Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif (Part 1)

Persis sebulan lalu, tepatnya hari Minggu 09/05/16, saya mendapat waktu luang yang sangat berharga untuk bersilaturrahim ke kediaman Buya Syafi’i Ma’arif di komplek perumahan Nogotirto 2 DI Yogyakarta.

Sebenarnya silaturrahim itu bukanlah kegiatan utama, tapi ia bersifat suplemen dari serangkaian aktivitas yang sudah dilakukan sejak 5 hari sebelumnya. Namun saya mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk dapat bertemu dengan Guru Besar Sejarah dan Ketua Umum PP Muhammadiyah pasca Amin Rais itu.

Keinginan itu didasari dua hal, yaitu mencari kesempatan untuk dapat menyauk “ilmu dan hikmah” dari salah seorang murid kesayangan Fazlurrahman di Universitas Chicago itu, dan yang tidak kalah pentingnya adalah untuk mengkonfirmasi ataupun mengklarifikasi (tabayyun) berbagai pemikiran, pandangan dan tindakannya yang sering menimbulkan kesalahpahaman dan kontroversi di tengah-tengah masyarakat, termasuk kalangan internal Muhammadiyah.

Sehari sebelumnya saya bersama tiga orang sahabat sudah datang ke tempat Buya menjelang sore, tapi kami hanya bertemu dengan Ibu, istri Buya. Ibu menjelaskan bahwa Buya masih dalam perjalanan dari Istambul Turki dan baru saja landing di Bandara Soetta untuk transit menuju Yogya.

“… sebaiknya besok pagi sajalah datang lagi, mudah-mudahan Buya bisa istirahat sepenuhnya malam ini, beliau tentu sangat lelah, nanti ibu sampaikan ke Buya, kalau ananda sudah jauh-jauh ingin bertemu…” Kata Ibu dengan bahasa Minang medok. Ibu masih kelihatan lincah dan sehat, sekalipun seluruh rambut di kepalanya terlihat sudah memutih.

Pada Minggu pagi itu, ditemani dua orang anak muda Minang yang hebat yaitu Anggun Gunawan (Pendiri dan Presiden Direktur Gre-Publishing) dan Ahmad Lahmi (Kandidat Doktor di UIN Sunan Kalijaga), kamipun kembali bergerak menuju kediaman Buya. Dalam perjalanan Buya mengirim pesan singkat ke saya yang intinya mengatakan bahwa beliau masih sangat lelah dan minta supaya kami kembali besok saja setelah kesegaran Buya pulih kembali.

Bagaimana akal lagi, tiket pesawat sudah diambil, berangkat pukul 14.30. Tak mungkinlah kembali besok, karena tentu sudah berada di Padang. Kepada kawan-kawan itu saya katakan, “Maju terus, paling tidak kita menagih janji ibu, apapun hasilnya nanti berlapang dada sajalah kita…”. Kami terus merayap, dan akhirnya sampailah kembali ke rumah pendiri Ma’arif Institute itu.

Dari balik pagar kami meneriakkan salam sambil memanggil-manggil ibu terus menerus. Akhirnya terdengarlah suara melengking:

“Siapa…?” Lengkingan ibu itu.
“Kami bu, anak-anak dari Padang” Sahut saya.
“Masuk dari pintu depan ya….! Teriak ibu kemudian. Maka kami berempat, satu lagi Syamsurizal (sekretaris Majlis Tabligh PWM Sumbar), bergegas dari pintu gerbang samping ke pintu pagar depan. Ibu membuka pintu pagar, pintu ruang tamu, mempersilahkan kami masuk dan duduk menunggu Buya keluar.

Tidak berapa kemudian, muncullah Buya. Matanya masih kelihatan sembab, karena kecapean dan baru saja bangun tidur, namun jalannya masih terlihat berdiri tegap dan tegak untuk ukuran usia 80-an. Kami semua berdiri dan bersalaman dengan beliau.

“Sebenarnya saya masih sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari Turki semalam, tapi karena kalian ini orang muda yang gigih, yang “memaksa” saya untuk bertemu, apalagi kalian juga menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke sini, maka saya kehilangan alasan untuk tidak menerima kalian…” Begitu kira-kira ucap Buya setengah berseloroh.

Saya kemudian melirik ke jam dinding di ruang tengah, sudah pukul 09.10. Ada waktu yang cukup lumayan untuk berdiskusi. Saya mengawali dengan menanyakan perihal keadaan Buya…
Setelah itu, diskusipun mengalir begitu saja…

Advertisements

One thought on “Penyesalan Buya Syafi’i Ma’arif (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s