Terpikat Cak Nur (4)

“Tidak bisa dipahami bahwa “subul” itu adalah bermakna jalan-jalan keselamatan, karena jalan keselamatan itu hanya satu, itupun ditegaskan dalam al-Qur’an,

Wa anna haadzaa shiraathii mustaqiiman fa ttabi’uuhu wa laa tattabi’u al-subula fa tafarraqa bikum ‘an sabiilihi….” (6: 153)
[Ustadz Daud awalnya membaca “…’an diinihi”, kemudian diingatkan Cak Nur bahwa yang betul adalah “…’an sabiilihi]

13501697_1066666910047749_4768582244562830213_n

(Ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah jalan itu. Dan jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lain, karena ia akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya….)

Jadi jalan keselamatan itu hanya satu, yaitu Islam…..” sergah Daud Rasyid. Padahal apa yang dikatakan Cak Nur secara substansi tidak ada bedanya dengan apa yang dikatakan Ustadz Daud, ia mungkin hanya berbeda dalam hal redaksi dan pilihan diksi serta intonasi ketika menyampaikan. Tetapi memang demikianlah ketika itu, bahkan ketika kini, tatkala perbedaan struktur redaksional dianggap sebagai perlainan substansial.

Cak Nur rupanya tidak mau berdebat soal itu dengan Ustadz Daud, karena hal tersebut adalah masalah interpretasi, yang sangat terbuka ruang untuk berbeda satu sama lain. Selanjutnya Cak Nur memberikan tanggapannya tentang Syi’ah,

“Ketika saya datang ke Iran, seorang Ulamanya memberikan sebuah mushaf al-Qur’an. Saya tidak menemukan satu hurufpun perbedaannya dengan mushaf yang kita punya, lalu dari mana kita mengatakan bahwa ia berbeda………!”

Tiba-tiba Ustadz Daud memotong,
“….bahwa ada perbedaan al-Qur’an itu bukan kaum Ahlussunnah yang mengatakan, tetapi kaum Syi’ah sendiri. Mereka mengatakan bahwa Qur’an yang ada pada kita (Sunni) tidak sama dengan Qur’an yang ada pada mereka (Syi’i), terutama dalam hal yang berkaitan dengan interpretasi “ahl al-bait”, jika ingin tahu persoalan ini, silahkan Cak Nur baca sendiri kitab “kasyf al-asraar” yang dikarang oleh Imam Khomeini…” Tegas Daud Rasyid, yang disambut takbir dan tepuk tangan hadirin.

Menanggapi itu Cak Nur hanya mengatakan dengan singkat bahwa dalam masalah tafsir, ulama Sunni juga tidak bisa menolak kehadiran karya-karya Mufassir kalangan Syi’ah seperti yang paling terkenal di antaranya adalah tafsir al-Mizan karangan al-Zamakhsyari……”.

Selanjutnya Cak Nur masih menanggapi persoalan tentang Syi’ah, dengan nada yang terkesan kecewa dia mengatakan,

“….seringkali terasa kita (Sunni) telah bersikap tidak adil kepada mereka (Syi’i), kalau di sini kita mengatakan ada Ahlussunnah wal jama’ah, maka seharusnya kita juga harus berani mengatakan ada Ahlussunnah wa Sysyi’ah, karena mereka banyak sekali sunnahnya, banyak sekali haditsnya…., jadi saya ingin agar kita melihat persoalan ini secara jernih…” Jelas Cak Nur.

Kalau kekuatan yang pertama itu adalah kemampuan “hujjah” dengan sumber literatur yang sangat luas, melingkupi ranah akademis timur dan barat, kekuatan Cak Nur yang kedua adalah kesantunan dan ke rendahhatiannya dalam ber “hiwar” (berdebat). Dia tidak mau menyerang balik lawan debatnya dengan kata-kata yang menohok, apalagi yang bernada mem-bully. Pilihan katanya selalu berada di rel yang aman, sekalipun lawan debatnya selalu membalas dan menghajarnya dengan ungkapan-ungkapan yang menelanjanginya habis-habisan.

Ke mana kesantunan pribadi dan etika dalam berbeda seperti ini, dicari kini…

Advertisements

One thought on “Terpikat Cak Nur (4)

  1. Assalamu’alaikum wr wb
    Saya ingin berkomentar dari sisi lain tentang Cak Nur, Terpikat Cak Nur?, adalah sebuah ungkapan sederahana namun sarat makna. Penulis yang menurut saya kagum akan pemikiran dan tindakan beliau dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Tetapi, perlu kita ketahui bersama dan saya kira penulis juga mengetahuinya, Cak Nur merupakan seorang pemikir Islam kontemporer yang banyak menuai kontroversi. Dengan pemikirannya, bahkan ada yang menggolongkan pemikiran beliau sebagai pemikir Islam Liberal. Label yang disematkan pada diri Cak Nur bukanlah tidak beralasan, saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul “Mengungkap Kebatilan Kiyai Liberal Cs” yang tulis oleh Hartono Ahmad Jaiz. Disana beliau mengutip sebuah pernyataan Cak Nur yang mengundang kontroversi. Cak Nur mengatakan agama itu seperti pedal pedati, baik itu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dll pada akhirnya nanti akan menuju pada satu titik yang sama yakni pusat dari pedal pedati itu sendiri. Disini Cak Nur ingin mengatakan bahwa semua agama itu benar, apakah itu Islam, dan lainnya sama saja. Tetapi kalau kita rujuk ke dalam Al Qur’an sungguh pernyataan Cak Nur tadi bertentangan dengan firman Allah yang mengatakan “sesungguhnya agama yang diterima disisi Allah adalah Islam..”. Saya kira, pemikiran seperti ini dapat menyesatkan dan membuat pemahaman tentang agama menjadi salah serta dapat pula menimbulkan konflik nantinya. Wallahu A’lam
    Demikianlah sedikit komentar saya, terkait apa yang sudah dibuat oleh penulis dalam blog ini. Mohon maaf bila ada kesalahan.
    Masihkah Terpikat Cak Nur ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s