Terpikat Cak Nur (3)

Ada dua kekuatan terpenting yang dimiliki Cak Nur, tidak banyak kalangan intelektual lain memiliki hal serupa. Pertama, dia mempunyai kekuatan argumentasi (rasikh fi al-hujjah) pada setiap persoalan yang dia lontarkan, tidak ada ucapan dan ungkapannya yang tidak berbasis pada literatur, semua dapat ditelusuri pada sumber-sumber klasik yang “berat”, baik dari Timur maupun yang berasal dari Barat. Tetapi hal ini juga dijadikan sebagai sasaran tembak oleh para penyerangnya, bahwa ternyata Nurcholish itu hanya ahli dalam mengutip-ngutip saja. Dari atas mimbar Cak Nur sempat mengeluhkan itu,

“Terkadang saya sering merasa serba salah, ketika saya mengemukakan kutipan-kutipan saya, dikatakan kok bisanya ngutip-ngutip saja. Ketika tidak ada kutipan juga dipertanyakan sumbernya dari mana, kan repot jadinya…” keluh Cak Nur.

13533045_1066280603419713_519841585252880726_n

“Oleh sebab itu, karena waktu yang diberikan pada saya sangat singkat, maka saya menitipkan sebuah makalah kepada panitia, untuk dibaca. Di dalamnya banyak sekali kutipan, termasuk hal-hal yang disebutkan oleh Ustadz Daud Rasyid tadi. Misalnya tentang “ahlul kitab”, apa yang saya katakan bahwa yang termasuk ke dalam kategori ahlul kitab itu adalah semua agama yang mempunyai kitab suci di luar Islam, itu bukan pendapat saya, melainkan pendapat dari seorang Ulama Minang yang berpikiran terbuka yaitu Syekh Abdul Hamid Hakim, dia kemukakan itu dalam kitabnya “al-Mu’in al-Mubin”. Mungkin banyak referensi yang sudah dibaca oleh Ustadz Daud yang belum saya baca, tapi sebaliknya mungkin ada literatur yang sudah saya baca tapi belum dibaca oleh yang lainnya….” Lanjut Cak Nur.

Nurcholish Madjid kemudian menyerahkan makalahnya itu kepada Ahmad Sumargono (almarhum), seorang tokoh muda Dewan Dakwah, seorang yunior Cak Nur yang tetap menghormati seniornya,

“…Saya titipkan makalah ini pada Ahmad Sumargono, dulu namanya tidak pakai Ahmad, Sumargono saja. Tapi setelah menunaikan haji namanya ditambah dengan Ahmad…” seloroh Cak Nur sambil menyerahkan makalahnya.

“Allah menyediakan jalan yang beragam kepada kita untuk memahami Islam dan meraih keridhoan-Nya, digambarkan dalam al-Qur’an itu dengan kata “subul” bentuk jamak dari “sabil”,

Yahdi bihi llaahu man ittaba’a ridhwaanahuu subul al-salam (5 :16)
(… Allah menunjuki orang yang mengikuti keridhoan-Nya kepada jalan-jalan keselamatan)

Oleh karena itu dalam Islam ada yang menempuh jalan Syari’ah, ada yang menempuh tasawuf atau jalan Sufi………….”

“Tidak begitu pemahamannya Cak Nur……”tiba-tiba Ustadz Daud Rasyid memotong pembicaraan. Cak Nur berhenti lalu kemudian mendengar apa yang ingin dikatakan Ustadz Daud…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s