. Usai mengucapkan salam dia langsung bergurau. “… Kalau Muhammadiyah dan NU sudah ngumpul, satu saja yang saya takutkan, semua pada lomba pidato !” Mimiknya tak berubah, tapi semua yang hadir tertawa terpingkal-pingkal sampai mata berair.

Gusdur kemudian melanjutkan, “Malam ini Muhammadiyah dan NU telah membuktikan diri sebagai Payung Indonesia dan Perekat Kebangsaan kita…” Hadirin kemudian gemuruh bertepuk tangan.

“…Kenapa dari awal saya selalu menyebut urutan Muhammadiyah dan NU, karena secara abjad M kan lebih dahulu dari N, dan kehadiran Muhammadiyah jauh mendahului kelahiran NU…!” Semua kembali gemuruh bertepuk tangan.

Pidato Gusdur itu tak panjang, tapi menggairahkan. Gairah terhadap Indonesia yang akan segera tumbuh besar di bawah dua pilar utama Muhammadiyah-NU…

Ketika mengakhiri pidatonya, Gusdur tidak mengucapkan “Wallahu al-Muwaafiq ila aqwaam al-Thariq”, sebagaimana kebiasaan kalangan Kiyai dan anak-anak muda Nahdliyyin. Tapi dia menutupnya dengan ucapan:

Wabillaahittaufiq wal hidayah
Warridha wal inaayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
……..

Selamat Milad NU Yang ke-91 (1926 – 2017)
Semoga tetap menjadi pilar bangsa
Bersama kita payungi Indonesia

Sayangi Ulama

Saya dilahirkan di tengah keluarga dengan dominasi kultur Muhammadiyah yang kuat

Lalu tumbuh di lingkungan masyarakat tradisional dengan dominasi ordo Tarekat Syattariyah yang ketat

Saya menyayangi dan berjuang memahami Ilmu dan Hikmah para ulama dari berbagai warna dan kecenderungn pemikiran.

Sekalipun tumbuh dari keluarga Muhammadiyah dan mencintai Para Ulama Sepuh pendiri dan penerus Persyarikatan ini
Namun saya tidak pernah ragu untuk juga menyayangi Ulama-ulama legendaris NU,

Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari (Pendiri NU Kakek Gus Dur)
KH. Wahid Hasyim (Ayahnda Gus Dur)
KH. Bisri Sansuri (Ayahnda Gus Mus)
KH. Wahab Hasbullah
KH. Achmad Shiddiq
KH. Jusuf Hasyim
KH. Solahuddin Wahid
KH. Hasyim Muzadi
KH. Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI Pusat)

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, saya bisa menyayangi dan memahami KH. Abdurrahman Wahid ( Gusdur )

Kenapa begitu ?
Pertanyaan itu tidak perlu
Karena menyayangi dan mencintai para ulama dengan segala warna dan kecenderungannya adalah bagian dari “amar” Islam yang tak dapat dibantah dengan argumentasi apapun.

Sebaliknya, membenci Ulama, menghinanya, memfitnahnya, mencaci makinya dengan alasan apapun, adalah sebentuk deklarasi perlawanan terbuka terhadap ummat Islam….

Bagi orang-orang yang mengklaim diri sebagai kelompok “bersumbu panjang”, pasti beranggapan bahwa pernyataan seperti ini masuk dalam kategori pernyataan “sumbu pendek”.

Tidak apa-apa,
sekalian saja katakan sebagai pernyataan dari “Orang-orang tak bersumbu” dan “hilang nalar”.

Jika memilih berdiri bersama Ulama, dikatakan sebagai kategori “bersumbu pendek atau bahkan tak bersumbu” oleh orang-orang yang “bernalar paling sehat” itu, maka masukkanlah saya ke dalam kategori tersebut….

#Berbarislah_dalamgarisparaUlamalurus