Zaman Yang Terluka (5)

Keyakinan orang-orang Kominih, sebagaimana yang diceritakan itu, bahwa kekuasaan akan segera mereka raih dalam waktu yang tidak lama lagi, bersahutan dengan keyakinan orang-orang non-kominih bahwa jika memang akhirnya Komunis akan berkuasa maka itu adalah akhir dari riwayat mereka. Pandangan seperti itu mengemuka begitu saja, bukan hasil dari rekayasa tentara, sebagaimana banyak diduga, tapi lebih sebagai akibat dari gelagat, perilaku, ancaman ataupun intimidasi yang diperlihatkan oleh para tokoh Kominih terhadap masyarakat luas yang menolak ajakannya untuk bergabung ke dalam PKI.

13466163_1062124787168628_3441603444787826908_n

Lontaran-lontaran verbal dan perilaku intimidatif dapat dihembuskan disembarang tempat, bisa di pasar, di jalanan, di lepau atau bahkan di surau. Intimidasi yang paling sering dilakukan di surau adalah mengintai atau memata-matai kegiatan pengajian, yang paling berperan dalam kegiatan-kegiatan seperti itu adalah Organisasi Pemuda Rakyat. Di lepau atau di pasar pun demikian, intimidasi verbal dilakukan secara halus, seperti ungkapan tentang kereta yang akan segera berangkat itu, ataupun secara kasar yang sering ditujukan kepada anak-anak muda “nan jolong gadang”. “… kok lai nio iduik ang salamaik, capek masuak ka dalam barisan…” (jika mau hidupmu selamat, segeralah masuk ke dalam barisan). Begitu pilihan ucap yang digunakan untuk memaksa dan mengancam.

Setelah peristiwa 30 September meletus di Jakarta, itu sama sekali tidak menyurutkan kegarangan para pentolan Kominih di kampungku itu, mereka tetap mempunyai keyakinan penuh bahwa kemenangan dan kuasa akan segera direbut. Padahal aksi-aksi untuk persiapan “serangan balik” dan rapat-rapat umum telah disipongangkan oleh berbagai organisasi, terutama Islam, dalam hal ini adalah organisasi Muhammadiyah dan NU.

Bulan-bulan pertama pasca 30 September itu, agenda rapat-rapat umum tak pernah berhenti. Di antara tempat yang sering digunakan untuk kegiatan tersebut adalah lapangan tugu pasar Pauh Kambar. Hingga kini tugu itu masih berdiri kokoh di tempatnya, dan menjadi saksi terhadap perilaku manusia yang senang saling melukai.

Sekali waktu, rapat umum telah dimatangkan di tugu itu, orang sudah berduyun-duyun dari berbagai penjuru untuk menyaksikan para orator berpidato membakar masa, mereka datang dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan apa saja yang dapat diracak

Dari arah selatan, seseorang telah menggenjot sepeda Relly-nya (sepeda yang melegenda dan tak banyak orang yang punya ketika itu) untuk mendatangi konsentrasi massa, tapi dia punya niat yang berbeda. Ya, sama sekali berbeda dengan semua orang yang telah berjubel memassa.

Ada dua tokoh lokal yang dielu-elukan saat itu. Yaitu Buya Djalil dari Marunggi, dia adalah tokoh orator Muhammadiyah dan Tuanku Mudo Josan, seorang Alim muda dari kalangan NU Ulakan. Keduanya sedang di atas panggung memberikan orasi gilir bergilir, tak putus-putusnya. Massa bertampik sorak-sorai mengikuti setiap teriakan sang orator. “…bubarkan PKI !”
“…ganyang PKI !”
“…bunuh PKI !”
Dalam suasana yang penuh sorak-sorai gempita itu, seseorang yang datang dari arah selatan tadi telah sampai ke lokasi, dia meletakkan sepeda Relly-nya. Dengan muka yang memerah marah dia melangkah menuju konsentrasi massa….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s