CINTA TAK TERUKUR

Pagi ini saya mengantarkan anak ke sekolah
momen ini selalu terasa spesial, sepanjang jalan mereka bernyanyi sambil bergelut ringan, kakak dan Adek, dua putri kinasihku kelas VI dan kelas 2 SD. Candaan mereka seperti denyutan pada HP yang sedang di-charge, menyalurkan energi, memberikan kekuatan hidup yang tiada henti.

Kuhantarkan mereka hingga ke halaman sekolah, keduanya merapikan posisi tas punggungnya yang terkadang kelihatan berat dipikulannya. Kedua putri ini kemudian meraih tangan ayahnya, bersalaman dan mencium tangan ini, sebuah ritual pagi yang terasa menjadi klimaks dari suatu rangakaian peristiwa yang sudah diawali dari momen yang saya sebut sebagai “kegaduhan subuh”.

Setelah bersalaman itu, tak lupa saya usap kepala keduanya, dan tak pernah lupa mengingatkan, “hati-hati bermain nak, dan jangan jajan sembarangan….!”
Jawaban keduanya juga sudah standar, “Iya ayaah…!” dengan memberikan “mad ashli” yang panjangnya “dua harakat” pada huruf “a” yang terakhir.

Mereka kemudian segera masuk kelas, saya belum akan beranjak sebelum keduanya hilang ditikungan pintu kelas masing-masing. Seringkali terjadi, termasuk pagi ini, mata ayah dari kedua anak ini berkaca-kaca ketika memperhatikan langkah-langkah dua putrinya itu bergegas memasuki kelas.

Sepanjang perjalanan kembali pulang, tak henti membisik doa di dada, “Ya Tuhan, jauhkanlah kedua putriku itu dari segala marabahaya, Engkaulah Yang Maha Menjaga, Maha Memelihara. Apalagi yang dapat dilakukan, selain bersandar kepada Sang Maha Pemberi Keselamatan…

Demikianlah kecintaan kepada anak yang tak terpermanai…
Kecintaan yang tak terukur karena tak berbatas. Kecintaan yang sudah merentang begitu panjang dalam cerita-cerita manusia dengan segala ragamnya, sejak cerita Qabil dan Habil, anak Adam dan Hawa, yang berakhir dengan malapetaka, hingga cerita anak-anak Ibrahim Sang Nabi yang mewariskan keluhuran nilai-nilai agama dan membangun pondasi bagi keadaban manusia.

Sejak cerita Kan’an yang durhaka terhadap nilai spiritualitas yang dibawa Nuh ayahnya, hingga cerita Yahya, seorang anak yang bersedia menjadi martir dan mewakafkan kehidupannya demi keberlanjutan perjuangan yang telah dirintis ayahnya, maka banggalah Zakariya….

Inilah kiranya yang menjadi penyebab mengapa Tuhan dalam Kitab Suci-Nya itu mengingatkan tentang dua kemungkinan ‘spesies’ anak-anak tersebut. PERTAMA, anak-anak itu bisa menjadi “Qurrata A’yun” (Keindahan bagi mata tatkala memandangnya). Keindahan dalam memandang itu tidak hanya terjadi ketika mereka berusia kanak-kanak saja, tapi juga hingga dewasanya. Bedanya. ketika usia kanak-kanak, mereka menjadi penyejuk mata karena tingkah polahnya yang menghibur, menyenangkan sekaligus menggemaskan, tidak ada kelakuan mereka yang membuat orang tua pantas marah, karena semua berlangsung penuh keceriaan, kepolosan, kebeningan dan tanpa sedikitpun pretensi.

Demikian pula ketika dewasa, mereka tetaplah “Qurrata a’yun”, yaitu karena peran mereka dalam kehidupan yang memberikan kebanggan bagi orang-orang terdekatnya, terutama bagi kedua orang tuanya, inilah yang mungkin menjadi rahasia mengapa Ibrahim Sang Nabi meminta dua hal kepada Tuhannya perihal anak-anak, yaitu jadikan mereka “Qurrata a’yun” itu tadi, dan jadikan mereka pemimpin bagi masyarakatnya, “Pemimpin” dalam pengertian yang tidak terreduksi oleh makna-makna yang politis-hierarkhis.

KEDUA, sebaliknya anak-anak dapat menjadi musuh bagi orang tuanya, dalam Kitab suci itu dibahasakan dengan eksplisit sekali yaitu “… aulaadikum ‘aduwwallakum..” (anak-anakmu -bisa- menjadi musuhmu). tentunya pengertian musuh sangatlah luas dalam konteks ini. Ketika kanak-kanak mereka tetaplah Qurrata a’yun, tetapi tatkala dewasa, mereka seperti arloji dengan sang penciptanya, tak terkendali, membuat kecemasan dan ketakutan bagi keluarganya, alih alih “mandiri” dalam kehidupan, sebaliknya malah menjadi beban lahir batin bagi segenap orang yang ada di sekitarnya….

Saya sudah sampai kembali di rumah, bersiap-siap untuk segera pergi ke “sawah”, tiba-tiba sang Bunda berujar, “si kakak Senin pagi ini olahraga di sekolah, baju treningnya ketinggalan……” Dengan segera saya antarkan baju trening itu ke sekolah yang berjarak 3.5 km dari rumah.

“Terima kasih ayah…” kata si kakak yang melongok di pintu kelasnya, dan sejurus kemudian kembali ke tempat duduknya semula, bangku barisan paling depan…

Saya berbalik bergegas, sambil menoleh ke seantero halaman sekolah yang basah karena sepanjang malam diguyur hujan, tiga ekor merpati terlihat mengemasi sisa2 makanan di halaman beton itu, mereka sambil bergelut riang, mereka adalah keluarga…

Advertisements

One thought on “CINTA TAK TERUKUR

  1. Memang bukan ayah yang mengandung, tapi cintanya tak kalah besar dengan cinta seorang Ibu.Dari luar tak jarang kelihatan cuek,namun Ia punya rasa sayang yang luar biasa untuk orang yang di sayang,rasa berkorban yang kuat dan kesabaran yang tiada habisnya dalam menghadapi setiap tingkah polah buah hatinya.Ayah,tak akan secerewet dan sebawel ibu dalam hal mengasihi buah hatinya karena ia punya caranya sendiri dalam memberikan perhatian pada anak anak nya.Ayah,Ia mampu memberikan kenyamanan sekaligus keamanan pada buah hatinya. Saat bersamanya ,kadang saya merasa di puncak dunia,dia rela memberikan apapun yang dia punya.Dia penjaga dari segala jenis ancaman dan selalu punya cara dalam menunjukkan kasih sayangnya.
    Ayah,ia merupakan salah satu anugrahTerindah dalam Hidup,Karena Hal-hal terindah di dunia ini terkadang tak bisa terlihat dalam pandangan atau teraba dengan sentuhan,mereka hanya bisa terasakan dengan hati.Ayah,Ia lelaki pertama yang berhasil membuat ku menjadi seorang yang berharga di dunia ,karena dengan caranya yang berlaku seadanya dan apa adanya.Memandang matanya yang sayu,namun menyimpan kekuatan yang tak pernah pudar ternyata memotivasiku untuk terus melangkah menjalani proses hidup yang tak selalu mulus dan lurus ini. Untuk saat sekarang mungkin jarak memang menjadi pemisah diantara kita Yah,tapi BEBERAPA TAHUN lagi(Aamiin) jarak bukan lagi alasan untuk kita tak bertemu dan kembali bersama Yah …
    Cintanya mungkin memang tak sepanjang jalan ,tapi nama nya selalu ada dalam doa dan harapan…
    (Halfi Hasanah/1302084/Pendidikan Sejarah)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s