Terpikat Cak Nur (5 – Habis)

Kehalusan budi, kelembutan kata dan kesantunan dalam bertutur, serta pandai mengukur dan menenggang rasa adalah sesuatu yang jauh lebih memikat dalam pandangan saya, ketimbang kedalaman ilmu yang bahkan tak terselami atau keluasan wawasan yang tak terpermanai.

13501697_1067255416655565_2839731947797016854_n

Ada ilmuan atau akademisi yang begitu mendalam kemampuan di bidangnya, bahkan telah dapat mencapai gelar akademik tertinggi, tapi buruk perilakunya, merasa diri yang paling hebat dari yang lainnya, mulut bak “jilatang” yang selalu menebar luka dan kebencian di hati orang, tak pernah bosan meneriakkan bahwa dia telah melakukan ini dan itu, sementara yang lain dipandang tak bisa berbuat seperti yang dia lakukan. Kelakuan seperti itu seharusnya tidak ada pada seorang ilmuwan, karena ilmu dan kehalusan budi mestinya berjalan seimbang, ketinggian ilmu semestinya berbanding lurus dengan kehalusan akhlak dan budi.

Dalam konteks menyelami kepribadian seorang Nurcholish Madjid, watak, sikap dan ketinggian budi itulah yang membuat saya terpikat, dia telah menjadi salah satu sosok representatif dari pemikir atau cendikiawan Islam ideal, paling tidak untuk Indonesia. Tentu, sekali lagi, dalam hal kelembutan budi, bukan dari semua rentang pemikirannya yang acap kali memantik kontroversi.

Demikianlah, menjelang mengakhiri respons singkat yang diberikan kepadanya, Cak Nur langsung pamit,

“….saya mohon maaf dan mohon diri, tidak bisa mengikuti diskusi ini sampai selesai, tetapi ada anak-anak muda yang saya tinggalkan untuk tetap berada di sini sampai acara berakhir. Kemudian saya ingin mengulangi ajakan dan tawaran saya kepada Ustadz Daud Rasyid untuk bisa sesekali kita berdiskusi di Paramadina dengan landasan semangat untuk mencari kebenaran untuk membangun kekuatan Islam…” Pamungkas Cak Nur, kemudian dia turun dari mimbar lalu bersalaman dengan semua panitia, pamit pada semua yang hadir, dan berlalu.

Acara diskusi itu masih diteruskan, beberapa tokoh diberikan kesempatan untuk berbicara, di antaranya Kiyai Kholil Ridhwan, Ibrahim Madilaw, Hasan Kiat dan lainnya. Dalam kesempatan yang diberikan, Kholil Ridhwan bercerita,

“…. saya dan Cak Nur adalah sama-sama alumni Gontor, tapi dia seniornya, saya yunior. Pernah suatu kali saya bertemu dengan Pak Natsir dalam sebuah forum, kemudian saya memberanikan diri untuk menanyakan kepada beliau perihal Cak Nur ini. “Pak, Nurcholish itu kan anak didik kesayangan bapak, tapi kenapa dia sekarang menjadi seperti itu…”. Pak Natsir dengan nada yang agak tinggi kemudian menjawab. “…..dia memang anak saya, tapi apakah saya makan dan tidur bersama dia setiap hari…!” Saya kemudian diam dan tak melanjutkan pembicaraan itu…” ungkap Kiyai Kholil.

Nurcholish Madjid memang pernah dijuluki Natsir Muda, terutama ketika dia terpilih menjadi Ketua PB HMI periode 1966-1969. Julukan itu, kemudian seolah-olah “dicabut” karena pemikiran dan visi politik Cak Nur tidak lagi dapat dipandang sebagai penerus spirit Masyumi, dia sudah menyimpang dari agenda kebangkitan kaum muda Masyumi.

Namun sementara kalangan seolah-olah tidak mencermati, bahwa justru sosok Cak Nur adalah gambaran dari keberhasilan Natsir dalam melahirkan kader hebat. Kehalusan budi dan kesantunan watak itu bukankah sesuatu yang selalu menjadi “pakaian” Natsir yang kemudian “dipakai” juga oleh Cak Nur. Intelektualitas yang mendalam dan visi politik yang jauh, sebagaimana diperlihatkan Natsir, bukankah juga terlihat jelas pada sosok Cak Nur. Kita bisa berdebat panjang dalam persoalan itu, tetapi saya telah berkesimpulan bahwa Cak Nur itu adalah Natsir Edisi Revisi. Dia telah hadir di zaman yang berbeda dengan Natsir, tentu cara yang digunakan untuk mewujudkan visi dan cita-citanya tidak bisa sama persis sebagaimana langkah yang telah ditorehkan Natsir dalam cerita Indonesia yang panjang ini, dengan kata lain karakter Natsir ada pada Cak Nur, sementara strategi berjuang haruslah seukuran dengan keadaan yang terus berkembang.

Diskusi itu usai seiring dengan masuknya waktu ‘Ashar. Selesai shalat, saya dan ribuan orang lainnya kembali ke tempat masing-masing. Ada satu tempat yang kemudian terasa wajib saya singgahi, yaitu dua buah toko buku yang terletak di Jalan Kwitang Senen, hanya satu yang ingin saya cari, yaitu buku-buku Nurcholish Madjid. Saya tidak menemukan yang saya cari pada kedua toko buku besar itu. Justru saya bersuanya di tukang buku loak yang berjejer di sepanjang trotoar Jalan Kwitang. Usai itulah, entah kenapa, saya begitu bersemangat membaca buku-buku Cak Nur, saya tidak ingin ada yang terlewatkan. Saya baca lagi, dan lagi.

Tatkala itu saya mulai berusaha berpikir untuk memahami dan memandang perbedaan pendapat dalam kerangka yang obyektif dan argumentatif, tidak dalam rangka menyalahkan, menghukum dan berucap tutur peyoratif. Sekalipun hingga sekarang, usaha itu belum sepenuhnya berhasil.

Langkah yang saya tempuh untuk memahami Cak Nur seolah-olah menemui takdirnya, ketika tahun 2001, di tengah kesibukan menulis tesis di UI, saya diterima sebagai tenaga pengajar di Perguruan Madania “International Islamic Boarding School” yang terletak di Parung Bogor. Perguruan ini adalah buah cipta Cak Nur yang ingin menghadirkan sentuhan yang berbeda dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Saya tidak bisa bertahan lama di sana, karena almamater di kampung menghimbau jua

Saya masih terus berusaha menyelami tokoh ini, melalui karya-karyanya yang berulang kali saya baca. Sementara seorang kawan dari seberang sana telah mengingatkan saya, untuk apa membesar-besarkan orang yang selama hidupnya lebih sering menjadi problem ketimbang menjadi solusi bagi umat Islam.

Ya, kalau begitu sudahlah
Tapi saya akan terus membacanya.

Wallaahu A’lam bissawaab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s