Sedikit Tentang KPK

“….coba anda bayangkan, dari lima orang Komisioner KPK-RI itu tidak satupun di antara mereka yang “akuntan”, mereka tidak pandai “membaca” angka dan neraca, makanya ketika mantan Dirjen Pajak (HU) dijadikan tersangka, dia merasa tidak butuh seorang lawyer, karena dia merasa dapat “menghadapi” dengan mudah semua Komisioner KPK itu, dia seorang Akuntan senior…!”
……

syukri-ilyas

Sebuah “poin” diskusi bersama Syukri Ilyas
Mantan Komisioner KPKPN (Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara), cikal bakal KPK. Di kediamannya Puri Cinere.
Ada penampakan buku karya Fikrul Hanif – Twee di atas meja
“Malikiyyah”
19 01 17

Bakat itu bernama DEDDY

 

 

Banyak orang yang pandai menulis
Tapi sedikit yang bisa menulis inspiratif
Dan semakin sedikit orang yang berkemampuan menulis kontemplatif.

Menulis kontemplatif adalah sebuah ikhtiar besar yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang punya “bakat” besar dalam mengungkapkan ekspresi terhadap berbagai persoalan yang pernah, sedang dan akan terjadi. Penulis seperti ini seolah punya kemampuan melontarkan dirinya ke masa lalu yang jauh, sebaliknya ia juga bisa memelantingkan imajinasinya ke masa depan yang tak bertepi

 

Menulis kontemplatif tak dapat diajarkan, ia adalah sesuatu yang diperoleh dari tempaan pengalaman hidup, ketajaman dalam memahami literatur teks maupun konteks, pergumulan intelektual, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bakat itu tadi.

Deddy Arsya adalah salah seorang penulis yang mempunyai bakat itu, kemunculannya seolah menyambung mata rantai kejayaan para sastrawan Ranah Minang tempoe doeloe. Dengan usianya yang masih sangat muda (29 tahun) dia punya peluang yang sangat besar untuk melahirkan karya-karya sastra besar, yang akan menjadi “bintang” dalam geliat literasi Minangkabau abad ini.

Ada dua karyanya yang sudah menyebar ke gelanggang ramai, yaitu “Odong-Odong Fort de Kock”, sebuah Antologi puisi yang sudah diganjar majalah Tempo sebagai sebuah Kumpulan Puisi Terbaik. Yang terakhir adalah “Rajab Syamsuddin Si Penabuh Dulang” sebuah Kumpulan Cerpen yang dilaunching beberapa waktu lalu.

Anak ini memang pernah jadi mahasiswa saya, ketika saya menjadi dosen luar biasa di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang. Tapi dalam hal kepengarangan dan tradisi literasi, nampaknya saya harus belajar banyak padanya.

Satu hal yang sangat mengherankan bagi saya adalah, mengapa almamaternya Fak. Adab IAIN Imam Bonjol membiarkan begitu saja salah seorang Alumni terbaiknya lepas. Padahal dengan bakat dan potensinya yang besar itu, ia dapat menetaskan “telur” terus menerus bagi kejayaan dan kebesaran Almamaternya….

Tapi sudahlah !
Hanya pertanyaan yang menjawab resah…
Mengapa ?

……
Foto :

Sebuah “Permakanan” di suatu siang dengan seorang sastrawan muda Minang Cemerlang yang tengah berkibar, Deddy Arsya. Ditemani seorang peneliti senior dan sejarawan produktif Sumatera Barat Fikrul Hanif – Twee(paling kanan)
Dia tidak lupa pada para gurunya, sepucuk “Rajab Syamsuddin…” dengan rendah hati diserahkannya pada saya…

Saya bangga !

Continue reading “Bakat itu bernama DEDDY”

Buku Lama

Alhamdulillah
Kiriman sdh sampai sejak Jum’at 06/01/16
Tapi baru pagi ini paketnya dibuka.

Anak mertua saya tiba-tiba nyeletuk, “… untuk apa buku-buku lama ini…?”

“Bagi pencinta ilmu, tak ada istilah “buku lama”, bahkan makin lama usia sebuah buku, makin perlu ia dibaca dan ditela’ah, ilmu tidak pernah tua…” timpalku sekenanya.

kitab-2

Ini memang sekardus bundelan majalah lama dan sebuah kitab “magnum opus” nya Syeikh Ibrahim Musa Parabek (Inyiak Parabek), yaitu “Hidayat al-Shibyan”. Kitab yang dicetak oleh Drukkerij “BAROE” Fort de Kock ini adalah salah satu mata rantai dari diorama jatuh bangunnya “Darah Keulamaan” di ranah Minang.

Membangga2kan kegemilangan masa lalu bukanlah sebuah dosa, tapi menggali, merawat dan merekonstruksi prestasi besar “oerang2 dahoeloe” itu tentu lebih utama.
Terima kasih
…..

Selamat Berakhir Pekan

kitab

Sunan Giri —– KH.Ahmad Dahlan

Bukan pada persoalan seberapa akurat silsilah ini, tapi lebih kepada spirit dan fakta bahwa nusantara ini telah dibentuk oleh berbagai warna Keislaman yang sudah melebur menjadi identitas baru bernama Indonesia.

Paham Modernis dan Pandangan Tradisionalis hanyalah asesoris yang menjadi alat ataupun instrumen dinamika untuk kemajuan dan kejayaan Indonesia.

dahlan

Lihatlah, bahkan KH. Ahmad Dahlan pun, pendiri Muhammadiyah, mempunyai geneologis yang sambung menyambung dengan para Sunan yang menjadi episentrum dari proses Keberislaman tanah Jawa. Demikianlah halnya dengan NU yang juga menggantungkan legitimasi spiritualitasnya kepada para Kanjeng Sunan.

Islamlah yang mengintrodusir konsep Kebernusantaraan yang kemudian melahirkan Indonesia.

Dan semua pihak mesti diberi keyakinan bahwa Umat Islamlah yang paling bertanggung jawab terhadap keberadaan dan keberlangsungan Indonesia…

Percaya itu !

dahlan-2

DOA Aleppo

 

Ada yang terus berupaya memberikan analisis berbasis data faktual tentang apa yang tengah berlangsung di Aleppo (Haleb) Suriah saat ini.

Namun dengan analisis yg disajikan, secara implisit dapat dibaca bahwa sang analis hanya ingin mengatakan kepada kelompok mana dia berpihak.

Bagi saya, analisis seperti itu adalah “pembunuhan” terhadap modal utama penciptaan manusia, yaitu “rasa kemanusiaan” itu sendiri.

Siapapun yang dibantai di Aleppo, dari kelompok manapun dia, selayaknya menggoncangkan rasa kemanusiaan kita, menggedor telak nurani kita.

Mayat-mayat yang bergelimpangan di puing2 reruntuhan kota Aleppo itu….

Mereka adalah Ibu2 saya
Adik, kakak dan saudara saya,
Bocah itu, separoh badannya hancur terkena bom.

Mayat perempuan cilik itu, separoh tubuhnya terhimpit reruntuhan beton….
Aku seperti menyaksikan anakku sendiri….
Yaa Rabbiiiiy !

Aleppo
Yaa Rahmaaan !