Terpikat Cak Nur

Sekali waktu, dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta, transit di Soetta International Airport, menuju Padang. Ada jeda sekitar satu setengah jam untuk menunggu boarding. Saya kemudian memanfaatkannya untuk menikmati suasana bandara, sambil sesekali bertemu kawan-kawan yang juga tengah dalam perjalanan. Tiba-tiba, di salah satu lorong menuju ruang tunggu, saya melihat ada poster-poster berukuran besar yang dipajang di kiri kanan koridor, poster tokoh-tokoh inspiratif dari berbagai bidang, di antara mereka ada yang sudah meninggal dan ada pula yang masih menjadi “living legend”. Tampaknya sebuah majalah ternama sedang melakukan pameran promosi dengan menampilkan poster tokoh-tokoh hebat yang pernah menjadi ilustrasi dan laporan utamanya.

cak nur 1-a

Saya nikmati semua poster besar tokoh-tokoh itu, semuanya menarik. Tapi saya harus berhenti agak lama di depan poster Almarhum Nurcholish Madjid (semasa hidupnya akrab dipanggil Cak Nur), semoga Tuhan mengampuni segala dosanya. Poster itu menggambarkan Cak Nur berpenampilan layaknya seorang penjual buah dari kampung, berkopiah butut, kaos oblong, celana gembrong dan sarung yang digantungkan di bahu dengan ujungnya yang dibiarkan jatuh menjuntai. Menarik dan unik.

Sampai menjelang berakhirnya tahun 1992, saya adalah salah seorang pembenci Cak Nur, seorang “hater” dalam dalam istilah sekarang. Kebencian saya itu disebabkan oleh satu hal saja, yaitu penjelasan yang sering diberikan oleh beberapa orang guru yang mengatakan bahwa Cak Nur itu adalah salah seorang tokoh utama sekuler di Indonesia, bahwa dia tidak mengakui adanya konsep tentang Negara Islam sehingga dia memperkenalkan jargon “Islam Yes, Partai Islam No!”, bahwa dia menganjurkan Sekularisasi di Indonesia. Tapi di atas semuanya itu adalah karena dia menterjemahkan “Laa ilaaha illallah” dengan “tiada tuhan selain Tuhan”.

Dijelaskan juga pada saya, bahwa bukan hanya Cak Nur, tapi ada sosok-sosok lain yang se-geng dengan dia, yang mesti diwaspadai pemikiran-pemikirannya, nama-nama itu kemudian benar-benar dipatrikan pada saya, bahwa mereka adalah perusak Islam di Indonesia.

Lama juga saya berada dalam pikiran penuh benci itu, beberapa tahun agaknya. Sampai suatu ketika seorang kawan “sepengajian” di kawasan Koja Jakarta Utara memberikan informasi kepada saya bahwa besok akan ada “Pembantaian” (memang istilah itu yang dipakai kawan tadi) terhadap pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid yang diadakan di mesjid Amir Hamzah komplek Taman Ismail Marzuki, dikatakan juga siapa orang-orang yang akan membantainya. Tujuan utama kawan tadi adalah supaya saya hadir, agar marah dan benci
makin menjadi.

Pagi itu, hari Sabtu tanggal 13 Desember 1992, saya merapat ke TIM (Taman Ismail Marzuki). Ketika sampai di mesjid Amir Hamzah, saya menyaksikan ribuan orang telah penuh sesak dalam mesjid yang tidak seberapa besarnya itu, di luar jauh lebih banyak lagi, saya menaksir sekitar dua ribuan hingga tiga ribu orang tumpah ruah di lokasi itu. Saya mendesak masuk untuk berada di ruang utama mesjid, ketika itu Dr. Daud Rasyid (alumni Kairo Cum Laude dalam hadits) sedang menyampaikan “pembantaiannya”. Ustadz Daud memakai waktu cukup lama, sekira dua jam-an. Ketika dia selesai membantai, saya sudah mendapat tempat untuk bersila persis di tengah mesjid, semua wajah para pembantai di atas mimbar dapat dilihat dengan sangat jelas. Ketika sedang memantapkan posisi duduk, saya kaget saat menoleh ke sebelah kiri, ternyata Cak Nur ada dekat saya, hanya ada satu orang yang menyela tapi saya dapat melihat raut wajahnya dengan jelas.

Ustadz Daud sudah menuntaskan tugasnya, dia menghajar habis pemikiran Cak Nur dan literatur yang dia rujuk serta misi yang diduga berada di belakangnya. Tiba giliran Ridwan Saidi (sekarang dia dipanggil “babeh”), moderator mempersilahkannya untuk naik mimbar. Seperti biasa, ia mengawali dengan banyolan-banyolan, lalu berapi-api. Dia berbicara tentang Gerakan Zionis dan hal-hal yang relevan dengan itu, tentang Gerakan Theosofi di Indonesia, jejaringnya, polanya ataupun akibat yang ditimbulkannya. Kemudian Ridwan Saidi semakin berapi-api ketika bicara tentang Palestina dan banyak hal lainnya.

Selama peristiwa “pengadilan” itu berlangsung ada dua hal yang menjadi titik fokus saya, yaitu konten serangan yang dilakukan dari atas mimbar dan reaksi gestur Cak Nur dalam merespon. Di sinilah saya menyaksikan sesuatu yang, menurut pandangan subyektif saya, luar biasa. Saya tidak melihat Cak Nur tertunduk, tetapi malah sepanjang “serangan” itu terjadi, senyum simpatik tak pernah lepas dari wajahnya, termasuk saat Ridwan Saidi menyampaikan kecurigaannya bahwa Cak Nur sudah ditunggangi agen Zionis karena pembimbingnya di Universitas Chicago adalah seorang Yahudi, Prof. Leonard Binder.

“Keliru…..!”
Teriak Cak Nur tiba-tiba memotong pembicaraan Ridwan Saidi dari atas mimbar, suara itu tidak dikeluarkan dengan amarah melainkan masih dalam keadaan tersenyum simpatik…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s