Zaman Yang Terluka (3)

Diorama imajiner yang saya saksikan itu sontak berakhir, padahal masih banyak yang akan melintas kilas, karena waktu untuk melaksanakan shalat ‘Isya sudah tiba. Azan kemudian dikumandangkan, iramanya belum banyak berubah, masih seperti lagu tiga puluhan tahun lalu, saat saya mengumandangkan.

13417410_1060470980667342_6203673072414695147_n - 1

Seusai shalat ‘Isya, saya dipersilahkan untuk menggunakan waktu seberapa perlu, menyampaikan kajian menjelang pelaksanaan shalat tarwih, dulu kami menyebut kegiatan itu dengan “wirik” ataupun wirid, tapi belakangan ini istilah “pengajian” lebih banyak digunakan, bersela-sela pula dia dengan sebutan “pengkajian” yang sudah mulai pula terpakaikan.

Entah mengapa, setiap kali berhadapan dengan jama’ah surau itu, saya merasakan kegairahan yang lain. Kadangkala saya seperti melihat diri sendiri semasa kecil tatkala mengikuti ceramah yang disampaikan Almarhum Buyaku, sambil bersandar ke dinding seperti yang lainnya, dan tak jarang sambil mengantuk pula. Malam itu pun demikian juga terasa, saya menyampaikan kajian tentang persoalan-persoalan yang sederhana, dengan santai dan diiringi canda tawa, waktu yang terpakai lamapun tak terasa, tapi taushiyah hasanahnya mesti diakhiri karena pelaksanaan shalat tarwih telah menanti.

Usai ‘Qiyamurramadhan’, saya dan beberapa orang tetua dan guru tidak langsung pulang. Kami berhalaqah untuk membincangkan berbagai hal, sejak persoalan kesinambungan pengajaran di surau, masalah ta’mir hingga berbagai persoalan yang muncul dan berkembang di kampung halaman.

Perbincangan malam itu serta-merta menggalencong kepada berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu, masa lalu yang sudah cukup jauh, sekitar awal abad ke dua puluh. Naluri saya berbisik bahwa ini adalah momen yang susah dicari dan sulit untuk diciptakan, saya segera mengambil posisi ‘mencerek’ di hadapan para guru dan tetua itu. Maka mengalirlah kisah dan cerita-cerita hebat, satu sama lain dari mereka saling mengkonfirmasi tentang kebenaran cerita yang mereka gelontorkan, terkadang saling membenarkan, di lain sisi juga saling koreksi dan saling melengkapi. Sebagian dari cerita-cerita itu pernah juga dituturkan Buya kepada saya dengan jalan “sanad” yang kuat tentunya.

Episentrum cerita-cerita itu bersipusu di sekitar persoalan awal munculnya Gerakan Kaum Muda (istilah yang dipakai masyarakat kawasan ini adalah “Kaum Maju” atau “Ughang Maju”) di nagari Ulakan dan sekitarnya. Mengalirlah cerita begitu saja, saya lebih banyak mendengar dan memancing-mancing ala kadarnya, membuat beliau-beliau itu makin bersemangat mengeluarkan simpanan-simpanannya….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s