Dari YOGYA Menuju ULAKAN

Dalam bukunya “Jaringan Ulama”, Prof. Azyumardi Azra dengan sangat meyakinkan, karena ditopang oleh berbagai sumber dan argumentasi yang akurat, mengaffirmasi pengaruh dan peran vital Ulama “Tuo” Syaikh Burhanuddin dalam proses Islamisasi di Minangkabau.

Azra juga tidak meragukan bahwa “Inyiak Syaikh” adalah simpul utama dari gerakan tarikat Syattariyah yang nasabnya telah sambung menyambung dari Syaikh Burhanuddin yang bermakam di nagari Ulakan dari Syaikh Abdurrauf al-Singkili dari Syaikh Ibrahim al-Kurani dari Syaikh Ahmad Khushashi dan terus merentang hingga Nabi Muhammad Saw, demikian keyakinan para pengikut tarekat itu.

Transmisi episentrum tarekat Syattariyah dari al-Singkili di Aceh ke Syekh Burhanuddin di Ulakan telah mengakibatkan dua hal penting menjelang pertengahan abad ke-17. Pertama, nagari Ulakan yang sebelumnya adalah noktah kecil yang tidak dikenal di sepanjang gugus pantai Barat Sumatera, telah berubah menjadi pusat keramaian. Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru, bergerak menuju Ulakan untuk berguru kepada Ulama yang paling terkemuka ketika itu, sang ulama telah mendirikan surau di sebuah titik di Ulakan, sekarang disebut sebagai “Surau Gadang” di Tanjuang Medan. Menurut Azra, ketika itu tidak ada satupun sarana pengajaran dan pengembangan Islam yang lebih “qualified” dan tersohor selain Surau Syekh Burhanuddin di Ulakan.

Dalam kurun waktu yang tidak begitu lama, Syaikh ini telah melahirkan murid-murid pandai, mumpuni dan menjadi mujahid dalam proses Islamisasi di ranah Minang, para murid itu juga mendirikan surau-surau di tempat asal mereka, sehingga kemudian Islam berkecambah dengan cepat karena sang Syaikh menyemainya dengan penuh “rahmah” dan persuasif, terutama dalam hal saling kesepahaman yang sudah dia tanam terlebih dahulu dengan para raja dan penguasa yang bertahta di Pagaruyung.

Wafatnya Sang Syaikh, adalah kehilangan besar bagi para murid dan jamaah tarekatnya, sebagai ekspresi untuk mengenangnya muncullah sebuah rangkaian ritual yang hingga kini terus bertahan dan telah menjadi salah satu agenda dan destinasi wisata, yaitu ritual “Basapa”.

Pada hakekatnya Basapa adalah pergi berziarah ke makam Syekh Burhanuddin yang dilakukan oleh penganut tarekat Syattariyah pada setiap hari Rabu minggu kedua di bulan Shafar. Ribuan orang peziarah akan memadati Ulakan selama satu minggu penuh, sesungguhnya kedatangan mereka adalah sebentuk upaya menjaga kontinuitas relasi spiritual mereka dengan sang Syaikh, sekaligus berharap mendapat berkah dari kunjungan dan “ratib zikir” yang mereka lakukan di sisi makam sang Guru.

Identitas Ulakan sebagai titik pusaran arus dari tarekat Syattariyah tentu tidak dapat dielakkan. Tetapi sebagai wilayah yang terbuka, Ulakan juga tidak tertutup dengan hal-hal yang baru dan baik, bahkan termasuk dalam persoalan-persoalan keagamaan, perubahan dan datangnya hal-hal baru tak bisa dihindarkan.

Sekitar awal tahun 1930-an, terjadi “kegaduhan” di mesjid Syaikh Burhanuddin yang terletak di Kampuang Koto. Apa pasal ? Ternyata salah seorang Alim dari suku Panyalai yang bernama Tuanku Bagindo telah mulai mempersoalkan akurasi arah kiblat yang selama ini dipakai.

“Kiblat kita ini, jika ditarik garis lurus, ternyata bersetentangan dengan Istambul, bukan dengan Ka’bah di Mesjid al-Haram. Jadi, arah kiblat kita harus diperbaiki…..” Demikian kira-kira ujaran Tuanku Bagindo kepada Tuanku lainnya.

Fatwa Tuanku Bagindo ini serta merta telah menciptakan polarisasi di kalangan para Tuanku dan Jemaah, kegoncangan tidak bisa lagi dielakkan. Berbagai pertanyaan dan tudingan yang dihadapkan kepada Tuanku Bagindo bermunculan. Apa maksud Tuanku itu ? Dari mana dia tahu bahwa kiblat kita tidak lurus ke Ka’bah ? Ada-ada saja Ungku itu…!

Lebih dari sekedar perdebatan itu adalah, bahwa pada waktu itu paham ‘baru’ telah muncul, kemunculan paham baru di pusat Ordo tarekat Syattariyah tersebut agak mirip dengan apa yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta, yaitu dimulai dengan memperbaiki arah Kiblat Mesjid Besar Yogya. Keduanya mengalami goncangan hebat. Bedanya, di Yogya sudah berlangsung sejak 107 tahun lalu, sementara di Ulakan baru sekitar 80-an tahun berlalu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s