Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif (4)

Menjadi “pembaca besar” dalam pandangan Buya adalah menjadi individu yang mampu menyerap dan memahami berbagai pandangan dan ide dari manapun asalnya, dan menafikan sama sekali latar belakang penulis buku-buku yang dibaca, baik etnis, budaya, ideologi maupun latar belakang keyakinannya. “… dengan cara itu, kalian dapat mengembara dan menyelami alam pikiran orang lain dengan pretensi positif dan terjauh dari sikap apriori…” ujar Buya melengkapi.

Buya kemudian menyampaikan keprihatinannya terhadap gejala lemahnya semangat untuk melakukan “pengembaraan intelektual” yang terjadi di kalangan orang-orang muda ketimbang semangat untuk bermain di dunia politik praktis. “kita sudah kebanyakan para politisi, dan kekurangan para pemikir yang jernih dan menginspirasi masyarakat bangsanya” tukas Buya.

Buya kemudian menyatakan kekagumannya kepada Hamka yang telah melahirkan karya besar, yaitu tafsir al-Azhar, yang membuat Hamka diganjar gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Buya lalu mengutip beberapa ayat dengan bacaan yang sangat baik dan dengan hafalan yang kuat, lalu menjelaskan bagaimana Hamka memberikan tafsiran yang sangat maju dan mendorong pembacanya untuk berpikir lebih mendalam dan terbuka.

Di antara yang membuat kagum Buya Syafi’i terhadap Buya Hamka, adalah dalam hal keluasan Hamka ketika menafsirkan surat Fathir ayat 24. Buya Syafi’i kemudian mengingat dan lalu membacakan ayat itu dengan hati-hati…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s