Zaman Yang Terluka (6)

Teriakan-teriakan dari atas panggung yang dipekikkan oleh para orator, dirasakan oleh pria dari selatan itu bak hantaman palu godam di ubun-ubunnya. Dia menerobos kerumunan dengan keberanian tak berbatas, dia merangsak mendekati panggung, sejenak kemudian dia sudah berada di depan para juru pidato.

13509134_1062658127115294_8587418855567315509_n

Salah seorang dari tokoh yang berpidato itu mengenal orang dari selatan ini, dan cukup banyak kalangan masa yang berjubel itu juga mengetahui siapa dia. Orang-orang yang mengenalnya diliputi rasa heran, untuk apa dia hadir di tengah massa yang sedang marah karena semangat anti PKI yang tengah memuncak. Di tengah rasa heran sebagian orang yang ada di lapangan itu, tiba-tiba terdengar teriakan bersahutan antara seseorang yang tepat berada di depan panggung dengan juru pidato yang tengah berorasi.

“…. basorak je lah kalian, nan PKI akan tataok manang…!”
(Berteriaklah kalian terus, namun PKI akan tetap menang)

Rupanya teriakan itu meluncur deras bak banjir bandang dari mulut pria selatan itu. Awalnya, tidak semua yang hadir di lapangan itu bisa mendengar pekik melawan arus tersebut. Tapi sejurus kemudian semua orang mulai gaduh, semua menunjukkan kegeraman, sekelompok anak muda kemudian berniat mengepung dan menangkap pria selatan itu, tapi dicegah oleh seorang tokoh yang berada di atas panggung. “Biarlah, kita berikan kesempatan kepada orang ini untuk tidak melanjutkan aksinya…” Kata tokoh itu. Beberapa saat kemudian, keadaan gaduh berangsur normal.

Mendapat peringatan seperti itu, pria tersebut dengan pelan dan hati-hati mencoba bergerak menjauhi konsentrasi massa, dia kemudian menuju tempat di mana sepedanya diparkir. Dengan muka yang masih memerah padam, dia genjot kembali sepedanya ke arah selatan. Tapi beberapa anak muda yang ingin menangkapnya tadi tidak senang diam. Dengan beberapa sepeda ongkak mereka menyusul mengejar sang pria dari selatan.

Kejar-kejaran antara sebuah sepeda mewah dengan beberapa ongkak pun terjadi. Pemuda-pemuda itu berhasil menyusul dan menangkap si pemilik sepeda relly, ia kemudian diseret ke sebidang ladang yang merimba di balik sawah, tak jauh dari jalan yang menjadi penghubung utama antara nagari sebelah selatan dengan utaranya. Kemarahan para pemuda itu sudah terlepas dari kekangnya, salah seorang di antara mereka lalu mencabut sebuah “tuga” (kayu yang diruncingkan, berfungsi melubangi tanah untuk kemudian dimasukkan biji-biji tanaman tertentu), kemudian menikamkannya sekuat tenaga tepat di ulu hati si pria dari selatan, berulang kali, tanpa bisa memberikan perlawanan, karena kaki dan tangannya sudah dikunci pemuda yang berkawanan. Pria itu kemudian meregang nyawa, lalu kemudian ditinggalkan begitu saja.

“…si Jun telah diganyang….si Jun telah diganyang….!” Teriak orang-orang dalam bisik di nagari sang pria selatan. Rupanya dia bukan orang sembarangan, dia adalah anak dari seorang tokoh Kominih nagari selatan yang sangat ditakuti, ayahnya bernama “Kadir”. Tapi orang di kampung menyebutnya “Kadie”. Ciri khas si Kadie ini, kalau dia berjalan wajahnya menengadah saja ke langit, selalu mendongak. Orang di nagari kemudian menjulukinya “Kadie Langik”. Anaknya itu di kampung dipanggil dengan sebutan si Jun, nama lengkapnya Julkipli. Yang tidak kalah hebatnya adalah, si Jun seorang aparat negara, dia adalah Polisi. Semoga Tuhan mengampuni dosanya dan menerima perbuatan baiknya.

Peristiwa itu terjadi sebelum Soeharto mengumumkan Pembubaran PKI dan menyatakannya sebagai Partai Terlarang, sehari setelah dia menerima Supersemar dari Presiden Soekarno, Pemimpin Besar Revolusi.

Pembantaian terhadap Julkipli adalah rangkaian awal dari bulan-bulan penuh darah di nagari selatan dan sekitarnya, yang masih menyesakkan dada untuk dikenang. Tetapi para tetua dan guruku masih saja meneruskan cerita-cerita malam di surau itu.

Maka meluncur pulalah dari mulut mereka, kisah tragis yang menimpa seorang ulama berpaham modernis, dia mempunyai banyak murid yang diajarnya mengaji, sebagian muridnya itu masih hidup hingga kini….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s