Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif (6)

Setelah membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan beragama di Indonesia, Buya lalu menanyakan kepada Bikhu itu tentang populasi penganut Budha di Indonesia. “Jawaban mereka membuat saya tersentak, terdiam, dan merasa kehilangan kata-kata untuk melanjutkan topik itu”. Tutur Buya.

Para Bikhu yang berkepala plontos, licin dan mengkilat itu menjelaskan kepada Buya bahwa mereka sama sekali tidak pernah merisaukan jumlah mereka yang sedikit, dan tidak pula pernah merasa iri kepada populasi pemeluk agama lain yang besar, justru kekhawatiran mereka adalah kalau para Budhis hidup dengan standar kualitas kehidupan yang rendah, baik kualitas ekonominya, pendidikannya, moralitas budayanya maupun kualitas rasa welas asihnya kepada sesama manusia.

“Jadi, kita sesungguhnya membutuhkan spektrum pergaulan yang tidak bersekat, lintasilah batas yang selama ini telah kita ciptakan sendiri. Bukankah spirit al-Qur’an itu justru memerintahkan kita untuk membangun relasi dan interaksi dengan semua manusia dengan mengabaikan semua latar belakang dan perbedaan yang sudah pasti ada. Apalagi dalam ranah kebangsaan kita, mereka bukanlah musuh, melainkan mitra” Tukas Buya di penghujung cerita tentang para Biksu itu.

13432226_1058194290895011_4566815842684706938_n (1)

Wawasan seperti ini tentu juga bukan hal yang asing dalam prinsip etika Islam ketika berhadapan dengan segala bentuk heterogenitas manusia. Tapi nampaknya Buya menegaskan ini kepada kami sebagai bentuk otokritik terhadap realitas obyektif di lingkar dalam Muhammadiyah yang masih banyak menganut pemahaman bahwa semua yang berbeda keyakinan dengan kita adalah “musuh”, tak ada ruang untuk “bekerja sama” apalagi bermitra.

“Yang ketiga, kalian mesti memahami Keindonesiaan. Kemuhammadiyyahan dan Keindonesiaan itu ada dalam satu tarikan nafas, ia tidak bisa dipisahkan, itulah sebabnya semenjak proses merumuskan Indonesia buat kali pertama dalam sidang-sidang BPUPKI/PPKI, merebut kemerdekaan dan mempertahankannya, hingga berkontribusi besar dalam membangun bangsa, Muhammadiyah selalu berdiri di barisan paling depan, baik secara “Jam’iyyah” (keorganisasian), maupun secara “Syakhshiyyah” (kiprah individu para kadernya).

Dalam hal demikian, Buya tanpa ragu kemudian menegaskan bahwa membesarkan dan memajukan Muhammadiyah sesungguhnya sama dengan membesarkan dan memajukan Indonesia. Jadi, kalau negara membantu Muhammadiyah sama artinya dengan membangun dan membantu negara itu sendiri. Bahkan dibantu atau tidak Muhammadiyah tidak pernah berhenti berbuat dan melaksanakan apa yang sesungguhnya diamanahkan konstitusi terhadap negara, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Muhammadiyah telah melaksanakan semua itu melalui Amal Usaha yang terus berkembang.

Buya, masih dalam konteks yang sama, kemudian menyebut berkali-kali nama Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, Dr.H.Shofwan Karim, MA, sekaitan dengan bantuan pemerintah terhadap Muhammadiyah, bahwa bantuan tersebut tidak boleh membuat kita kehilangan kebanggaan dan rasa percaya diri, biasa saja itu, segar apapun besarnya kita dibantu.

“Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta ini misalnya, sekarang kita sedang melakukan ekspansi besar-besaran dengan dana sekitar 260-an milyar, tanahnya sudah ada. Itu hasil bantuan dari berbagai pihak berkat lobi dan kedekatan kita, namun bantuan itu harus tetap membuat kepala kita tegak, karena membesarkan Muhammadiyah adalah membesarkan Indonesia…..” Cergas Buya.

Prinsip yang dipegang kuat oleh Buya menyangkut “memahami Indonesia” itu adalah bagaimana menerima secara lapang dan terbuka realitas keindonesiaan yang sangat majemuk ini, betapa tidak mudahnya membingkai Indonesia, dan Muhammadiyah berhutang kepada masa depan untuk menjadi aktor utama dalam mengupayakan itu.

“Apakah karena cara pandang seperti itu Buya kemudian sering keluar dari opsi-opsi politik mainstream “umat Islam”, seperti mendukung Ahok misalnya….?” Sergap saya dengan tanya.

Buya terdiam sejenak….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s