Terpikat Cak Nur (2)

Rupanya Ridwan Saidi sedang berbicara tentang Palestina, dia menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan kompleks al-Aqsha al-Syarif, tentang Dome of Rock, tentang upaya pemerintahan Zionis Israel untuk mengaburkan posisi yang sebenarnya dari situs-situs peninggalan Islam di tanah suci Yerussalem itu. Tapi ada penjelasan yang disampaikan itu tidak tepat menurut Cak Nur, lalu dia menginterupsi. Sedikitpun interupsi itu tidak mempengaruhi Ridwan Saidi, dia terus saja berpidato berapi-api, sambil sesekali massa meningkahinya dengan pekik takbir, Allaahu Akbar !

cak nur 2

Sudah 24 tahun peristiwa di TIM berlalu, tapi masih segar dalam ingatan saya apa yang disampaikan, gaya dan intonasi Ridwan Saidi. Sejak dari persoalan Snouck Hourgronje yang menikah dengan wanita Pekalongan punya anak, lalu masuk Islam dengan benar, kembali ke negeri Belanda, saat meninggal diselenggarakan secara Kristen, hingga cerita tentang upaya Ridwan Saidi menelusuri di mana letak makam Snouck di Holland. Sejak dari kemungkinan banyaknya “agen” Zionis di Indonesia, hingga cerita tentang novel spionase berjudul “Jebakan Asmara Mossad” yang ditulis sastrawan Malaysia, Sa’ari Isa. Ridwan juga menceritakan bagaimana Sa’ari Isa menemukan fakta banyaknya mahasiswi asal Malaysia yang belajar di Amerika, menjadi korban operasi intelijen Mossad. Hanya waktu zhuhur yang bisa menghentikan pidato Ridwan, moderator mengingatkan, ia kemudian turun dari mimbar. Anehnya, Ridwan kemudian berjalan menerobos shaf-shaf yang rapat itu menuju Cak Nur yang masih saja tersenyum, sejenak kemudian keduanya bersalaman akrab. Tidak heran, karena keduanya adalah teman seperjuangan, dan sangat dekat dalam pertemanan.

Setelah selesai melaksanakan shalat zhuhur, acara dilanjutkan. Saya, mungkin juga yang lainnya, mendengar ada bisik-bisik dekat mimbar karena mikrophone masih dalam keadaan on,

“Dia (Cak Nur) kita kasih kesempatan ngomong ndak….” kata salah satu bisik dekat mimbar itu. Beberapa saat diam, karena di kalangan panitia sendiri ada keraguan, ditambah lagi Ridwan Saidi dalam salah satu bagian ceramahnya telah mengatakan,
“……inilah susahnya kita kalau ngomong dengan Cak Nur, jika kita tanyakan perihal pendapat-pendapatnya yang aneh itu, dia dengan mudah akan berkelit…. O, itu wartawan salah kutip. O, inilah. O, itulah…. jadi kite bingung, pendapat mana nyang mesti kite pegang. Makenye, supaya kite nggak makin bingung, kagak usah dengerin dia ngomong…” kata Ridwan dengan gaye Betawi yang kental, sebelum shalat Zhuhur itu.

Dalam suasana keraguan, apakah diberi kesempatan atau tidak, itu tiba-tiba terdengar seseorang memecah bisik,
“…. karena orangnya hadir, kita kasih saja kesempatan. Tapi tak boleh lama-lama, paling kita beri dia waktu sepuluh menit….” kata suara bisik itu.

Dapat dibayangkan betapa tidak adilnya kesepakatan itu. Ustadz Daud Rasyid memakan waktu lebih dari dua jam, Ridwan Saidi juga hampir dua jam. Tapi, Cak Nur hanya diberi waktu sepuluh menit, apa yang dapat disampaikan dalam waktu sepuluh menit, sementara lebih empat jam sebelumnya semua serangan terhadap otoritas keilmuan dan integritas kepribadiannya telah dilontarkan sehabis-habis peluru.

Saya ketika itu juga berpikir sama dengan sebagian besar orang-orang yang hadir, bahwa setelah peristiwa TIM itu Cak Nur akan segera berakhir dan penjelajahan intelektualnya tak diragukan lagi akan segera tamat. Memberikan dia waktu sepuluh menit itu tidak akan dapat menghasilkan apa-apa, kecuali malah akan membuat dia semakin terlihat bersalah dan malu.

Saya melihat senyum dan ketenangan yang luar biasa dari Cak Nur ketika moderator mempersilahkannya untuk naik mimbar dengan alokasi waktu yang teramat singkat itu. Sesungguhnya orang-orang yang hadir tidak ingin mendengar Cak Nur berbicara, mereka hanya berkeinginan supaya ceramah hanya berisi kecaman dan serangan terhadap Nurcholish Madjid.

Cak Nur sudah di atas mimbar dengan keyakinan yang begitu kuat terpancar di wajahnya, dia memulai dengan ucapan salam yang datar dan berat, dia langsung masuk ke pokok persoalan. Saya terpesona dengan ketenangan, intonasi dan pilihan diksi yang dia gunakan. Alhamdulillah, hingga kini saya dapat mengingat dengan baik poin-poin penting yang dia sampaikan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s