Bersyukur

Adalah suatu hal yg selalu saya syukuri, sekalipun hanya berbekal ilmu yg sangat sedikit dan kelemahan diri yg teramat banyak, tapi Tuhan telah memberikan amanah kpd diri yg faqir ini untuk mengambil bagian dalam mempersiapkan anak2 bangsa merebut dan meraih masa depannya.

Sudah 18 tahun amanah itu dijalankan, telah silih berganti pula tempat dan keadaan yg ditemukan, tapi ada satu hal yg tak pernah berganti yaitu kegembiraan yg selalu hadir setiap kali bertemu dengan para pemilik masa depan itu.

Setiap bertemu dengan wajah2 baru dan lugu di awal tahun ajaran, selalu terasa seperti sebuah perayaan. Kegembiraan yg mereka rasakan, karena sudah melangkah ke dunia Perguruan Tinggi, bertaut sepadan dengan kegembiraan yg saya rasakan. Kesegaran, kepolosan, antusiasme dan tingkah polah orisinil mereka selalu menjadi hiburan dan kesenangan tersendiri pada setiap awal pertemuan.

Maka bertumbuhlah mereka dalam waktu yg tersedia, dan akan berlangsunglah teori tentang seleksi alam. Yang sungguh2 dan sepenuh hati akan berlari cepat melesat, sementara yg diliputi kegalauan dan penuh keraguan dalam melewati masa transisi bahkan mengalami disorientasi, akan segera tertinggal dan tak jarang mengambil keputusan, yg tidak bisa dikatakan jelek, kembali pulang.

Sering disela2 perkuliahan, secara berseloroh saya mengatakan pada anak2 itu:

“…. daripada anda membuang2 masa di kampus ini, lbh baik pulang kembali ke kampung. Belilah jawi (sapi) betina, peliharalah, beri makanan yg banyak agar setahun lagi ia beranak, dan semoga anaknya kembar empat….”

Memang demikianlah jadinya anak-anak itu, dedikasi dan spirit mereka adalah kata kuncinya, walaupun bimbingan, pengajaran dan sentuhan kemanusiaan dari para dosennya, tentu tidak kalah pentingnya

Kegembiraan lain yang tak kalah serunya adalah ketika anak2 itu menyampaikan curhatannya, baik gayanya maupun buah ucap yg disampaikan. Ada yg curhat sambil senyum cengengesan, ada yg nyinyir tak ketulungan bahkan ada yg sambil nangis sesenggukan. Biasanya pada yg terakhir ini sering saya katakan:

“…. Apa yg membuat kamu menangis, seberapa berat persoalanmu, suami/istri belum punya, apalagi anak yg harus dipikirkan juga tak ada, jangan merasa persoalanmu lbh berat dibanding yg lain, semua orang punya persoalan yg masing2nya punya tingkat kesulitan yg berbeda, fokuslah pada studimu, selesaikan, dan abaikan masalah2 yg tak relevan…..”

Jika semua pekerjaan yg baik itu adalah ibadah, maka bekerja sebagai pengajar dan pendidik adalah salah satu ibadah terbaik. Bahkan dijanjikan pahala yg selalu mengalir atas ilmu yg bermanfaat yg pernah diajarkan itu…

Alhamdulillah
Terima kasih atas amanah dan ujian hidup yang telah Engkau berikan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s