Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif (3)

Ada sementara kalangan yang tidak habis mengerti dengan pikiran dan tindakan Buya belakangan ini, terutama semenjak tidak lagi menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, kalangan tersebut beranggapan bahwa Buya sudah tidak lagi berpihak pada kepentingan “umat Islam”, di antara argumen yang diajukan untuk membenarkan pendapat itu adalah kecenderungan Buya yang seolah-olah lebih dekat pada sebuah Parpol yang tidak berazaskan Islam, dalam hal ini PDIP. Ditambah lagi dengan pikiran-pikiran Buya yang terasa sangat kritis terhadap Islam dan kaum muslimin, akibat dari yang terakhir ini bahkan Buya dituduh telah menjadi seorang liberalis, bahwa pikiran dan tindakannya tidak lebih dari sekedar menjalankan agenda ‘asing’ untuk menciptakan kegaduhan dalam tubuh umat Islam di Indonesia.

Serangan kepada Buya itu bahkan lebih dahsyat terjadi di kampungnya sendiri, ranah Minang nan tacinto. Ada pihak-pihak yang tanpa malu mengatakan bahwa orang tua ini sudah didik, pikun. Dia tidak pantas disebut Buya, dia lebih pas dipanggil “Buaya”.

Hal ini saya sampaikan kepada Buya, bahwa di luar sana sudah terjadi kontroversi yang berlebihan akibat pikiran-pikiran dan tindakan Buya, bahwa ada serangan-serangan verbal dari berbagai kalangan umat Islam, tidak terkecuali dari kalangan lingkaran dalam Muhammadiyah sendiri.

“…. Saya tahu itu, tapi saya kan bukan orang yang pertama mengalami perlakuan seperti itu di negeri ini. Fazlurrahman, Guru saya di Chicago, bahkan mengalami keadaan yang lebih parah lagi, dia dan keluarganya diminta meninggalkan negerinya sendiri Pakistan akibat pemikirannya dianggap “nyleneh” dan terasa menohok ide-ide ‘mainstream’ keislaman yang dianggap sudah selesai. Jadi, jika dibandingkan dengan apa yang dialami Rahman, saya ini masih jauh lebih aman….” Tukas Buya dengan nada yang agak meninggi.

Yang sering terjadi memang demikian, sudah sejak lama kaum muslimin, tidak terkecuali di Indonesia, mudah sekali memberikan stigma kepada sosok intelektual yang punya pandangan “baru” dan dianggap berseberangan dengan ortodoksi yang sudah membatu, maka berbagai julukan dengan sangat mudahnya akan disematkan secara permanen dan mengabaikan sama sekali suatu keniscayaan bahwa pikiran terus tumbuh berkembang sebagai respon dari persoalan kehidupan yang juga tidak pernah berhenti pertumbuhan, maka akan dijulukilah sosok-sosok itu sebagai seorang liberalislah, agen asinglah, agen zionislah, sekulerlah dan julukan julukan lainnya secara “menggebyah uyah”. Jangan-jangan, saya yang menulis “kesaksian” ini juga akan diberi julukan juga nanti, entah apa. Mungkin kelompok “Liberal Baru”. Terserah sajalah.

“…. Ada empat hal yang wajib kalian lakukan sebagai orang-orang yang masih muda, agar dapat diterima dalam pergaulan dunia ramai ini secara utuh dan meyakinkan….” Kata Buya selanjutnya kepada kami.

“…Pertama, kalian mestilah menjadi para “pembaca besar……”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s