Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif. (7 – Habis)

“Saya memang mendukung Ahok dalam kontestasi Pilgub DKI 2017 ini, tapi dukungan itu bukanlah dukungan secara politis, apalagi secara ideologis, dukungan saya adalah dukungan pada dimensi moralitas. Bahkan sesungguhnya dengan dukungan tersebut saya ingin melihat munculnya para calon pemimpin terbaik bangsa, dari manapun asalnya atau latar belakang keyakinannya, karena hanya dengan sikap demikianlah kita dapat mempertahankan keberadaan Indonesia sebagai sebuah bangsa…” tegas Buya menangkis tanya saya.

13269251_1058738560840584_9025509670232879988_n

Berbagai argumentasi kemudian dikemukakan Buya pada kami, substansinya bertumpu pada dua hal yaitu tegaknya pemerintahan Indonesia yang berbasis pada supremasi sipil dan pengokohan moralitas bangsa, terutama yang berkaitan dengan pemberantasan korupsi yang disebut Buya sebagai kejahatan terhadap peradaban.

Kekecewaannya yang besar, tidak bisa ia sembunyikan kepada kami. Ia sangat kecewa terhadap para “pemimpin” yang telah mengemban amanah yang telah diberikan masyarakat selama ini, tetapi semua amanah yang diberikan itu telah dikhianati habis-habisan dan tanpa rasa malu. Pengkhianatan terhadap kepercayaan yang telah diberikan, berupa mewabahnya perilaku koruptif dan sikap ‘abuse of power’ (penyalahgunaan kekuasaan) untuk kepentingan seseorang ataupun sekelompok orang, telah menimbulkan keputusasaan pada sementara kalangan masyarakat. Dalam keadaan putus asa itu, kemunculan sosok-sosok yang tegas, berani, blak-blakan dan terkesan bersih seolah-olah terasa seperti orang yang menemukan oase di tengah kegersangan gurun pasir yang tak terperikan, Ahok muncul dalam suasana seperti itu.

Saya bisa memahami kegeraman Buya terhadap keadaan yang dia rasa terus memburuk ini, memahami tentu tidak bisa diartikan setuju dan ittiba’ terhadap semua pilihan dan pemikirannya. Ada ruang yang sangat lebar untuk berdebat tentang pemikiran, pernyataan dan pilihan-pilihan seorang sekaliber Buya Syafi’i Ma’arif.

Semua harus bisa belajar untuk tidak selalu menempatkan seorang tokoh dalam ‘framing’ hitam putih, termasuk orang seperti Buya ini. Sungguh keliru terasa jika menilainya pada dimensi kepentingan dan target-target politik tertentu yang ingin diraihnya. Dengan usia 80-an tahun, Buya tak lagi punya syahwat dan pretensi politik, bahkan saya menyaksikan beliau sungguh sudah menjalankan kehidupan dengan praktek kesalehan yang “asketik”, menekankan kesucian hati dan kebersihan moral dalam segala tindakan. Saya tak melihat pembantu di rumahnya, semua dikerjakan sendiri, bahkan ketika saya tanya tentang siapa yang menemaninya dalam setiap perjalanan ke luar negeri, beliau menegaskan tidak ada, bayangkanlah orang setua itu. Di lingkungannya Buya pun demikian, jika sedang di rumah dia selalu shalat di mesjid komplek perumahan Nogotirto itu, seusai maghrib dia tak akan pulang sebelum menegakkan shalat ‘Isya, sambil menunggu waktu dia berbincang dengan jama’ah atau para tamu yang mendatangi atau membaca Qur’an sambil menyandarkan punggungnya yang sudah ringkih itu pada kokohnya dinding mesjid.

“….setelah memahami keindonesiaan, kalian mesti dapat memahami dan menyelami nilai-nilai kemanusiaan..” Ucap Buya pada kami. Pemaknaan yang beragam tentu dapat saja muncul dari pernyataan seperti itu, misalnya dengan mengatakan bahwa Buya itu seorang Humanis, mengarusutamakan nilai kemanusiaan di atas nilai lainnya. Lalu apakah ada yang salah dengan pilihan sikap seperti itu, bukankah Al-Qur’an sendiri juga mengajarkan tentang keharusan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan atau kemestian melindungi hak-hak manusia dari segala bentuk sikap aniaya, bahkan bukankah salah satu hal yang membuat Islam itu “eksotis” di mata orang-orang di luar Islam adalah karena keberpihakannya kepada nilai-nilai Humanis itu, seperti pandangan Houston Smith misalnya yang telah dia syarah dalam bukunya “The Religions of Man” itu.

Nampaknya dalam kerangka inilah Buya harus dipandang, sehingga akan diperoleh pemahaman tentang pikiran, sikap dan pilihan-pilihan yang dia ambil.

“…. di kursi tempat kalian duduk itu, beberapa hari lalu kepala BIN yg duduk di sana, seminggu sebelumnya ada si Puan, lima hari lalu kepala BNPT, Luhut, Jokowi juga sudah duduk di situ. Saya ini apa, untuk apa mereka-mereka itu mendatangi saya, orang tua bangka seperti saya ini….” Ucap Buya berseloroh.

“Kehormatan” yang diberikan orang-orang tersebut kepada Buya itu pun bisa diperdebatkan tak habis-habisnya. Argumen politik bisa dibangun, argumen agama juga bisa dikemukaka. Namun di atas itu semua sikap Humanis Buyalah yang membuat dia dapat perlakuan sedemikian rupa. Di sinilah penyesalan seorang Syafi’i Ma’arif terbongkar.

“…..oleh karena itu dua hal yang menjadi buah sesal saya akhir-akhir ini. Pertama saya menyesalkan kenapa kalian yang muda-muda ini berdiaspora besar-besaran ke dalam dunia politik praktis dan meninggalkan dunia ilmu yang berbasis kearifan, dengan penyesalan ini bukan berarti pilihan kalian itu salah, tapi kenapa semua berhasrat besar ke lahan yang sama, padahal begitu banyak medan yang tersedia untuk kita dapat berkontribusi pada bangsa…….. Penyesalan saya yang kedua adalah mengapa saya seperti sekarang ini justru pada saat tua, sekiranya sejak muda tentu banyak hal yang dapat saya lakukan untuk kemajuan umat dan bangsa….” ungkap Buya terus terang

Penyesalan Buya itu tentu tidak bisa dipahami secara harfiah, dia adalah semacam “psychological striking force” atau “tonjokan psikologis yang ditujukan kepada kami agar berbuat lebih maksimal bagi kemajuan umat dan bangsa, sesuai dengan porsi masing-masing, sekecil apapun itu.

Sungguh perbincangan kami terasa sangat luas, tidak lupa Buya juga mengungkapkan pandangannya tentang Syi’ah, Ahmadiyah dan berbagai hal tentang kawasan Timur Tengah. Tapi itu semua dapat ditelusuri di media masa yang memuat pernyataan Buya.

Sekitar dua setengah jam kami berbicara, bertukar pikiran secara terbuka, banyak yang dapat kami peroleh dari Buya, bukan lagi persoalan setuju atau tidak setuju tapi lebih kepada betapa pentingnya mendengar buah tutur para tetua, karena mereka sudah memiliki “hikmah” sementara kita yang muda belum punya.

Kami pamit mohon diri, diantarnya kami sampai ke pintu pagar, lalu Buya bertanya, “…dengan pesawat apa balik ke Padang…”

“…dengan Garuda Buya” jawab saya.
“Kalau begitu Muballigh Muhammadiyah tidak lagi miskin….” tukas Buya, kami lalu sama-sama tertawa.

Kami bergerak menjauhi rumah itu, saya kemudian melihat istri Buya membenahi jemuran yang diterbangkan angin di lantai dua, rambutnya yang putih juga dikibas angin. Mereka berdua melakoni semua itu, tanpa terlihat seorang pembantu…… asketik !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s