Bakat itu bernama DEDDY

 

 

Banyak orang yang pandai menulis
Tapi sedikit yang bisa menulis inspiratif
Dan semakin sedikit orang yang berkemampuan menulis kontemplatif.

Menulis kontemplatif adalah sebuah ikhtiar besar yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang punya “bakat” besar dalam mengungkapkan ekspresi terhadap berbagai persoalan yang pernah, sedang dan akan terjadi. Penulis seperti ini seolah punya kemampuan melontarkan dirinya ke masa lalu yang jauh, sebaliknya ia juga bisa memelantingkan imajinasinya ke masa depan yang tak bertepi

 

Menulis kontemplatif tak dapat diajarkan, ia adalah sesuatu yang diperoleh dari tempaan pengalaman hidup, ketajaman dalam memahami literatur teks maupun konteks, pergumulan intelektual, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bakat itu tadi.

Deddy Arsya adalah salah seorang penulis yang mempunyai bakat itu, kemunculannya seolah menyambung mata rantai kejayaan para sastrawan Ranah Minang tempoe doeloe. Dengan usianya yang masih sangat muda (29 tahun) dia punya peluang yang sangat besar untuk melahirkan karya-karya sastra besar, yang akan menjadi “bintang” dalam geliat literasi Minangkabau abad ini.

Ada dua karyanya yang sudah menyebar ke gelanggang ramai, yaitu “Odong-Odong Fort de Kock”, sebuah Antologi puisi yang sudah diganjar majalah Tempo sebagai sebuah Kumpulan Puisi Terbaik. Yang terakhir adalah “Rajab Syamsuddin Si Penabuh Dulang” sebuah Kumpulan Cerpen yang dilaunching beberapa waktu lalu.

Anak ini memang pernah jadi mahasiswa saya, ketika saya menjadi dosen luar biasa di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang. Tapi dalam hal kepengarangan dan tradisi literasi, nampaknya saya harus belajar banyak padanya.

Satu hal yang sangat mengherankan bagi saya adalah, mengapa almamaternya Fak. Adab IAIN Imam Bonjol membiarkan begitu saja salah seorang Alumni terbaiknya lepas. Padahal dengan bakat dan potensinya yang besar itu, ia dapat menetaskan “telur” terus menerus bagi kejayaan dan kebesaran Almamaternya….

Tapi sudahlah !
Hanya pertanyaan yang menjawab resah…
Mengapa ?

……
Foto :

Sebuah “Permakanan” di suatu siang dengan seorang sastrawan muda Minang Cemerlang yang tengah berkibar, Deddy Arsya. Ditemani seorang peneliti senior dan sejarawan produktif Sumatera Barat Fikrul Hanif – Twee(paling kanan)
Dia tidak lupa pada para gurunya, sepucuk “Rajab Syamsuddin…” dengan rendah hati diserahkannya pada saya…

Saya bangga !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s