U.L.A.M.A. Teruslah Berfatwa

Adalah Buya Hamka yang mengatakan bahwa Ulama itu sama dengan “Kue Bika”. Dia sampaikan itu dengan getaran suara yang mendalam pada saat menyampaikan pidato Iftitah ketika dia dilantik menjadi Ketua MUI yang pertama dalam tahun 1975.

Secara prinsip Hamka berpandangan bahwa seorang Ulama berdiri di antara dua poros, Poros Umat dan Poros Umara (pemerintah). Kepada Umara, ulama mentransmisikan segala kepentingan dan suara ummat demi terwujudnya “mashlahat al-‘Ammah” (Kebaikan bersama). Sedangkan kepada Ummat, ulama menjadi penyejuk, penetralisir dan juru penerang terhadap berbagai masalah problematik yang muncul dalam berbagai dimensi kehidupan.

Pergulatan di antara dua kubu itulah yang membuat seorang ulama menemukan “karomahnya”, dengan kata lain, kematangan dan kedalaman seorang ulama terbentuk akibat dihadapkan terus menerus dalam pergumulan dua kepentingan. Seperti Kue Bika yang lezat dan gurih karena dipanggang dari bawah dan dibakar dari atas.

Dari perumpamaan Kue Bika itu jugalah diperoleh suatu makna bahwa tidaklah seorang ulama itu berorientasi pada capaian kemewahan dan kesenangan hidup, kemewahan hanya dia rasakan ketika ia berhasil melindungi dan menyelamatkan umat dan menjadi pelita bagi terangnya jalan para Umara.

Adapun tatkala “badai limbubu” datang menimpa, ulama tahu persis di mana ia harus berdiri, ketika itu segala kepentingan dirinya telah melebur pada kepentingan ummat. Resiko tak lagi menjadi sesuatu yang merisaukan, dengan penuh keyakinan ia akan melangkah bersama, menata barisan dan memberi fatwa.

Pada zaman Hamka, fatwa pernah dikeluarkan. Yaitu larangan bagi umat Islam menghadiri atau mengikuti perayaan Natal, larangan itu menyasar pada semua, baik pejabat pemerintah maupun masyarakat biasa. Tapi semua tahu, Menteri Agama saat itu Alamsyah Ratuperwiranegara, mengabaikan fatwa karena ia tetap menghadiri perayaan Natal dalam posisinya sebagai Menteri Agama.

Hamka kemudian mundur, inilah sebenar-benarnya Kue Bika. Biarlah ia “terpanggang” bersama umat dari pada menyerah pada kehendak penguasa. Fatwa telah dikeluarkan, Ulama telah melaksanakan tugasnya, ummat telah diajarnya. Apalagi….

“….hal ballaghtu..!” (Bukankah aku telah menyampaikan)
Jika tak didengar, aku tahu apa yang kemudian harus ku lakukan..!”

Hamka begitu,
Dia hanya berkeinginan secara tulus dan lurus melindungi ummat Islam, dia tak punya pretensi lain. Gaji sebagai sebagai Ketua MUI sejak awal ditolaknya, karena ia tidak ingin lidahnya terhimpit dalam berkata-kata, apalagi berfatwa. Dia tidak punya pretensi politik apapun dan tidak bisa didikte oleh kekuatan manapun.

Maka demikianlah,
Ulama mesti terus berfatwa
Terhadap umat harus melindungi dan menjaga
Tak mudah silau dan terbujuk lambaian politik dan kuasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s