Zaman Yang Terluka. (7 – Habis)

Dengan berbagai pertimbangan, di antaranya akurasi informasi dan kelengkapan data termasuk aspek psikis lainnya, maka perbincangan tentang pergumulan ulama modernis lokal dengan ideologi kiri pra dan pasca tragedi 1965 tidak dapat diteruskan. Tapi sebuah karya dengan genre Novel Sejarah “based on true story” dicoba untuk dipersiapkan, menjawab berbagai dorongan dan dukungan moral dari berbagai pihak, terutama kawan dan sejawat. Di antara beberapa opsi, sebuah tema pun mengemuka yaitu, “Percikan Darah di Sorban Merah” (Ambiguitas Ulama Lokal Dalam Pertarungan Ideologis). Kiranya diberikan kemudahan untuk menggerakkan qalam.

13528726_1063264157054691_8294262959206418761_n

Perbincangan di surau, usai tarwih malam itu, telah dikunci oleh salah seorang tetua,

“Cerita dan kesaksian ini harus diwariskan kepada anak-anak kita, ajaklah kami yang tua-tua ini untuk terus menggali ingatan selama kami masih ada. Semua pasti ada gunannya, ada nilai, ada tragedi, ada kepahitan, ada trauma, ada keanehan tentang suatu zaman yang tidak pernah terpikirkan, lalu ketika kita keluar dari zaman itu seolah baru saja tersentak dari tidur yang dipenuhi rangkaian mimpi buruk memilukan. Apa mimpi yang paling buruk selain ketika terjaga, kita menemukan tubuh penuh luka, dada yang tertikam, hati yang tersayat pedih. Tubuh kita terguncang hebat ketika mencoba bangkit dari peraduan yang juga telah dipenuhi darah, darah kita sendiri. Tapi kita harus menyembuhkan semua itu, karena hidup tidak pernah mengenal kata tunggu” Ujar sang guru lirih.

Kami kemudian berdiri dan saling bersalaman, lalu beranjak untuk kembali ke kediaman masing-masing. Malam telah merayap menuju pagi, saya pun kemudian bergerak menyusuri jalan-jalan yang dulu pernah ditempuh saat pergi dan pulang mengaji, lebih dua kilometer panjangnya, dengan berjalan kaki.

Ketika itu, banyak cerita sudah saya dengar, tentang sebidang tanah lapang yang berada persis di pinggir jalan menuju surau. Sering kami berlari saat melintasi tanah itu dikala malam. Cerita itu abadi hingga kini, tentang orang-orang yang dikubur sebelum mati. Tentang telapak kaki, Ya…, telapak kaki manusia, yang menyembul di permukaan tanah akibat dikubur dengan penuh kebencian dan amarah. Setiap kali malam melintasi lahan ini, sering putih tapak kaki kami karena berlari. Hingga kini tidak seorangpun mau menggarap atau membangun rumah di lahan kosong yang cukup luas itu. Ia seperti dibiarkan terbengkalai begitu saja, agar tetap menjadi saksi bisu atas pilu dan prahara, pada Zaman Yang Terluka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s