01. 01. 17: Catatan Akhir DI AWAL TAHUN

Pada malam tadi, ada sebahagian orang yang berkeliling-keliling kota, katanya mereka menunggu pergantian tahun. Anak-anak dibekali dengan “sangkakala” yang mereka tiup disepanjang jalan yang dilewati.

Tidak ada yang berbeda jika dibandingkan dengan susana malam pergantian tahun-tahun sebelumnya, kecuali dua hal yaitu suasana yang terasa lebih “sepi” dan tambahan variasi bunyi terompet yang ditiup anak-anak ingusan yang tahun-tahun sebelumnya tak pernah terdengar, yaitu bunyi “telolet-telolet…..!”

Anak-anak di jalanan itu seperti bergembira betul, mereka ingin berpusing-pusing mengitari kota semalaman. Tapi saya merasakan hal yang berbeda, ingin istirahat lebih cepat, dan membiarkan “anak-anak ingusan” itu dengan pesta kembang api pada jam “00”, itu hak mereka, tak usah direcoki apalagi dibenci, doakan saja agar tangan mereka tak terbakar kembang api. 🙂

Saya memperoleh kesempatan yang sangat “mewah” menjelang tutup tahun, yaitu berdiskusi. Pertama berdiskusi dengan anak-anak muda yang dapat dipastikan akan menjadi pemimpin saat Indonesia berumur satu abad, itu kalau negeri bernama Indonesia masih ada. Diskusi berjalan serius, renyah dan gembira. Diskusi yang berlangsung hingga larut malam itu telah memproduksi beberapa kesepakatan, yang akan segera diwujudkan oleh anak-anak muda itu, sebagai bentuk tidak lanjut dari inspirasi dan gagasan yang berkembang sepanjang diskusi

Rupanya benar apa yang dikatakan Bung Karno, “Berikan padaku sepuluh Pemuda, maka akan ku ubah dunia…!” Ungkapan Bung Karno ini secara kreatif bahkan telah diubah pula oleh anak-anak muda sekarang dalam nuansa yang parodik, “Berikan padaku sepuluh anak muda maka saya akan ciptakan Boy Band…!” Begitu kreatifitas kaum muda kita hari ini, tak usah marah !

Setelah semalaman bercengkrama dengan para pemilik masa depan, pada pagi harinya saya terlibat pembicaraan dengan pemilik Villa “Henni Adli” yang terletak di kawasan “Aia Dingin” Lubuk Minturun Padang. Pembicaraan hangat yang berlangsung lebih dua jam itu membuat saya harus menunda sarapan yang sudah dihidangkan.

Ibu yang terlihat masih sangat segar di usianya yang ke-54 itu, membuat saya berpikir betapa banyaknya orang-orang yang punya ide
brilian dan bercita-cita besar lebih memilih jalan “sunyi” untuk merealisasikan cita-citanya itu. Salah satunya ya Ibu Henni ini.

Dia tidak banyak berbacot-bacot, tidak mau menyerang sesiapa dengan kata-kata, tidak merasa perlu mensiar-siarkan bagian dunia mana saja yang telah diinjaknya. Saya melihat tipikal “Bundo Kanduang” dalam dirinya, kelembutan dan ketegasan, seperti ungkapan “Samuik dipijak indak mati, alu tataruang patah tigo” (Yang tak paham bahasa Minang, harap tanya pada teman… 🙂 )

Dia telah mengukuhkan dirinya sebagai Perempuan Minang teratas dalam industri kreatif dan kerajinan yang berbasis kultural. Betapa tidak, tatkala sentra-sentra kerajinan Minang seperti Pandai Sikek, Silungkang, Nareh, Bayang dan lainnya mengalami stagnasi dalam kreatifitas, Ibu ini datang dengan pendekatan dan kreasi baru yang memahami kecenderungan dan selera pasar. Demi menjaga keberlangsungan industri ini, di mana kehidupan dan hajat begitu banyak orang tergantung padanya, Perempuan ini telah membina dan mengasuh ribuan “Pengrajin” yang tersebar di sentra-sentra industri kerajinan di seluruh wilayah Sumatera Barat. Sentuhan tangan dinginnya telah menimbulkan gairah dan harapan baru dalam dunia industri kreatif di ranah Minang.

Ketika beberapa waktu lalu “First Lady” Malaysia (Istri PM. Tun Nadjib Abdul Razak) melawat ke Padang, dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Ibu Henni di Art Gallery-nya yang terletak di kawasan Lubuk Minturun itu. Rupanya istri Tun Nadjib adalah teman baik dan pelanggan tetap dari kerajinan produksi “Henni-Adli”.

Perbincangan dengan sosok Bundo Kanduang Modern ini terasa enak dan cair karena Selalu diselingi tawa renyah Perempuan hebat ini. Tapi tiba-tiba saya dikagetkan dengan ucapannya… “Bukankah semua yang saya lakukan ini merupakan cara saya dalam menjalankan perintah Islam Pak… ?”

Ungkapannya itu membuat saya terdiam sejenak, hebat juga Ibu ini ternyata. Saya mencoba menggali apa dasar dan maksud ucapannya itu. Akhirnya saya tahu bahwa ternyata properti yang sekarang dia jadikan “Art Gallery” nya itu, dulunya adalah milik Buya Syafi’i Ma’arif, yang dijual pada ibu Henni karena keduanya punya kedekatan visi dan misi, padahal ada beberapa taipan yang ingin membeli tanah seluas 4 ha itu pada Buya, di antaranya sebuah group usaha Taipan Sjofyan Wanandi yang ingin berinvestasi di bidang pariwisata.

Tanpa ragu Ibu Henni mengakui bahwa pandangan Keislamannya dibentuk oleh BSM, terutama dalam hal betapa pentingnya memberdayakan kelompok masyarakat yang lemah secara ekonomi, karena itulah investasi yang abadi dan menjadi bekal yang akan dibawa mati…

Di ujung bincang-bincang, saya goda dia:
“Dengan karya dan capaian yang telah diraih ini, bu Henni sesungguhnya pantas untuk menyuarakan kepentingan orang banyak, dengan cara memasuki dunia di mana kebijakan diciptakan, keputusan diambil dan palu diketok. Mewakili kepentingan orang banyak di legislatif, jadi wakil rakyat…!” Tegas saya.

“Sudah banyak yang mengajak, tapi sejauh ini belum saya tanggapi dengan serius. Namun saran itu akan saya pertimbangkan, mungkin saya perlu mendiskusikannya dengan Buya (Syafi’i Ma’arif)….”

Perbincangan diakhiri
Tatkala siang menjelang
Di Villa Henni-Adly Aia Dingin. Lubuk Minturun
….

#gagasandankaryahebat_adadimanamana
#adayangmenempuhjalansunyi_HenniAdly
#Selamatmelangkah_di_Januari2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s