Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif (2)

Pembicaraan kami berlangsung begitu bebasnya, saling sela menyelalah antara kami dengan Buya. Salah seorang di antara kami bahkan menyampaikan rasa agak kagetnya, kok bisa diskusi itu berlangsung begitu lama dan sangat inspiratif padahal dari awal Buya terlihat agak “dingin” tetapi itu hanya berlangsung beberapa menit saja, setelah itu Buya seperti ingin menumpahkan isi kepalanya kepada kami.

“Orang Minang itu tipikalnya seperti itu ya, pandai mancukia2 nan tahandok, belum senang hatinya kalau semuanya belum terbongkar” Kata Anggun dalam perjalanan pulang seusai diskusi itu. Saya kira Anggun mungkin benar juga, tapi lebih dari itu adalah kebanggaan Buya terhadap anak-anak muda progresif yang mau berpikir dan berbuat untuk masyarakat adalah sebegitu besarnya sehingga dorongan dan spirit yang dia tularkan juga begitu kuat terasa.

Tidak semua isi pembicaraan itu bisa dipublikasikan, apalagi jika itu menyangkut pandangan subyektif beliau terhadap beberapa sosok penting di negeri ini. Buya sendiri tidaklah memberi isyarat kepada kami bahwa ini boleh disampaikan ini tidak, tapi kami merasakan sendiri bahwa cukup banyak bagian-bagian dari diskusi itu yang bersifat “off the record”

jika dikelompokkan, diskusi itu menyangkut empat tema besar, yaitu persoalan-persoalan Keislaman, Kemuhammadiyahan, Keindonesiaan dan Keminangkabauan. Jika persoalan-persoalan itu dibeberkan secara serius dalam media yang terbatas ini tentulah tidak memadai. Tapi mungkin hanya beberapa “main ideas” saja yang dapat dibincangkan dalam teras media sosial ini.

Buya tengah begitu seriusnya menyampaikan kepada kepada kami tentang betapa penting membaca. Tiba-tiba beliau berdiri, “tunggulah, saya akan berikan pada kamu semua sebuah buku” katanya. Saya ikut berdiri dan kemudian mengikuti langkahnya menuju perpustakaan di ruang belakang, karena saya menduga buku yang akan diambil itu berjumlah banyak sehingga tak bisa sekali bawa oleh Buya, saya berinisiatif membantunya, “tidak usah, biar saya sendiri, duduk sajalah…” kata Buya kepada saya, saya kembali duduk, sejenak kemudian Buya kembali dengan membawa tiga buah buku tebal untuk diberikan pada kami.

“….ini buku terakhir yang saya tulis, bacalah sampai habis. Seorang da’i haruslah banyak membaca, kalau tidak ingin anda ditinggalkan dan digilas roda zaman…” Demikian Buya memprovokasi kami, sambil menyerahkan buku-buku itu pada saya…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s