Zaman Yang Terluka

Pada malam keempat bulan Ramadhan 1437 Hijriyah ini, tepatnya 8 Juni 2016 lalu, saya tidak mampu menolak permintaan seorang guru saya di surau pada masa kecil berpuluh tahun lalu. Beliau minta agar malam itu saya pulang, untuk berbagi cerita dan inspirasi menjelang pelaksanaan shalat tarawih, di suatu tempat yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, namanya Surau Duku.

13407279_1059384394109334_4117480471203130689_n (1)

Saya pulang, meskipun malam itu saya sudah punya agenda di Sebuah sudut Kota Padang. Perjalanan sejauh 50 kilometer lebih terasa dekat, karena guru yang memanggil. Hormat kami kepada guru ada pada ekspresi yang berbeda, tidak ada kultus yang berlebihan, terhadap kami sang guru bahkan lebih menempatkan diri sebagai teman. Oleh karena itu, air sisa minumnya tidaklah kami perebutkan. Tetapi di batin, mereka kami hormat agungkan.

Semuanya memang telah berubah, tak terkecuali surau itu. Bangunan lama telah lenyap disapu bantuan orang-orang di rantau yang tak pernah berhenti mengalir. Tetapi tatkala saya berada di sana, suasana tempo dulu itu tetap kuat terasa. Ketika berada di dalamnya saya seperti menyaksikan masa lalu. Seolah terlihat saat Buya (panggilan kami pada Ayah) menyerahkan saya untuk belajar di surau itu, dengan membawa dua jenis benda yaitu seikat lidi yang dianyam dan sebuah lampu sumbu yang terbuat dari kaleng cat ukuran kecil yang diisi minyak tanah dengan sumbu perca kain yang dipilin di atasnya, di kampung kami menyebutnya dengan “dama togok”.

Ketika itu saya sudah mengerti kegunaan kedua benda itu, tentu dari cerita para senior yang sudah lebih dahulu belajar di surau, atau dari orang-orang tua yang sering kami dengar ceritanya. ‘Dama togok’ adalah untuk penerangan saat mengaji, walaupun ketika itu sudah ada lampu petromak. Sementara lidi yang seikat itu berfungsi untuk melecut kami sekiranya bermain-main saat belajar atau melakukan kesalahan yang pantas diganjar hukuman. Pada masa itu biasalah bagi kami kena lecut berkali-kali pada tangan dan kaki, kadang bertambah pula hukuman lain, misalnya seperti “tagak itiak” (berdiri dengan sebelah kaki) atau bahkan vonis lebih tinggi lagi, yaitu tagak itiak sambil tangan kanan memegang telinga kiri dan tangan kiri memegang telinga kanan, maka bersilanglah tangan kawan itu di dadanya. Tapi anehnya, tidak ada kami ketika itu yang berani melawan guru, semua hukuman itu diterima dengan penuh kesukarelaan. Jangan pula coba-coba “mengadu” pada mak di rumah, karena bisa saja hukuman yang malah bertambah, atau paling tidak kena marah. Zaman itu para orang tua sangat yakin, tidak mungkin anaknya dihukum kalau tidak melakukan kesalahan. Maka lidi yang seikat itu memainkan peran sangat penting dalam tumbuh kembangnya pemahaman kami bahwa semua perbuatan mesti dipertanggungjawabkan.

Buya menyerahkan saya mengaji di surau sebelum masuk sekolah, tetapi saat itu saya sudah pandai baca Qur’an karena Buya telah terlebih dahulu mengajar kami di rumah, mengaji ke surau itu tujuannya untuk memperhalus-halus bacaan saja lagi, ditambah dengan irama atau seni lagu membaca al-Qur’an.

Semua bayangan itu berkelebat saja, seolah-olah nampak pula segala kenakalan-kenakalan kami saat mengaji, kesenangan kami berebut untuk memompa lampu petromak yang mulai lindap karena anginnya yang berkurang, kejahilan mengikatkan dengan diam-diam sarung teman dengan sarung kawan yang disebelahnya, sehingga ketika berdiri mereka terjatuh atau saling hela menghela, kami tergelak tawa, ia baru akan berakhir kalau lidi yang seikat itu telah “berbicara”.

Setelah mengaji kami tidak pulang, tidurlah di surau. Berasa aib dan cela kalau anak laki-laki masih tidur di rumah “orang gahatnya”. Anak seperti itu akan jadi bahan olok-olokan teman sebaya, di surau saat mengaji ataupun di sekolahnya,

“Wa ang anak amak, lalok di bawah katiak induak, indak buliah sato doh…..!” Begitu ejekan yang sering diderita anak laki-laki yang tidak mau tidur di surau pada zaman itu. Lalok di surau adalah pelajaran awal tentang kemandirian hidup bagi laki-laki Minang, sejak kecil sudah mulai merentang jarak dari ketergantungan terhadap orang tua, tidur di surau tak bertikar apalagi bantal, berkelimun dengan kain sehelai di hamparan lantai. Dingin, tentu saja, bahkan terkadang disengat “sipasan” (lipan) di tengah malam, atau dipatuk bisa “karawai” yang berterbangan liar. Tapi itulah latihannya, karena kehidupan bagi lelaki Minang jauh lebih berat dari sekedar dinginnya lantai surau, sakitnya digigit sipasan atau pedihnya sengatan karawai…….

——–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s