Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif (5)

13434780_1057852370929203_2704323686279030669_n

“….. wa in min ummatin illaa khalaafiihaa nadziir..” (…dan tidak ada suatu ummatpun, melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan).

Ayat ini, dan penjelasan yang diberikan Hamka dalam tafsir al-Azhar itu, sangat memukau Buya Syafi’i. Dia tidak bisa menyembunyikan kekagumannya tentang bagaimana luasnya pandangan dan wawasan Hamka ketika memberikan penjelasan tentang pengertian “Nadzir”. Hamka, dalam pandangan Buya, telah memberikan pemahaman yang sangat humanis dan universal, bahwa istilah nadzir dapat ditujukan kepada pemuka-pemuka agama di luar Islam, misalnya tokoh-tokoh seperti Kong Hu Chu, Lao Tze, ataupun Shidarta Gautama. Mereka itu adalah “nabi” bagi ummatnya. Bahkan para filosof Yunani Kuno yang bermunculan sebelum diutusnya nabi Isa, semisal Thales, Socrates, Plato, Herakleitos, Aristoteles dan lain sebagainya itu, dengan penuh hormat juga dikategorikan Hamka sebagai para “nadzir” bagi masyarakat bangsanya.

Apa yang dikatakan Buya itu tentu bukan hal yang baru, apalagi pandangan itu merujuk kepada salah seorang ulama legendaris Muhammadiyah sekelas Hamka. Para da’i dan muballigh tentu juga sudah membaca itu, tetapi kenapa hal itu tidak dipahamkan kepada masyarakat umat secara terbuka. Dalam pengamatan saya paling tidak ada tiga penyebabnya. Pertama, pemahaman seperti itu “aroma” liberal dan spirit pluralisme terasa menyengat kuat, sehingga terbersit ucap dalam hati, biarlah pandangan itu tenggelam dalam teks-teks yang diam, bila perlu jangan sampai ia menjadi buah bincang dalam kajian-kajian.

Kedua, ada kekhawatiran yang besar bahwa sekiranya pendapat seperti itu dibahas dalam majelis-majelis terbuka seperti di mesjid dan mushalla maka kegaduhan dan kontroversi tak akan terelakkan, bahkan kekokohan umat terhadap tauhid Islam diyakini akan goncang. Ketiga, khawatir tidak mampu melepas tanya jika dikejar dengan berbagai soal berkaitan hal-hal yang demikian. Padahal pandangan seperti itu perlu didalami untuk menciptakan suatu pemahaman yang manusiawi bahwa eksistensi kita dan keberadaan orang lain di luar “kita” adalah “by design” oleh yang Maha Merencanakan.

Jadi, dalam konteks itu, apa yang ditegaskan Buya bukanlah hal yang baru. Dia sudah menjadi pembahasan yang kuno. Yang baru adalah pemahaman kita, yang terkadang terasa bergerak mundur terlalu jauh sehingga tersangkut di zaman pra Islam.

“… setelah menjadi “pembaca besar”, kalian harus menjadi pribadi-pribadi yang pandai “bergaul”. Beberapa hari lalu, saya didatangi oleh sekelompok Bikhu (pemuka agama Budha), mereka menjadi tamu istimewa saya….”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s