Curhat Pak Zuiyen Rais (Mantan Walikota Padang)

“…. sekarang saya sendiri” Keluh bapak ini dengan wajah yang agak murung.

Saya merasa heran juga, anak-anak beliau memang banyak yang bertugas jauh bahkan ada yang mukim bertahun-tahun di Norwegia, cucu-cucunya lahir, tumbuh dan bersekolah di negara Eropa Utara itu, dan beliau sering melawat ke sana untuk waktu berbilang bulan. Sekarang ia lebih banyak tinggal di rumahnya yang megah dan asri di sebuah kawasan elit di kota Padang. Tapi tidak sendiri, ada istri beliau yang selalu menemani setiap kali ia menapaki langkah ke mesjid tatkala azan memanggil. Di rumah ada beberapa Asisten Rumah Tangga yang selalu siap sedia membantunya.

“..Ya, sejak meninggalnya Pak Hasan Basri Durin, saya merasa sendirian dalam menjaga, merawat dan menggerakkan Yayasan Bung Hatta yang menaungi Universitas Bung Hatta. Saya sangat mengkhawatirkan keadaan ini, karena saya tidak melihat ada sosok yang punya kesungguhan dan semangat berkorban untuk memperjuangkan lembaga besar yang sudah menjadi salah satu kebanggaan ranah Minang ini…”

Selanjutnya beliau mengeluhkan kondisi fisik yang semakin menurun di usianya yang sudah menjelang 76 tahun, berkali-kali bolak-balik ke Rumah Sakit termasuk Mount Elizabeth Hospital di Semenanjung. Operasi lambung, keluhan jantung, penipisan tulang dan komplikasi pada bagian organ dalam. Tatkala tua, sebagian besar kita juga bakal mengalami keadaan serupa.

Namun beliau adalah orang tua dengan kepribadian yang hebat. Dalam keadaan sakit yang mendera, ia tetap berusaha melangkah ke mesjid, yang hanya berjarak dua blok di belakang rumahnya, setiap waktu shalat tiba, terutama Maghrib dan ‘Isya. Termasuk beberapa malam yang lalu itu, ketika saya menyampaikan “ujaran-ujaran” menjelang masuknya waktu ‘Isya.

Dua periode pernah menjabat Walikota Padang (1993-2003), karena dinamika politik ia mengundurkan diri di penghujung periode ke-2. Kini, pada usia yang masih tersisa, beliau membina mesjid dan “menjaga” dengan penuh kekhawatiran Yayasan Bung Hatta. Orang-orang “besar” memang sering begitu, sangat mengkhawatirkan terhadap para pengganti sesudah ia tiada. Kekhawatiran itu memang sering menjadi kenyataan, demikianlah yang dikatakan Prof.Deliar Noor suatu ketika, yaitu pada saat tokoh-tokoh legendaris Masyumi “gagal” mencetak kader hebat yang dapat melanjutkan perjuangan dan mewujudkan cita-cita.
—————————

#Tafakkur-Jumatyangmulia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s