PARA PENDIDIK YANG TIDAK PERNAH TIADA

Ada KH. Ahmad Dahlan
Persyarikatan Muhammadiyah yang dia wariskan telah tegak di lini terdepan dalam mencerdaskan dan mencerahkan bangsa melalui dunia pendidikan. 13.951 sekolah, dari TK hingga SMU/SMK. 176 Perguruan tinggi, beberapa di antaranya sudah ‘go international’. 102 Pesantren, yang tak henti memasok calon2 pemimpin bangsa dan penerang umat.
Semoga Tuhan Menyayanginya

Ada KH. Hasjim Asy’ari
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang dia dirikan, tidak bisa dipungkiri, telah pula menanam investasi besar dalam menciptakan kader-kader umat dan bangsa melalui dunia pendidikan. Ribuan pesantren di berbagai wilayah Indonesia cukup menjadi buktinya
Kiranya Tuhan Menyayanginya juga.

Demikianlah pula, ada Ki Hajar Dewantara
Berkat ide2 bernasnya, lahirlah Taman Siswa.
Pandangan-pandangan hebatnya dalam dunia pendidikan, tidak akan bisa dibantah siapapun jua. Kesadaran akan pentingnya kecerdasan dan Kemerdekaan berpikir yang dia teriakkan, telah berperan luar biasa dalam mengantarkan dan mencapai Indonesia Merdeka.
Semoga dia tenang di sisi Tuannya

Begitulah pula rupanya, Muhammad Natsir, Sang Pahlawan Nasional yang paling dihormati bangsa2 Islam, ketika dia berkata:
“Pendidikan adalah jalan pintas untuk merubah nasib…” Kata-kata yang sangat banyak menginspirasi anak bangsa, dari wilayah mana saja, dengan kondisi dan kesulitan hidup bagaimana saja…
Kiranya Tuhan mengampuni dan menyayanginya pula

Dengan bercermin pada Spirit dan Keteladanan para Inspirator dan Guru bangsa itu, maka tidak ada pernyataan yang paling utama pada hari ini selain SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 Mei 2016…..

 

Advertisements

3 thoughts on “PARA PENDIDIK YANG TIDAK PERNAH TIADA

  1. Seakan pendidikan tidak hanya soal pintar

    Jika kita lihat bagaimana negeri ini dipenuhi dengan kemelut aksi-aksi radikal yang condong akan arah yang negatif. Dilihat dari banyaknya pemberitaan tentang anak di bawah umur yang melakukan tindak asusila terhadap anak seumurnya yang dilakukan secara keroyokan. Juga ada anak di bawah umur yang masuk kedalam lingkup terorisme yang tertangkap di poso. Dulu ketika kita bicara tentang pendidikan kita tidak pernah lepas akan pembicaraan prestasi, dimana anak bangsa misalnya, Moh. Hatta yang mengejar pendidikan yang tinggi hingga ke belanda dan membuat organisi untuk pulang dan mempertahankan bangsa dari para penjajah yang tak pernah habisnya menguras energy Indonesia saat itu.

    Teriris rasanya jika tokoh pendidikan kita KH. Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara dan yang lainnya melihat kondisi pendidikan yang terombang ambing akan kurangnya budi pekerti. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.” (UU NO 20 tahun 2003, pasal 3). Pendidikan yang berlandaskan karakter pancasila yang di canangkan dan digembar-gemborkan sekarang ini seakan membuat kita sadar kenapa pada akhirnya kita mengarah kesana, “ya budi pekerti yang sedang kurang dalam pendidikan kita”.
    Harapannya agar pendidikan ini kembali melahirkan prestasi juga tokoh baru sebagai model seperti halnya para pejuang pendidikan kita, agar pendidikan kembali menunjukkan eksistensinya dan membawa negeri ini menuju cita-citanya.

    By_UMMI SHALMI

    Like

  2. Seakan pendidikan tidak hanya soal pintar

    Jika kita lihat bagaimana negeri ini dipenuhi dengan kemelut aksi-aksi radikal yang condong akan arah yang negatif. Dilihat dari banyaknya pemberitaan tentang anak di bawah umur yang melakukan tindak asusila terhadap anak seumurnya yang dilakukan secara keroyokan. Juga ada anak di bawah umur yang masuk kedalam lingkup terorisme yang tertangkap di poso. Dulu ketika kita bicara tentang pendidikan kita tidak pernah lepas akan pembicaraan prestasi, dimana anak bangsa misalnya, Moh. Hatta yang mengejar pendidikan yang tinggi hingga ke belanda dan membuat organisi untuk pulang dan mempertahankan bangsa dari para penjajah yang tak pernah habisnya menguras energy Indonesia saat itu.

    Teriris rasanya jika tokoh pendidikan kita KH. Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara dan yang lainnya melihat kondisi pendidikan yang terombang ambing akan kurangnya budi pekerti. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.” (UU NO 20 tahun 2003, pasal 3). Pendidikan yang berlandaskan karakter pancasila yang di canangkan dan digembar-gemborkan sekarang ini seakan membuat kita sadar kenapa pada akhirnya kita mengarah kesana, “ya budi pekerti yang sedang kurang dalam pendidikan kita”.
    Harapannya agar pendidikan ini kembali melahirkan prestasi juga tokoh baru sebagai model seperti halnya para pejuang pendidikan kita, agar pendidikan kembali menunjukkan eksistensinya dan membawa negeri ini menuju cita-citanya.

    By_UMMI SHALMI

    Like

  3. Seakan pendidikan tidak hanya soal pintar

    Jika kita lihat bagaimana negeri ini dipenuhi dengan kemelut aksi-aksi radikal yang condong akan arah yang negatif. Dilihat dari banyaknya pemberitaan tentang anak di bawah umur yang melakukan tindak asusila terhadap anak seumurnya yang dilakukan secara keroyokan. Juga ada anak di bawah umur yang masuk kedalam lingkup terorisme yang tertangkap di poso. Dulu ketika kita bicara tentang pendidikan kita tidak pernah lepas akan pembicaraan prestasi, dimana anak bangsa misalnya, Moh. Hatta yang mengejar pendidikan yang tinggi hingga ke belanda dan membuat organisi untuk pulang dan mempertahankan bangsa dari para penjajah yang tak pernah habisnya menguras energy Indonesia saat itu.

    Teriris rasanya jika tokoh pendidikan kita KH. Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara dan yang lainnya melihat kondisi pendidikan yang terombang ambing akan kurangnya budi pekerti. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.” (UU NO 20 tahun 2003, pasal 3). Pendidikan yang berlandaskan karakter pancasila yang di canangkan dan digembar-gemborkan sekarang ini seakan membuat kita sadar kenapa pada akhirnya kita mengarah kesana, “ya budi pekerti yang sedang kurang dalam pendidikan kita”.
    Harapannya agar pendidikan ini kembali melahirkan prestasi juga tokoh baru sebagai model seperti halnya para pejuang pendidikan kita, agar pendidikan kembali menunjukkan eksistensinya dan membawa negeri ini menuju cita-citanya.
    By_UMMI SHALMI

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s