RASA Yang Terlarang

 

Rasa benci itu Tuhan yang memberi
Sepaket dengan itu adalah rasa hati-hati
Serta semangat berkompetisi.

Oleh karena itulah agaknya rasa benci tidak boleh berlebihan. Kebencian yang berlebihan seringkali memupus pikiran sehat, keseimbangan rasionalitas dan kekeliruan dalam mengambil kesimpulan.

Beribu alasan dapat dikemukakan untuk mempertahankan kebencian, hal yang sama juga bisa dilakukan untuk menolaknya.

Larangan agar tidak membenci secara berlebihan berasal dari Kalamullah (Al-Qur’an). Atas dasar itulah saya berusaha bersikap “tawazun” dalam melihat segala persoalan, termasuk pertikaian yang terjadi di kalangan manusia Timur Tengah.

Keberpihakan saya tidak membuat saya harus menutup mata terhadap informasi yang berasal dari “seberang” sana. Perintah Tuhan memang seperti itu, bahwa kebencian pada suatu kaum tidak boleh membuat kita kehilangan rasionalitas dan proporsionalitas…

Advertisements

Masjid Kampus

Kalau di ITB ada Mesjid Salman
Di UGM ada Mesjid Shalahuddin
Di UI ada Mesjid Ukhuwwah
Maka di UNP ada dua mesjid megah dengan arsitektur yang futuristik, yaitu mesjid Empat Menara Al-Azhar dan Mesjid LPMP. (Komplek LPMP Sumatera Barat itu terletak persis di tengah kampus UNP).

Tidak begitu berbeda dengan tiga kampus hebat yang disebutkan di awal. UNP juga memberikan perhatian yang sangat serius terhadap tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai religiusitas di dalam kampus. Dan mesjid Al-Azhar pun telah melahirkan kader-kader bangsa dengan keunggulan moralitas yang berkiprah di berbagai ranah kehidupan, terutama sebagai tenaga pendidik yang menjadi ujung tombak bagi terwujudnya cita-cita bersama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Melihat antusiasme Ormawa Kerohanian dalam mengikuti kajian-kajian Keislaman yang inklusif, militan dan mencerahkan, maka masih cukup kuat alasan untuk optimis bahwa UNP dan Perguruan Tinggi hebat lainnya, akan terus memasok pemimpin-pemimpin hebat bagi Indonesia, dengan modal ilmu yang hebat dan moralitas religius yang kuat….

———-
Gambar:

Berujar-ujar bersama aktifis FSDI FIS-UNP
tentang “ma’rifat al-Rasul” dan Menyegarkan kembali pemahaman terhadap “eksistensi Nubuwwat”
Selasa 20/12/16 di Mesjid LPMP

Ampun MAAAAAK… !

Di kampung kami yang sebahagian besar orang-orangnya bekerja di sawah dan di laut, panggilan “Ibu” adalah panggilan yang mewah. Sebegitu mewahnya, sehingga dulu tatkala kecil, tak ada kami di kampung itu yang memanggil Ibu.

Panggilan yang paling banyak itu adalah “Mak” atau “Amak”. Sehingga kalau ada seorang kawan yang kesal pada temannya ia menggurutu dan berkata

“…. Amak ang dek ang ! “

Panggilan nomor dua adalah “Mandeh, andeh atau Ande”. Maka gerutuan teman dari kawan itu menjadi…

“…. Mande ang…! “

Tidak pernah di kampung itu, kalau ada seseorang jengkel pada kawannya lalu berkata,

“…. Ibu ang dek ang… ! “

Menyusul setelah itu panggilan
One
Uni
Uniang
Etek
Bahkan di kampung kami itu ada anak yang memanggil “nama” pada Ibunya. Ya, nama Ibunya itu yang dia pakai utk memanggil Ibunya… Yaa, begitulah.

Ada yang menarik, yaitu terkadang panggilan itu terkait dengan kelas sosial ekonomi, termasuk ia berkaitan dengan “besaran” uang jajan. Anak yang memanggil “Mami-Papi” pada kedua orang tuanya, biasanya uang jajannya lebih besar dibanding yg memanggil “Ayah-Ibu”. Menyusul di bawahnya “Umi-Buya”. Yang paling bawah biasanya panggilan “Amak-Abak”.

Nah, di kampung kami, panggilan “Amak-Abak” itulah yang terbanyak. Maklum, mereka petani dan nelayan, malah dulu itu tak bisa dan tak biasa memberi anak-anaknya uang jajan…

Saya juga memanggil “Mak” atau “Amak”. Mengenang kehebatan perjuangan Mak bersama Buya (Allahyarham) membesarkan anak-anaknya, selalu membuat titik air mata…

Selamat Hari AMAK…
Ampuni Kami Maaaak !

U.L.A.M.A. Teruslah Berfatwa

Adalah Buya Hamka yang mengatakan bahwa Ulama itu sama dengan “Kue Bika”. Dia sampaikan itu dengan getaran suara yang mendalam pada saat menyampaikan pidato Iftitah ketika dia dilantik menjadi Ketua MUI yang pertama dalam tahun 1975.

Secara prinsip Hamka berpandangan bahwa seorang Ulama berdiri di antara dua poros, Poros Umat dan Poros Umara (pemerintah). Kepada Umara, ulama mentransmisikan segala kepentingan dan suara ummat demi terwujudnya “mashlahat al-‘Ammah” (Kebaikan bersama). Sedangkan kepada Ummat, ulama menjadi penyejuk, penetralisir dan juru penerang terhadap berbagai masalah problematik yang muncul dalam berbagai dimensi kehidupan.

Pergulatan di antara dua kubu itulah yang membuat seorang ulama menemukan “karomahnya”, dengan kata lain, kematangan dan kedalaman seorang ulama terbentuk akibat dihadapkan terus menerus dalam pergumulan dua kepentingan. Seperti Kue Bika yang lezat dan gurih karena dipanggang dari bawah dan dibakar dari atas.

Dari perumpamaan Kue Bika itu jugalah diperoleh suatu makna bahwa tidaklah seorang ulama itu berorientasi pada capaian kemewahan dan kesenangan hidup, kemewahan hanya dia rasakan ketika ia berhasil melindungi dan menyelamatkan umat dan menjadi pelita bagi terangnya jalan para Umara.

Adapun tatkala “badai limbubu” datang menimpa, ulama tahu persis di mana ia harus berdiri, ketika itu segala kepentingan dirinya telah melebur pada kepentingan ummat. Resiko tak lagi menjadi sesuatu yang merisaukan, dengan penuh keyakinan ia akan melangkah bersama, menata barisan dan memberi fatwa.

Pada zaman Hamka, fatwa pernah dikeluarkan. Yaitu larangan bagi umat Islam menghadiri atau mengikuti perayaan Natal, larangan itu menyasar pada semua, baik pejabat pemerintah maupun masyarakat biasa. Tapi semua tahu, Menteri Agama saat itu Alamsyah Ratuperwiranegara, mengabaikan fatwa karena ia tetap menghadiri perayaan Natal dalam posisinya sebagai Menteri Agama.

Hamka kemudian mundur, inilah sebenar-benarnya Kue Bika. Biarlah ia “terpanggang” bersama umat dari pada menyerah pada kehendak penguasa. Fatwa telah dikeluarkan, Ulama telah melaksanakan tugasnya, ummat telah diajarnya. Apalagi….

“….hal ballaghtu..!” (Bukankah aku telah menyampaikan)
Jika tak didengar, aku tahu apa yang kemudian harus ku lakukan..!”

Hamka begitu,
Dia hanya berkeinginan secara tulus dan lurus melindungi ummat Islam, dia tak punya pretensi lain. Gaji sebagai sebagai Ketua MUI sejak awal ditolaknya, karena ia tidak ingin lidahnya terhimpit dalam berkata-kata, apalagi berfatwa. Dia tidak punya pretensi politik apapun dan tidak bisa didikte oleh kekuatan manapun.

Maka demikianlah,
Ulama mesti terus berfatwa
Terhadap umat harus melindungi dan menjaga
Tak mudah silau dan terbujuk lambaian politik dan kuasa

Untuk Saudaraku UMAT KRISTIANI 24 12 2016

 

Kepada saudara-saudara kami umat Kristiani
Di seluruh pelosok negeri

Di pedalaman Papua
Di kawasan kepulauan Flores dan sekitarnya
Di Menado, Minahasa ataupun Tanah Toraja
Di Ambon Manise dan sekelilingnya
Di sekitar Tanah Toba Tapian Nauli Sana
Di gugus kepulauan Nias dan Mentawai yang menjadi destinasi para pelancong mancanegara.

Rayakanlah Natal kalian dengan damai, gembira dan penuh suka cita

Jangan ada rasa khawatir dan terancam terhadap saudara-saudara kalian yang berbeda keyakinan, terutama kepada umat Islam.

Ketahuilah, bahwa seorang muslim yang belajar Islam dengan baik paham betul bahwa tidak ada kebencian sedikitpun atas dasar perbedaan keyakinan.

Bahwa muslim tidak boleh mengganggu rumah ibadah agama lain dan segenap aktifitas ritual yang tengah berlangsung di dalamnya, dalam keadaan apapun, baik damai maupun perang..
Pelanggaran terhadap larangan itu adalah sebentuk pengkhianatan dan penggembosan terhadap keagungan etika Islam.

Rayakan sajalah Natal kalian dengan lurus, menebar damai dan penuh kegembiraan. Bukankah itu yang selalu menjadi tema utama kalian, wahai saudaraku, setiap kali merayakannya ?

Sungguh indah tema Natal kalian itu
Jangan sampai dikotori dengan pesan propaganda dan provokasi
Yang dapat memantik gaduh dan emosi
Seperti yang dilakukan seorang oknum Kristiani, di Jambi….

Saudaraku,
Sungguh, kami hormati Hari Rayamu !