Melintas Batas

Sekitar tahun 1997, di salah satu ruangan aula Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, berlangsung bedah buku “Masa Lalu Yang Membunuh Masa Depan” oleh Yudi Latif. Ada dua orang pembahas yang selalu ingin saya dengar kata-katanya, yaitu Nurcholish Madjid dan Fakhri Ali, kedua orang inilah yang selalu membuat saya merasakan bahwa tidak ada tempat yang terlalu jauh untuk didatangi asal bisa mengikuti dan menikmati pengkajian-pengkajian yang mereka berikan.

budi mulia
Perbincangan saya dengan Ust. Taufiqurrahman, Lc. M. Si. Dalam Silaturrahim bersama kawan-kawan ke Pesantren Mahasiswa (ma’had ‘ali) Budi Mulya yang dia pimpin di kawasan Kaliurang Yogyakarta.

Pembahasan tentang buku yang dibedah itu bukanlah hal yang menjadi fokus saya, titik perhatian saya lebih tertuju kepada pandangan-pandangan prophetik yang sering dilontarkan oleh Cak Nur dalam berbagai kesempatan diskusi. Seringkali apa yang dia sampaikan menjadi semacam “guidance” bagi siapa saja yang ingin mengintip masa depan Indonesia serta peluang dan tantangan yang bakal dihadapi umat Islam di republik ini.

Ada satu tesis “baru” yang dikemukakan Cak Nur ketika itu, ia menggambarkan bagaimana peta masa depan Indonesia, bagaimana pentingnya peran umat Islam dalam menciptakan Indonesia yang maju, bermartabat dan disegani, terutama oleh negara-negara dengan populasi penduduk mayoritas muslim. Saya ungkapkan terlebih dahulu tesis itu dalam sebuah “lipatan” kecil, bahwa Cak Nur mengatakan, “….masa depan Indonesia ada di tangan kaum santri”.

Simpulan ini tentu bukan sesuatu yang ujug-ujug, dia lahir dari seorang yang sangat berkompeten yang telah mengamati rentang panjang perjalanan negeri “kaya raya” ini. Dalam pandangan saya, ada tiga realitas yang menjadi basis tesis Cak Nur itu, yaitu realitas demografis, religiusitas dan realitas universalitas.

Secara demografis, populasi mayoritas muslim di Indonesia adalah sumber kekuatan bangsa, setiap kali ada upaya melemahkan atau mengeliminasi peran umat Islam dalam proses “Berindonesia” maka sesungguhnya tidaklah terlalu sulit untuk mengatakan bahwa hal demikian merupakan sebentuk upaya dalam melemahkan Indonesia. Menganggap pendapat seperti ini sebagai sesuatu yang mengabaikan kenyataan pluralitas kebangsaan adalah sesuatu yang akan terasa aneh, apalagi jika pandangan pluralitas itu beranggapan bahwa si mayoritas tidak perlu lagi berperan karena sudah mendominasi dari segi jumlah, berikanlah peran itu terutama kepada kaum minoritas karena demikianlah yang harus dilakukan agar keseimbangan tatanan dapat diwujudkan.

Bahkan Cak Nur pun menegaskan bahwa dominasi Umat Islam di indonesia adalah suatu keharusan, tetapi bukan dominasi yang bersifat tirani melainkan dominasi inklusif yang berpijak pada pemahaman bahwa tidak boleh ada kelompok yang dieksklusi dalam keinginanya untuk berkontribusi bagi Indonesia. Oleh karena itu, ketika mengatakan bahwa peran kaum santri akan menguat dalam proses Berindonesia, Cak Nur mengatakan bahwa hanya kaum santri dengan tipikal “canggih” yang dapat “merebut” masa depan Indonesia itu.

Kecanggihan kaum santri tersebut digambarkan oleh Cak Nur seperti ini, dia mendalami ilmu-ilmu Keislaman, hingga mampu memasuki dan menyelami khazanah Islam klasik yang teramat kaya itu, dia “berenang” di dalamnya lalu menuangkannya dalam bentuk-bentuk karya-karyanya sendiri. Tetapi kemampuannya dalam menyelami perbendaharaan klasik itu tidak akan banyak membantu jika ia buta terhadap realitas manusia dan kemanusiaan yang terus tumbuh tak henti-henti, tantangan budaya yang tak ada jeda-jedanya, tantangan pertumbuhan tekhnologi yang tak mengenal kata henti. Dengan kata lain dia menegaskan bahwa masa depan Indonesia itu memang akan dipegang oleh kaum santri, tetapi tidak semua kaum santri, melainkan mereka yang mampu membaca “kitab kuning” dan “kitab putih”

Tesis Cak Nur ini telah mulai menampakkan wujudnya, setidaknya dalam proses regenerasi yang terjadi di lingkungan beberapa “Jam’iyyah” Islam, terutama yang sedikit saya agak tahu adalah di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyyah.

Ada satu “surprise” yang saya alami beberapa waktu lalu dalam sebuah acara yang bertempat di LPMP Kalasan Yogyakarta. Acara tersebut sebenarnya adalah satu kegiatan internal Muhammadiyyah, yang berfokus kepada Majelis Tabligh. Malam itu acara dibuka oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. Haidar Nashir. Sebelum dibuka, tampillah Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Taufiqurrahman Kamal, Lc. M.Si. seorang anak muda yang matang di pesantren dan menuntaskan S1-nya di Universitas Madinah. Awalnya saya menduga bahwa pidato iftitah yang akan dia sampaikan berisi penuh kutipan ayat-ayat, hadits-hadits dan kutipan-kutipan para Hukama. Dugaan saya ternyata keliru…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s