INI SALAH SATU AKARNYA…

Dalam suatu kala yang sudah cukup lama, sekitar awal tahun 1993
Dalam sebuah diskusi dan “Pengkajian”
bersama Prof. AM. Saefuddin

Dia bercerita tentang pengalamannya diundang memberikan “Pengajian” di sebuah Perusahaan Besar di sekitar kawasan Jabotabek. Ketika sampai di lokasi, dia disambut dengan begitu hangatnya oleh kerumunan orang yang berpakaian seragam. Sejenak ia perhatikan seragam itu, ternyata ia sedang berada di tengah-tengah kawasan industri yang cukup besar, yang memproduk berbagai jenis BIR.

Kerumunan orang-orang, yang sejatinya adalah karyawan pabrik bir itu, membawa Pak AM ke mesjid yang cukup besar dan megah dengan arsitektur bergaya Timur Tengah. Pak AM kembali cukup kaget, karena ternyata mesjid itu bernama Mesjid AL-BIRR (tentunya makna BIR dan AL-BIRR sangat bertolak belakang)

Kami semua yang hadir tertawa, Pak AM juga begitu. Namun tawa itu mengandung gundah dan lara. Pak AM tercekat, ia berhenti agak lama. Semua yang hadir juga terdiam cukup lama. Pak AM kemudian menceritakan “curhatan” dari pimpinan kegiatan pengajian itu, ia mengatakan bahwa hampir 3000 jumlah karyawan di pabrik tersebut, 97 persennya adalah muslim dan setiap pengajian hampir semuanya hadir membludaki Al-Birr.

“Dengan pengajian-pengajian ini, rata-rata kami sudah punya pemahaman dan kesadaran Pak, bahwa kami tidak boleh bertahan bekerja di sini, kami harus segera keluar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih nyaman, sesuai dengan nurani dan keyakinan kami. Sekiranya ada yang menjaminkan itu untuk kami semua, hari ini kami keluar dari pabrik ini Pak……!” tukas koordinator pengajian itu pada Pak AM…..

Pak AM terperangah, sebagaimana terperangahnya kita semua. Berbagai pertanyaan melintas dalam pikiran ketika pagi ini saya teringat dengan majelis bersama Pak AM itu. Itu adalah kondisi obyektif Muslim di republik ini, sejak dulu hingga kini belum banyak berubah.

Orang-orang yang merasa sudah berada pada level “Intelektual, Pemikir ataupun Cendikiawan Muslim” jangan diharap banyak untuk memikirkan dan mencari solusi terhadap masalah yang dianggap “remeh temeh” ini. Itu masalah yang terlalu kecil, ketimbang persoalan-persoalan politik, pergantian kekuasaan, perebutan posisi2 strategis dalam pemerintahan, posisi2 dalam Partai politik, intrik2 untuk menelikung kawan…….

Rasanya, jika membandingkan antara kondisi obyektif mayoritas umat Islam dengan kelakuan para tokoh yang “merasa” sudah berada pada barisan Intelektual, Pemikir dan Cendikiawan itu, kok rasanya seperti membandingkan makna BIR dan AL-BIRR itu….

Wallahu A’lam bissawab

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s